Emotion is Greatly Influence to Learning Performance
Kadang saya suka merasa aneh, pada suatu waktu saya sulit sekali memahami apa yang saya baca…diulang lagi terus menerus pun malah membuat saya makin pusing. Pada saat itu bukan materinya yang berat, tapi entah pada saat itu konsentrasi saya seperti pada titik terendah, sehingga materi yang sebenarnya mudah menjadi tidak dapat ditangkap, karena entah pikiran saya terbang kemana. Pada suatu waktu yang agak rileks saya coba mencari apa sebenarnya yang menyebabkan hal tersebut, sampai pada suatu titik saya menyadari sesuatu yang memang tidak terlihat, emosi!
Emosi yang saya sebutkan disini artinya sangat luas, bukan hanya berarti marah tetapi segala perasaan yang sedang dialami oleh kita, baik emosi yang ‘ringan’ atau yang ‘berat’. Emosi bisa berupa bosan, malas, marah, mellow, marah, suntuk, stress, antusias, bersemangat dsbnya. Selain itu ada juga emosi-emosi yang sifatnya lebih ‘abstrak’, seperti rasa inferior, guilty, messy, inconvenience, little anger, jealous dll yang secara tidak sadar mempengaruhi kualitas konsentrasi kita. Tapi jangan anggap emosi efeknya negatif, bisa juga positif terhadap kualitas konsentrasi kita tergantung jenis emosinya.
Coba bayangkan anda belajar pada saat dikejar deadline, atau berpikir pada saat sedang bosan dan jenuh! Contoh itu mungkin terlalu eksplisit, saya akan coba menarik kepada analogi yang lebih ‘mild’. Pada satu waktu yang bersamaan anda memiliki beberapa agenda atau permasalahan, setiap permasalahan meminta untuk diselesaikan secepatnya, bukannya kita jadi fokus pada satu permasalahan, dibenak kita malah muncul emosi (yang saya tidak tau menyebutnya apa yang membuat kita tidak tenang) sehingga membuyarkan konsentrasi akan pekerjaan-pekerjaan yang sedang kita coba atasi. Tapi yang menarik adalah pada satu kasus yang sama respon dari setiap orang bisa berbeda-beda, dan respon emosinya pun berbeda-beda, anda tahu kenapa? Karena setiap orang memiliki mindset yang berbeda-beda atas suatu permasalahan. Mindset itu lah yang men’drive’ emosi apa yang akan keluar.
Information Overload
SourceInternet adalah sebuah gerbang informasi yang jumlahnya luar biasa besar, sampai pada suatu titik dimana kita harusnya ‘aware’ bahwa seberapa banyak informasi yang dapat kita cerna? Zaman sekarang dimana internet sangat mudah diakses, banyak orang mengalami yang namanya sindrom information overload. Sudah lama ingin menuangkan permasalahan ini, tetapi karena sifatnya kasat mata, sindrom ‘information overload’ ini sulit untuk disimpulkan efeknya.
Pada proses berpikir ada satu komponen penting yaitu pencerapan informasi, dengan informasi inilah kita melakukan analisis dan menghasilkan kesimpulan. Pencerapan informasi ini dapat melalui bermacam-macam media, yang pastinya melibatkan alat indra terutama indra penglihatan. Buku, TV, Radio, dan Internet adalah salah satu sumber informasi yang kita serap untuk kemudian digunakan dalam proses berpikir.
Pada era pradigital, sumber informasi utama adalah media cetak dan radio/TV, pada saat itu jumlah informasi masih cukup ‘minim’ dibandingkan dengan rutinitas yang dilakukan. Kemudian datang era internet, digitalisasi bermacam-macam media, sehingga terjadi ledakan informasi. Media cetak seperti buku dan koran mulai tergantikan dengan media internet, dan jumlah informasi yang diciptakan setiap waktunya melonjak dengan drastis. Jika sebelumnya bacaan yang wajib dibaca perhari adalah koran dan sedikit buku, sekarang ‘bacaan’ yang wajib dibaca semakin bertambah walau penting atau tidak, seperti email, blog, facebook wall, twitter, halaman web, pdf paper, ebook, buku cetak, koran….dan banyak lainnya. Rutinitas itu terus berjalan tanpa disadari mulai membuat kita cepat lelah dan kurangnya konsentrasi dalam melakukan sesuatu, atau merasa sibuk tetapi tidak produktif. (more…)
Implementing idea to the real world
Sudah lama tidak meracau….
Ide atau pikiran adalah sebuah benda abstrak yang tidak terlihat yang hanya dapat hidup di dunia pikiran. Pikiran adalah sebuah konsep abstrak yang mensimulasikan suatu adegan dunia nyata. Ide tanpa diimplementasikan dalam suatu kasus nyata tidak akan memberikan efek apapun sehebat apapun ide tersebut.
Kadang sebuah ide bukanlah sebuah hasil pemikiran yang lengkap, sehingga kadang-kadang orang bingung bagaimana mengimplementasikan ide tersebut. Disisi lain ada beberapa orang yang lebih mengedepankan technical approaching dimana dia menangkap ide-ide terdekat yang implementable untuk mencapai ide besar yang telah dipikirkan sebelumnya. Jembatan-jembatan solusi sedikit demi sedikit akan terbuka untuk mencapai tujuan akhir tersebut.
We need a big picture, but it’s same important that we get the technical also. When the technical knowledge achieved the next step that must be acomplished is how to communicate with others, so the other can get the same thing like we see. This is the intense time, we must explain the whole thing, with really clearly. After explaining we must test if that can be doing together, after that we with slowly pace correcting the error that we made with still keep improving the quality of team work.
Start to Write
Judul posting ini sama dengan judul blog, tidak lain untuk mengembalikan semangat menulis yang sedikit demi sedikit terkikis oleh kesibukan. “Start to Write”, suatu kalimat yang simple, tidak ada argumentasi, analisis dan mengandung makna yang satu. Semangat pertama dari pendirian blog ini tidak lain adalah untuk memulai menulis. Banyak motivasi dibelakang pendirian, tetapi inti-nya adalah memulai untuk menulis.
Karena beberapa kesibukan, beberapa ide tidak dapat dituangkan dalam tulisan dan blogpun harus libur selama satu bulan. Tapi rupanya kalimat “start to write” selalu menghantui, kalimat itu seakan mengatakan “tulis aja, saya gak nuntut tulisan kamu bagus, atau berisi, tapi mulailah menulis”….tidak menyesal saya menamai blog ini “Start to Write”. Rupanya hal ini memberikan pelajaran bahwa suatu kalimat yang sederhana tetapi bermakna jelas dan aplikatif lebih appealing dibanding visi yang dalam tetapi sulit mendeskripsikannya.
Sebenarnya ada beberapa topik yang ingin dibahas, diantaranya:
- Media tidak mungkin tidak memihak, Objektif tidak sama dengan memihak
- Inti perubahan masyarakat [sesuai dengan momen pemilu]
- Menulis sebagai terapi, increasing our self concious
- Load balancing activity, thinking, speaking, mechanical activity
- Novice -> Expert, develop R-mode thinking system
- Process Oriented, don’t rush!!!
….mmm setidaknya kalau dah ditulisin ada ’sedikit’ tanggung jawab pribadi untuk mengimplementasikannya. so…let’s start to write.
Confuse, Melancholic, Rethinking
Je suis confuse lorsque la rationalité est disparu
Emotion conduit ma façon de penser
Mon chemin est acculée le à une Cul de Sac
Au moins en ce moment, je sens être à une humain étant
Force-moi à repenser, est-ce le destiné moyen
Mon âme clignotant vers le passé
Wandering ce qui va arriver à l’avenir
C’est comme si le temps est à l’arrêt cochant
I’m confused when rationality is gone
Emotion leads my way of thinking
My path is cornered on a Cul de Sac
At least at this moment, I feel to be a human being
Force me to reconsider, is this the destined way
My mind flashes to the past
Wandering what will happen in the future
It is as if time has stopped ticking
*Buat ali dan uyun, moga dilancarkan akad & walimahnya
*Semoga sukses buat arif yang besok mau sidang
*Buat teman-teman yang lain, semoga diberi kemudahan tuk semua urusannya
Repositioning of Learning Process
Baru menyadari sesuatu yang cukup penting mengenai proses pembelajaran yang ada di kampus atau sekolah yang sebenarnya cukup kontraproduktif terhadap proses pembelajaran. Kita pasti memahami bahwa setiap orang memiliki kecepatan yang berbeda-beda dalam memahami suatu pelajaran, itu sangat-sangat manusiawi. Tetapi sayangnya hal itu tidak dapat diakomodasi oleh sistem pendidikan kita, yang pastinya menerapkan waktu yang sama untuk satu mata pelajaran / mata kuliah, yaitu satu semester.
Bagi orang-orang yang dapat memahami cepat dalam tenggat waktu tersebut, selamat!!…tapi bagi sebagian yang lain apa yang terjadi? ini yang ingin saya coba bahas. Hal ini semakin menarik perhatian saya karena akhir-akhir ini terlihat banyak siswa yang semakin ‘tertekan’ dengan tuntutan pendidikannya. Fenomena ini dapat kita liat ketika masa-masa UAN dan SNMPTN. Fenomena yang menurut saya sebuah keprihatinan dalam dunia pendidikan yang seharusnya mengedepankan kekritisan, rasa ingin tahu, kreativitas, dan kesenangan dalam sebuah proses belajar, tetapi kini diganti dengan tekanan, ketakutan, tuntutan, nilai, dan konsekuensi.
Dengan metode pendidikan seperti ini kegagalan menjadi sesuatu yang sangat tabu, dan sangat ditakuti, padahal dalam sebuah proses pembelajaran kegagalan merupakan sesuatu yang sangat-sangat normal. Dari kegagalan itulah kita dapat belajar dan mengkoreksi kekurangan-kekurangan kita. Mentalitas pembelajaran yang seharusnya dipenuhi oleh rasa penasaran dan keinginan mencoba sesuatu yang baru terpaksa dipendam demi memenuhi tuntutan-tuntutan yang ada.
Saya gak akan memfokuskan pada hasil pembelajaran dia, apakah lulus cepat atau tidak, lulus baik atau enggak tetapi saya lebih menyoroti hasil dari proses pendidikan ini yang membuat “orang kehilangan tujuan dari proses pembelajarannya, dan mematikan mentalitas pembelajar”…. (more…)
ML
inget cerita lama waktu semasa di kampus (hehe, merasa bukan anak kampus lagi
)
Jadi ceritanya di siang hari setelah habis kuliah…..
pas keluar kuliah..mo ke salman, ketemu temen lagi ngantri di depan ATM, namanya Syahrul, nah saya manggil2 dia dari jauh dengan suara yang agak kencang…“Rul Oy tadi lu gak ikut ML?”, tiba-tiba semua orang memandang saya dengan penuh curiga…(kok kaya lagu Obie Mesakh, semut2 merah)…saya tidak menyadari kesalahan fatal dari ucapan saya yang ternyata memiliki makna ganda.
ML disini yang saya maksud adalah Machine Learning, sebuah mata kuliah yang diikuti saya dan syahrul, soalnya waktu kuliah tadi dia gak datang tapi ternyata ada dikampus lagi ngantri depan ATM. Saya pun aneh melihat ekspresi Syahrul yang sepertinya mengatakan “saya gak kenal kamu”, gak jawab sapaan saya…untungnya teman disampingku menyadarkan kebodohanku itu…”Oy ML tu Making Love”…
Owh…pantas saja….polosnya diriku ini….hehe, berarti di kacamata orang lain mereka melihat
Ada mahasiswa yang senyum2 bahagia gak jelas dan menyapa temannya dengan pede “Rul Oy tadi lu gak ikut Making Love?”…hahahaha…bodoh..bodoh…
*sayapun berjalan seakan tidak terjadi apa-apa
[Draft - Part 1] Cold and Dark
Malam itu kota leipzig terasa sepi dan dingin, daun-daun coklat dan kering jatuh berterbangan ditiup angin yang cukup menusuk kulit. Cahaya lampu kota terlihat seperti lilin-lilin kecil, terangnya ditutupi embun yang sangat tebal, begitu remang-remang dan keberadaannya hanya dapat menjaga sang pengguna jalan untuk tiga meter kedepan saja. Jalan-jalan kosong seperti kota mati, manusia-manusia pengisi kota ini lebih memilih berbaring di atas sofa didepan perapiannya, menyalakan televisi dan menonton satu opera sabun yang setiap hari sabtu pukul 21.00 ditayangkan oleh stasiun tv Beindo.
Di pinggir kota, asap racun mengepul dari sebuah rokok filter bercampur dengan embun. Pada taman yang kini terlihat seperti sebuah pemakaman yang telah lama tak dijamah oleh manusia. Dia duduk dibangku kayu khas eropa yang klasik, dikelilingi pohon-pohon meranggas yang rontok yang hanya menyisakan sedikit daun-daunnya yang terakhir. Tubuhnya terlihat sedang kelelahan menggigil sekedar untuk mempertahankan suhu badannya yang kian turun. Wajahnya yang kian pucat adalah bahasa alami dari tubuh yang ingin mengatakan bahwa dia dalam keadaan yang kepayahan. Kontradiktif dengan pikiran tubuhnya, sebuah senyum yang miris dan tatapan yang tajam tetapi kosong terlihat dari raut muka sang pria tersebut.
Hancurkan diri ini tanpa makna seiring waktu berjalan
Sebuah kesalahan tidak pernah dapat ditarik lagi jika telah keluar dari selongsongnya
Telah lama dia berpikir, terlihat dari puntung-puntung yang telah berserakan. Tetapi semakin lama dia merenung semakin kusut mukanya, dahinya mengernyit seperti kerutan-kerutan pada orang tua. Semakin lama asap yang mengepul semakin banyak, dan malam pun semakin larut. Orang-orang yang berjalan disitu pasti sudah menggigil kedinginan, dan ingin segera lari ke depan perapiannya. Tetapi pria itu seakan sedang memanaskan tungku dalam dirinya, konsentrasi pikirannya membuat dia tidak merasa berada pada cuaca -5 derajat celcius.
Memang tidak ada pilihan lagi bagi pria itu, mau tidak mau dia harus dapat menemukan kunci permasalahan yang sekarang sedang membelitnya. Sebuah pertaruhan besar akan terjadi esok, dia tidak akan tinggal diam dan mengakui kekalahannya. Satu hal kecil yang dibutuhkan hanyalah kepingan puzzle dari teka-teki besar yang sedikit demi sedikit telah terurai didalam kepalanya. Kini dia berpacu dengan waktu, dia tak mungkin menunggu lebih lama lagi, sebelum tubuhnya membeku dan aliran darah dalam tubuhnya berhenti. Kini jam sudah menunjukkan pukul 23:15, suhu telah turun menjadi -10 derajat celcius. Baru kali ini terlihat seorang mempertaruhkan nyawanya dalam cara yang sangat aneh, duduk di sebuah taman dan memacu adrenalinnya untuk menemukan jawaban sebelum tubuhnya membeku.
“Sial, setengah jam lagi aku duduk disini, besok orang-orang akan menemukan sesosok mayat sedang duduk tolol memegang satu batang rokok dimulutnya” pria itu menggumam dengan dirinya sendiri, seakan-akan dia berbicara pada orang lain. Pada saat dia berniat mengambil batang rokok yang terakhir, tiba-tiba terdengar sirine dari kejauhan, warna terang merah tampak dari sisi barat kota. Walau hanya cahaya kemerahan yang terlihat dia sepertinya dapat merasakan panasnya sampai ke dadanya. Senyuman tersungging mempertegas kepuasan dirinya akan hal yang baru saja terlintas pada kepalanya. “Rupanya Tuhan masih memberi cahaya untukku, besok sepertinya matahari akan memberikan sinarnya pada diriku”. Tawanya menggaung seakan menyambut kobaran api yang sedang menjilat-jilati di sisi kota leipzig.
Being Multitasking…..Being Stumped
Pembahasan ini diilhami dari obrolan dua hari yang lalu dengan teman, dari sebuah pertanyaan “Kenapa ya ketika kita telah dewasa, kita sulit untuk dapat menikmati suatu event secara maksimal”, Ketika kita melakukan sesuatu hal terkadang pikiran kita menerawang ke hal yang lain, sehingga apa yang sedang kita kerjakan tidak dapat dinikmati sepenuhnya. Padahal ketika SMA dulu, bahkan aktivitas belajar di kelas dapat dilakukan dengan penghayatan sepenuhnya, baik gurunya enak atau enggak pikiran fokus dengan apa yang dihadapi pada saat itu juga, gak menerawang ke mana-mana…apa gara-gara kompleksitas permasalahan?
Sebelumnya saya sudah memposting pembahasan yang sama dengan ini, tetapi solusi yang saya tawarkan sebelumnya tidak terlalu praktis. Solusi tersebut hanya mampu dipertahankan penulis selama seminggu saja sejak komitmen dicanangkan, karena ketidakdisiplinan dan juga faktor-faktor lain. Oleh karena itu saya coba cari solusi-solusi yang lebih bersifat praktis gak terlalu repot, Cuma ngubah hal-hal yang sederhana seperti mengubah mindset dan sikap duduk
.
Cara-cara ini saya temukan di web entah berantah, pada web tersebut si penulis ingin membuat AI (Artificial Intelligence) yang menyerupai manusia, kemudian dia menyimpulkan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang dapat membuat aktivitas manusia lebih efisien
1. If you want something done, do it yourself – Ini lebih ke mentalitas, dengan melakukan sesuatu yang direncanakan sampai selesai, akan memberikan kepuasan kepada kita, dan meningkatkan kepercayaan diri, semakin banyak yang tidak terselesaikan mengurangi tingkat kepercayaan diri…tapi dalam suatu kasus kita harus melakukan pendelegasian
2. Never procrastinate anything you can do right now – Ini yang cukup sulit nih, banyak faktor yang membuat kita menunda, point-point berikutnya salah satu sebab kita menunda sesuatu
3. When you have several things you could be doing and don’t know which to do: Just do any one of them! – Jangan terlalu banyak timbang-timbang, eksekusi aja hal yang paling mudah, yang kira-kira paling cepat selesai, dan paling kecil membutuhkan resource pikiran
4. Always assume that you will succeed – Ketika melakukan sesuatu anggap bahwa kita pasti berhasil kalau kita melakukannya, tidak ada yang sia-sia kalau kita sudah mencoba, kegagalan terjadi justru karena kita tidak melakukan sesuatu, tetapi keluar dari plan (target) bukanlah sebuah kegagalan…
5. If you can’t find a solution, change the rules – ketika mentok, relax dulu sejenak, jalan2 dulu, liat-liat awan …tarik nafas (kalau yang ini mah masalah hidup dan mati
), kemudian berpikir kembali, liat dengan paradigma yang lain…jangan terlalu terpatok dengan satu sudut pandang…cari jalan lain, kalau tadi belok kanan, sekarang coba belok kiri (more…)


1 comment