Pujangga Tua Tidak Lagi Puitis
Setelah menikah jadi kurang puitis-puitis lagi ~.~, ditagih-tagih terus ama istri puisi-puisinya
. Akhirnya saya menyimpulkan rupanya jomblo itu mendorong seseorang untuk jadi seorang pujangga, dengan kesendiriannya, kemeranaannya maka dia mudah mengungkapkan isi hatinya yang sembilu (no offense) hehe.
Alasan-alasan suami yang sudah menikah tidak lagi puitis dan romantis :
- Pusing mikirin kerjaan dan kebutuhan rumah tangga… [istri: ah standar...]
- Tidak lagi galau
… [istri:wew...] - Duh sayang sudah terlambah kerja….[istri:huh!]
- Aku tak akan berhenti…menemani…dan menyayangimu…[istri:ah lagunya wali itu]
- Untuk apalagi puisi sayang, kau kan sudah disampingku… sini-sini
[istri:klepek2]
Bahwa sebaik-baik lelaki atau suami adalah berbuat baik pada istrinya.(HR:Imam Tirmidzi & Ibnu Hibban)
Deep Thinking vs Thinking Fast
Artikel ini berkaitan juga dengan postingan lama mengenai kerangka berpikir, yang katanya bahasanya membulet
. Oke, balik ke topik ini. Kenapa saya memilih tema ini, karena kedua cara berpikir ini berbeda sekali tetapi sama-sama penting, oleh karenanya penggunaanya diterapkan untuk kasus yang berbeda.
Berpikir mendalam adalah berpikir dengan mengaitkan informasi dan kaitan-kaitannya selengkap mungkin, sedangkan berpikir cepat adalah berpikir yang membatasi konteks informasi yang dilibatkan dan prioritas pertama adalah kecepatan dalam menyimpulkan. Mengapa penting untuk membedakannya? karena keduanya memiliki tujuan yang sangat penting dan harus diletakkan pada posisi-nya yang sesuai.
Berpikir mendalam bertujuan untuk mencari solusi komprehensif dan lebih bersifat perbaikan dengan current solution. Nah pembahasan ini tidak dicukupkan pada definisi tapi harus sampai implementasi. Karena berpikir mendalam mengkaitkan banyak informasi maka tentunya membutuhkan waktu dan konsentrasi yang cukup banyak. Oleh karena itu hal ini tidak dapat dilakukan di tengah rutinitas. Tetapi sayangnya hal ini jarang dilakukan, karena hal ini cukup melelahkan dan durasinya yang tidak bisa diperkirakan. Saya jadi ingat cerita seorang anak IPHO yang baru dapat menyelesaikan persoalan dalam waktu 3 bulan.
Hal yang menjadi koreksi bagi saya juga adalah, jarang sekali kita meluangkan waktu untuk berpikir mendalam. Pertama, karena tuntutan pekerjaan tidak memungkinkan memberi waktu yang cukup untuk berpikir mendalam kecuali para peneliti. Kedua, rasa malas harus meluangkan waktu diluar jam kerja (red:tidak dibayar) untuk memikirkan sesuatu yang serius. Tetapi tanpa adanya ini, maka tidak akan ada terobosan-terobosan baru. Contoh kasus untuk berpikir mendalam adalah, bagaimana mengeluarkan Indonesia dari krisis multidimensi, konsep perbaikan dan tahapan implementasinya? (more…)
Setelah Lama Ngontrak Akhirnya Pindah Rumah
hmmm, judul diatas bukanlah makna denotasi tapi konotatif, ya setelah lama blog ini tidak tersentuh diambil sebuah keputusan untuk memindahkan “sebagian” tulisan ke rumah yang baru. Karena blog ini agak nyampur dalam konteks tulisan, ada yang curhat personal ada juga yang pemikiran serius nah itu membuat blog ini gak tematik. Selanjutnya tulisan-tulisan serius akan diposting di rumah yang baru, blog ini akan berisi tulisan-tulisan ringan saja.
Ketika Sebuah Kebaikan Harus Berbalas
Pagi ini kepala agak pusing karena malam tidur terlalu larut (jam 2 malam), padahal sebelumnya sudah menentukan resolusi agar tidur lebih awal. Sebelum beranjak kepada kode-kode di komputer yang akan membuat kepala ini berkerut saya sempatkan untuk menuangkan pikiran-pikiran yang ada dalam benak di pagi ini.
Judul diatas saya ambil untuk mengkritisi budaya materialistis di tengah-tengah masyarakat yang telah menjadi akidah utama di sebagian kalangan. Kita tentunya sudah tidak aneh dengan pernyataan-pernyataan “ngapain kamu nolongin dia? kan dia orangnya rese, gak ada untungnya juga nolongin dia”, atau dengan pernyataan “emang kamu pernah nolong saya? ngapain saya tolong kamu” dan kalimat-kalimat sejenisnya yang mengungkapkan konsep harus adanya ‘timbal-balik’ dalam tolong menolong.
Mungkin pernyataan-pernyataan diatas terlalu ekstrim, tetapi kita bisa tarik kedalam hal yang lebih halus. Setiap kebaikan dalam masyarakat ini kadang terlalu dikorelasikan dengan sebuah hubungan “saling menguntungkan”, seperti pernyataan “maaf sudah merepotkan, ini uang untuk sekedarnya”. Tidak salah memang, tetapi yang saya garis bawahi disini adalah kecenderungan masyarakat untuk menilai segalanya dari hubungan “kemanfaatan”. Ketika ada suatu permintaan untuk “merepotkan” orang lain, identik dengan balasan tertentu. Padahal bagi seorang muslim hal itu harusnya dilakukan karena keinginannya untuk beribadah kepada Allah SWT.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Abu Huraira RA, Nabi SAW bersabda, ”Barangsiapa melepaskan seorang Mukmin dari kesusahan hidup di dunia, niscaya Allah akan melepaskan kesulitan dari dirinya di hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan (Mukmin) yang sulit, niscaya Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Barang siapa menutup aib seorang Muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu senantiasa menolong saudaranya.”
Inti yang ingin saya sampaikan adalah, seharusnya ketika seorang muslim “direpotkan” oleh permintaan-permintaan orang lain, jangan sampai ada perrasaan merugi telah mengorbankan waktu dan tenaganya untuk memenuhi permintaan itu.
hhmm tulisannya kurang bagus…gak konsen nulis…
Emotion is Greatly Influence to Learning Performance
Kadang saya suka merasa aneh, pada suatu waktu saya sulit sekali memahami apa yang saya baca…diulang lagi terus menerus pun malah membuat saya makin pusing. Pada saat itu bukan materinya yang berat, tapi entah pada saat itu konsentrasi saya seperti pada titik terendah, sehingga materi yang sebenarnya mudah menjadi tidak dapat ditangkap, karena entah pikiran saya terbang kemana. Pada suatu waktu yang agak rileks saya coba mencari apa sebenarnya yang menyebabkan hal tersebut, sampai pada suatu titik saya menyadari sesuatu yang memang tidak terlihat, emosi!
Emosi yang saya sebutkan disini artinya sangat luas, bukan hanya berarti marah tetapi segala perasaan yang sedang dialami oleh kita, baik emosi yang ‘ringan’ atau yang ‘berat’. Emosi bisa berupa bosan, malas, marah, mellow, marah, suntuk, stress, antusias, bersemangat dsbnya. Selain itu ada juga emosi-emosi yang sifatnya lebih ‘abstrak’, seperti rasa inferior, guilty, messy, inconvenience, little anger, jealous dll yang secara tidak sadar mempengaruhi kualitas konsentrasi kita. Tapi jangan anggap emosi efeknya negatif, bisa juga positif terhadap kualitas konsentrasi kita tergantung jenis emosinya.
Coba bayangkan anda belajar pada saat dikejar deadline, atau berpikir pada saat sedang bosan dan jenuh! Contoh itu mungkin terlalu eksplisit, saya akan coba menarik kepada analogi yang lebih ‘mild’. Pada satu waktu yang bersamaan anda memiliki beberapa agenda atau permasalahan, setiap permasalahan meminta untuk diselesaikan secepatnya, bukannya kita jadi fokus pada satu permasalahan, dibenak kita malah muncul emosi (yang saya tidak tau menyebutnya apa yang membuat kita tidak tenang) sehingga membuyarkan konsentrasi akan pekerjaan-pekerjaan yang sedang kita coba atasi. Tapi yang menarik adalah pada satu kasus yang sama respon dari setiap orang bisa berbeda-beda, dan respon emosinya pun berbeda-beda, anda tahu kenapa? Karena setiap orang memiliki mindset yang berbeda-beda atas suatu permasalahan. Mindset itu lah yang men’drive’ emosi apa yang akan keluar.
Information Overload
SourceInternet adalah sebuah gerbang informasi yang jumlahnya luar biasa besar, sampai pada suatu titik dimana kita harusnya ‘aware’ bahwa seberapa banyak informasi yang dapat kita cerna? Zaman sekarang dimana internet sangat mudah diakses, banyak orang mengalami yang namanya sindrom information overload. Sudah lama ingin menuangkan permasalahan ini, tetapi karena sifatnya kasat mata, sindrom ‘information overload’ ini sulit untuk disimpulkan efeknya.
Pada proses berpikir ada satu komponen penting yaitu pencerapan informasi, dengan informasi inilah kita melakukan analisis dan menghasilkan kesimpulan. Pencerapan informasi ini dapat melalui bermacam-macam media, yang pastinya melibatkan alat indra terutama indra penglihatan. Buku, TV, Radio, dan Internet adalah salah satu sumber informasi yang kita serap untuk kemudian digunakan dalam proses berpikir.
Pada era pradigital, sumber informasi utama adalah media cetak dan radio/TV, pada saat itu jumlah informasi masih cukup ‘minim’ dibandingkan dengan rutinitas yang dilakukan. Kemudian datang era internet, digitalisasi bermacam-macam media, sehingga terjadi ledakan informasi. Media cetak seperti buku dan koran mulai tergantikan dengan media internet, dan jumlah informasi yang diciptakan setiap waktunya melonjak dengan drastis. Jika sebelumnya bacaan yang wajib dibaca perhari adalah koran dan sedikit buku, sekarang ‘bacaan’ yang wajib dibaca semakin bertambah walau penting atau tidak, seperti email, blog, facebook wall, twitter, halaman web, pdf paper, ebook, buku cetak, koran….dan banyak lainnya. Rutinitas itu terus berjalan tanpa disadari mulai membuat kita cepat lelah dan kurangnya konsentrasi dalam melakukan sesuatu, atau merasa sibuk tetapi tidak produktif. (more…)
Implementing idea to the real world
Sudah lama tidak meracau….
Ide atau pikiran adalah sebuah benda abstrak yang tidak terlihat yang hanya dapat hidup di dunia pikiran. Pikiran adalah sebuah konsep abstrak yang mensimulasikan suatu adegan dunia nyata. Ide tanpa diimplementasikan dalam suatu kasus nyata tidak akan memberikan efek apapun sehebat apapun ide tersebut.
Kadang sebuah ide bukanlah sebuah hasil pemikiran yang lengkap, sehingga kadang-kadang orang bingung bagaimana mengimplementasikan ide tersebut. Disisi lain ada beberapa orang yang lebih mengedepankan technical approaching dimana dia menangkap ide-ide terdekat yang implementable untuk mencapai ide besar yang telah dipikirkan sebelumnya. Jembatan-jembatan solusi sedikit demi sedikit akan terbuka untuk mencapai tujuan akhir tersebut.
We need a big picture, but it’s same important that we get the technical also. When the technical knowledge achieved the next step that must be acomplished is how to communicate with others, so the other can get the same thing like we see. This is the intense time, we must explain the whole thing, with really clearly. After explaining we must test if that can be doing together, after that we with slowly pace correcting the error that we made with still keep improving the quality of team work.
Start to Write
Judul posting ini sama dengan judul blog, tidak lain untuk mengembalikan semangat menulis yang sedikit demi sedikit terkikis oleh kesibukan. “Start to Write”, suatu kalimat yang simple, tidak ada argumentasi, analisis dan mengandung makna yang satu. Semangat pertama dari pendirian blog ini tidak lain adalah untuk memulai menulis. Banyak motivasi dibelakang pendirian, tetapi inti-nya adalah memulai untuk menulis.
Karena beberapa kesibukan, beberapa ide tidak dapat dituangkan dalam tulisan dan blogpun harus libur selama satu bulan. Tapi rupanya kalimat “start to write” selalu menghantui, kalimat itu seakan mengatakan “tulis aja, saya gak nuntut tulisan kamu bagus, atau berisi, tapi mulailah menulis”….tidak menyesal saya menamai blog ini “Start to Write”. Rupanya hal ini memberikan pelajaran bahwa suatu kalimat yang sederhana tetapi bermakna jelas dan aplikatif lebih appealing dibanding visi yang dalam tetapi sulit mendeskripsikannya.
Sebenarnya ada beberapa topik yang ingin dibahas, diantaranya:
- Media tidak mungkin tidak memihak, Objektif tidak sama dengan memihak
- Inti perubahan masyarakat [sesuai dengan momen pemilu]
- Menulis sebagai terapi, increasing our self concious
- Load balancing activity, thinking, speaking, mechanical activity
- Novice -> Expert, develop R-mode thinking system
- Process Oriented, don’t rush!!!
….mmm setidaknya kalau dah ditulisin ada ‘sedikit’ tanggung jawab pribadi untuk mengimplementasikannya. so…let’s start to write.
Confuse, Melancholic, Rethinking
Je suis confuse lorsque la rationalité est disparu
Emotion conduit ma façon de penser
Mon chemin est acculée le à une Cul de Sac
Au moins en ce moment, je sens être à une humain étant
Force-moi à repenser, est-ce le destiné moyen
Mon âme clignotant vers le passé
Wandering ce qui va arriver à l’avenir
C’est comme si le temps est à l’arrêt cochant
I’m confused when rationality is gone
Emotion leads my way of thinking
My path is cornered on a Cul de Sac
At least at this moment, I feel to be a human being
Force me to reconsider, is this the destined way
My mind flashes to the past
Wandering what will happen in the future
It is as if time has stopped ticking
*Buat ali dan uyun, moga dilancarkan akad & walimahnya
*Semoga sukses buat arif yang besok mau sidang
*Buat teman-teman yang lain, semoga diberi kemudahan tuk semua urusannya
Repositioning of Learning Process
Baru menyadari sesuatu yang cukup penting mengenai proses pembelajaran yang ada di kampus atau sekolah yang sebenarnya cukup kontraproduktif terhadap proses pembelajaran. Kita pasti memahami bahwa setiap orang memiliki kecepatan yang berbeda-beda dalam memahami suatu pelajaran, itu sangat-sangat manusiawi. Tetapi sayangnya hal itu tidak dapat diakomodasi oleh sistem pendidikan kita, yang pastinya menerapkan waktu yang sama untuk satu mata pelajaran / mata kuliah, yaitu satu semester.
Bagi orang-orang yang dapat memahami cepat dalam tenggat waktu tersebut, selamat!!…tapi bagi sebagian yang lain apa yang terjadi? ini yang ingin saya coba bahas. Hal ini semakin menarik perhatian saya karena akhir-akhir ini terlihat banyak siswa yang semakin ‘tertekan’ dengan tuntutan pendidikannya. Fenomena ini dapat kita liat ketika masa-masa UAN dan SNMPTN. Fenomena yang menurut saya sebuah keprihatinan dalam dunia pendidikan yang seharusnya mengedepankan kekritisan, rasa ingin tahu, kreativitas, dan kesenangan dalam sebuah proses belajar, tetapi kini diganti dengan tekanan, ketakutan, tuntutan, nilai, dan konsekuensi.
Dengan metode pendidikan seperti ini kegagalan menjadi sesuatu yang sangat tabu, dan sangat ditakuti, padahal dalam sebuah proses pembelajaran kegagalan merupakan sesuatu yang sangat-sangat normal. Dari kegagalan itulah kita dapat belajar dan mengkoreksi kekurangan-kekurangan kita. Mentalitas pembelajaran yang seharusnya dipenuhi oleh rasa penasaran dan keinginan mencoba sesuatu yang baru terpaksa dipendam demi memenuhi tuntutan-tuntutan yang ada.
Saya gak akan memfokuskan pada hasil pembelajaran dia, apakah lulus cepat atau tidak, lulus baik atau enggak tetapi saya lebih menyoroti hasil dari proses pendidikan ini yang membuat “orang kehilangan tujuan dari proses pembelajarannya, dan mematikan mentalitas pembelajar”…. (more…)
leave a comment