<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Start to Write &#187; About My Mind</title>
	<atom:link href="http://eecho.wordpress.com/category/about-my-mind/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://eecho.wordpress.com</link>
	<description>Sebuah Lema dalam Kamus Blog Dunia</description>
	<lastBuildDate>Fri, 23 Oct 2009 04:07:45 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<cloud domain='eecho.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://www.gravatar.com/blavatar/d17429fbd74a1f6358a00e6cdf662717?s=96&#038;d=http://s.wordpress.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Start to Write &#187; About My Mind</title>
		<link>http://eecho.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://eecho.wordpress.com/osd.xml" title="Start to Write" />
		<item>
		<title>Emotion is Greatly Influence to Learning Performance</title>
		<link>http://eecho.wordpress.com/2009/10/23/emotion-is-greatly-influence-to-learning-performance/</link>
		<comments>http://eecho.wordpress.com/2009/10/23/emotion-is-greatly-influence-to-learning-performance/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Oct 2009 04:02:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eecho</dc:creator>
				<category><![CDATA[About My Mind]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eecho.wordpress.com/2009/10/23/emotion-is-greatly-influence-to-learning-performance/</guid>
		<description><![CDATA[Kadang saya suka merasa aneh, pada suatu waktu saya sulit sekali memahami apa yang saya baca…diulang lagi terus menerus pun malah membuat saya makin pusing. Pada saat itu bukan materinya yang berat, tapi entah pada saat itu konsentrasi saya seperti pada titik terendah, sehingga materi yang sebenarnya mudah menjadi tidak dapat ditangkap, karena entah pikiran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eecho.wordpress.com&blog=1058254&post=183&subd=eecho&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Kadang saya suka merasa aneh, pada suatu waktu saya sulit sekali memahami apa yang saya baca…diulang lagi terus menerus pun malah membuat saya makin pusing. Pada saat itu bukan materinya yang berat, tapi entah pada saat itu konsentrasi saya seperti pada titik terendah, sehingga materi yang sebenarnya mudah menjadi tidak dapat ditangkap, karena entah pikiran saya terbang kemana. Pada suatu waktu yang agak rileks saya coba mencari apa sebenarnya yang menyebabkan hal tersebut, sampai pada suatu titik saya menyadari sesuatu yang memang tidak terlihat, emosi!</p>
<p>Emosi yang saya sebutkan disini artinya sangat luas, bukan hanya berarti marah tetapi segala perasaan yang sedang dialami oleh kita, baik emosi yang &#8216;ringan&#8217; atau yang &#8216;berat&#8217;. Emosi bisa berupa bosan, malas, marah, mellow, marah, suntuk, stress, antusias, bersemangat dsbnya. Selain itu ada juga emosi-emosi yang sifatnya lebih &#8216;abstrak&#8217;, seperti rasa inferior, guilty, messy, inconvenience, little anger, jealous dll yang secara tidak sadar mempengaruhi kualitas konsentrasi kita. Tapi jangan anggap emosi efeknya negatif, bisa juga positif terhadap kualitas konsentrasi kita tergantung jenis emosinya.</p>
<p>Coba bayangkan anda belajar pada saat dikejar deadline, atau berpikir pada saat sedang bosan dan jenuh! Contoh itu mungkin terlalu eksplisit, saya akan coba menarik kepada analogi yang lebih &#8216;mild&#8217;. Pada satu waktu yang bersamaan anda memiliki beberapa agenda atau permasalahan, setiap permasalahan meminta untuk diselesaikan secepatnya, bukannya kita jadi fokus pada satu permasalahan, dibenak kita malah muncul emosi (yang saya tidak tau menyebutnya apa yang membuat kita tidak tenang) sehingga membuyarkan konsentrasi akan pekerjaan-pekerjaan yang sedang kita coba atasi. Tapi yang menarik adalah pada satu kasus yang sama respon dari setiap orang bisa berbeda-beda, dan respon emosinya pun berbeda-beda, anda tahu kenapa? Karena setiap orang memiliki mindset yang berbeda-beda atas suatu permasalahan. Mindset itu lah yang men&#8217;drive&#8217; emosi apa yang akan keluar.</p>
<p><span id="more-183"></span></p>
<p>Pada suatu ketika pernah di lab saya kebingungan mengerjakan task dan waktu tinggal sebentar lagi, saya jadi agak panik…coba berpikir tapi tetap gak ngerti dan hanya bisa terpaku pada tugas didepan…kemudian teman saya mengatakan &#8220;udah jangan bingung, kerjain saja!&#8221;, suatu pernyataan yang gak masuk diakal, soalnya klo saya gak ngerti mana bisa saya kerjain, tapi anehnya pekerjaan itu selesai (saya bekerja tanpa berpikir) tapi dengan catatan saya tetap gak ngerti apa yang saya lakukan…walau kerjaan itu &#8216;tampak selesai&#8217;.</p>
<p>Tapi sayangnya jika kita berjalan secara spontan &#8216;behaviour emosi&#8217; itu seperti sesuatu yang &#8216;built-in&#8217; gak bisa diubah. Misal setiap kita menemui kasus seperti A emosi yang keluar pasti B, berapa kalipun bertemu dengan permasalahan tersebut. Oleh karena itu pada suatu titik dimana kita telah mengidentifikasi masalah &#8216;behaviour emosi&#8217; itu, perlu ada suatu dobrakan solusi…misal jika setiap kita diminta tuk melakukan sesuatu biasanya setuju, pada satu waktu bisa kita bereksperimen dengan mengatakan &#8216;TIDAK&#8217; dengan lantang, sikap itu memberikan feedback emosi yang drastis dari kebiasaan yang sebelumnya terjadi. Ada suatu waktu dimana kita meng-interrupt sifat spontan kita dan kita ganti respon tersebut dengan sesuatu yang berbeda, jika kita telah terjebak dengan &#8216;behaviour emosi&#8217; tersebut.</p>
<p>Pada paragraf diatas saya hanya memaparkan to breaking the behavioural response tanpa tahu efek itu positif atau negatif. Satu hal yang lebih penting lagi adalah sebenarnya ubah yang namanya MINDSET!! Semua permasalahan sikap kita kuncinya ada di MINDSET itu, tetapi sebelumnya kita harus jeli mengidentifikasi diri sendiri apa sebenarnya yang salah dari MINDSET yang kita miliki ini….Sun Tzu pernah bilang &#8220;Akan selalu menang orang yang mengetahui tentang dirinya dan orang lain, Bisa menang atau kalah jika hanya mengetahui tentang dirinya, dan akan selalu kalah jika tidak mengetahui tentang dirinya&#8221;. Mengetahui diri sendiri bukan berarti membatasi diri kita seperti apa yang dikatakan tes psikologi, tetapi lebih suatu alat agar kita bisa memperbaiki apa-apa yang telah menjadi kebiasaan jelek (respon spontan) diri kita dan MINDSET apa yang menyebabkan hal tersebut. Nah untuk mengubah MINDSET itu mustahil dari diri sendiri, harus ada input dari informasi luar disertai sifat keterbukaan dan kekritisan dari kita, dan mencoba untuk tidak memandang dari kacamata kuda.</p>
<p>Learning Perfomance -&gt; Emotion &lt;-&gt; Mindset &lt; -&gt; Openness and Critical Thinking</p>
<p>Learning Performance -&gt; Emotion -&gt; Habit (Behavioural Response) -&gt; Break the routines (find the root of problems)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eecho.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eecho.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eecho.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eecho.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eecho.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eecho.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eecho.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eecho.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eecho.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eecho.wordpress.com/183/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eecho.wordpress.com&blog=1058254&post=183&subd=eecho&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eecho.wordpress.com/2009/10/23/emotion-is-greatly-influence-to-learning-performance/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e9998e66d809ac2753e98dc082c1c98f?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">eecho</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Information Overload</title>
		<link>http://eecho.wordpress.com/2009/10/15/information-overload/</link>
		<comments>http://eecho.wordpress.com/2009/10/15/information-overload/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 13:25:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eecho</dc:creator>
				<category><![CDATA[About My Mind]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eecho.wordpress.com/?p=180</guid>
		<description><![CDATA[SourceInternet adalah sebuah gerbang informasi yang jumlahnya luar biasa besar, sampai pada suatu titik dimana kita harusnya &#8216;aware&#8217; bahwa seberapa banyak informasi yang dapat kita cerna? Zaman sekarang dimana internet sangat mudah diakses, banyak orang mengalami yang namanya sindrom information overload.  Sudah lama ingin menuangkan permasalahan ini, tetapi karena sifatnya kasat mata, sindrom &#8216;information [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eecho.wordpress.com&blog=1058254&post=180&subd=eecho&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>SourceInternet adalah sebuah gerbang informasi yang jumlahnya luar biasa besar, sampai pada suatu titik dimana kita harusnya &#8216;aware&#8217; bahwa seberapa banyak informasi yang dapat kita cerna? Zaman sekarang dimana internet sangat mudah diakses, banyak orang mengalami yang namanya sindrom information overload.  Sudah lama ingin menuangkan permasalahan ini, tetapi karena sifatnya kasat mata, sindrom &#8216;information overload&#8217; ini sulit untuk disimpulkan efeknya.</p>
<p>Pada proses berpikir ada satu komponen penting yaitu pencerapan informasi, dengan informasi inilah kita melakukan analisis dan menghasilkan kesimpulan. Pencerapan informasi ini dapat melalui bermacam-macam media, yang pastinya melibatkan alat indra terutama indra penglihatan. Buku, TV, Radio, dan Internet adalah salah satu sumber informasi yang kita serap untuk kemudian digunakan dalam proses berpikir.</p>
<p>Pada era pradigital, sumber informasi utama adalah media cetak dan radio/TV, pada saat itu jumlah informasi masih cukup &#8216;minim&#8217; dibandingkan dengan rutinitas yang dilakukan. Kemudian datang era internet, digitalisasi bermacam-macam media, sehingga terjadi ledakan informasi. Media cetak seperti buku dan koran mulai tergantikan dengan media internet, dan jumlah informasi yang diciptakan setiap waktunya melonjak dengan drastis. Jika sebelumnya bacaan yang wajib dibaca perhari adalah koran dan sedikit buku, sekarang &#8216;bacaan&#8217; yang wajib dibaca semakin bertambah walau penting atau tidak, seperti email, blog, facebook wall, twitter, halaman web, pdf paper, ebook, buku cetak, koran….dan banyak lainnya. Rutinitas itu terus berjalan tanpa disadari mulai membuat kita cepat lelah dan kurangnya konsentrasi dalam melakukan sesuatu, atau merasa sibuk tetapi tidak produktif.<span id="more-180"></span></p>
<p>Jumlah informasi menurut saya adalah bagai pedang bermata dua, jika kita manfaatkan dengan baik maka akan sangat berguna tetapi jika salah menggunakannya akan membuat kita celaka. Bagi sebagian orang yang tidak terpengaruh dengan dunia digital ini dan tetap dengan rutinitas lamanya akan selamat dari sindrom information overload, tetapi sayangnya banyak informasi-informasi yang akan dia lewatkan, karena media-media informasi itu sekarang sebagian sudah ditransmisikan (diedarkan) melalui media-media yang baru. Tetapi yang mengikuti trend juga mengalami efek negatif dari banyaknya informasi yang harus dia tampung.</p>
<p>Hal yang perlu diingat adalah bahwa membaca bukan proses pembelajaran sepenuhnya, maksudnya dengan membaca tidak otomatis membuat kita pintar. Ketika informasi itu masuk melalui proses membaca, kita harus coba mencernanya dan mengolahnya sampai menghasilkan kesimpulan dan ingatan itu kita simpan untuk proses berpikir selanjutnya. Tetapi jika kita membaca banyak informasi tanpa sempat dicerna sampai tahap kesimpulan kemudian kita membaca lagi informasi lainnya yang terjadi adalah memori yang &#8216;acak-acakan&#8217;, mudah lupa karena kaitan antar informasinya belum kita olah dengan baik, dan waktu yang banyak untuk membaca tersebut terasa menjadi sia-sia karena tidak dapat digunakan dengan baik.</p>
<p>Dalam buku quantum learning disarankan untuk melakukan jeda setiap 15 menit dalam suatu proses pembelajaran, bagi saya itu tidak lain adalah kesempatan bagi otak untuk mencerna informasi-informasi yang dia dapatkan sehingga tertata dengan baik.  Semakin banyak informasi yang belum ditata akan semakin berat kerja otak untuk menyusunnya, dan jika kita tidak cermat untuk coba memahaminya maka informasi-informasi tersebut akan dibuang secara otomatis.</p>
<p>Selain masalah cepat lupa, permasalahan yang lain adalah turunnya tingkat konsentrasi. Informasi yang terlalu banyak membuat kita sulit menemukan subjek mana saja yang perlu diperhatikan dan mana yang tidak. Memang memiliki banyak informasi membuat kita dapat melihat dari banyak perspektif, tapi resikonya kita harus membahasnya (memahaminya) lebih luas lagi dan seringkali malah jadi kewalahan. Dari informasi-informasi itu juga banyak yang sebenarnya tidak berkaitan sama sekali, sehingga sebenarnya ada banyak informasi yang tidak relevan dengan apa yang mau kita pikirkan, sayangnya informasi itu terus terngiang dikepala dan membuat konsentrasi kita buyar bahkan gak bisa konsentrasi sama sekali.</p>
<p>Terus bagaimana? Bagi saya hal pertama yang harus ditangani adalah masalahnya masuknya informasi. Kita harus bisa menentukan informasi apa saja yang benar-benar harus dibaca dan yang bisa kita acuhkan. Ingat sekali lagi bahwa bukan masalah jumlah informasi, tapi kualitas relasi antar informasi itu…klo saya suka menganalogikan dengan Google dan Bing, Bing bisa saja menghasilkan hasil pencarian lebih banyak, tapi kualitas pencarian Google jauh lebih mendekati maksud dibanding Bing. Ketika disekolah atau dikampus kita pasti sering berpikir mencoba memahami apa yang diajarkan guru/dosen, walau mereka hanya mengajar selama 2 jam tetapi kita berusaha mencernanya dalam waktu yang banyak. Coba bayangkan sekarang dimana kita menjadi lebih banyak membaca tetapi jarang mencoba memahaminya.</p>
<p>Kemudian? Semakin banyak membaca maka harus diimbangin dengan semakin banyak menulis…kenapa? Saya ibaratkan membaca adalah proses input, semakin banyak input maka harus banyak juga yang dikeluarkan kalau tidak maka aka leber dan hilang sia-sia. Menulis saya ibaratkan sebuah proses output hasil pengolahan input yang didapat. Menulis adalah sebuah proses mengkaitkan informasi-informasi yang kita punya dalam sebuah alur yang kita tulis. Sayangnya menulis kadang mentok karena keterbatasan informasi. Kalau mentok karena keterbatas info cari aja subjek lain yang lebih gampang untuk ditulis.</p>
<p>Sisanya …. Istirahat yang cukup, hindari aktivitas-aktivitas information intensive untuk pada saat istirahat terutama yang bersifat tekstual. Informasi yang inputnya non tekstual lebih &#8216;ringan&#8217; untuk diresap, kita masih bisa rileks selagi mencerna informasi tersebut, berbeda dengan media-media tekstual yang membutuhkan &#8217;sumber daya&#8217; lebih untuk memasukkannya kedalam kepala kita. Tapi setiap orang berbeda-beda, bisa jadi ada orang yang lebih rileks dengan membaca sesuatu, yang pasti kita harus tau kapan kita istirahat dan membiarkan pikiran kita rileks sejenak.</p>
<p><a href="http://Information Overload Xerox Paper">http://eecho.files.wordpress.com/2009/10/paper-tackling-information-overload-at-the-source.pdf</a></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eecho.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eecho.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eecho.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eecho.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eecho.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eecho.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eecho.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eecho.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eecho.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eecho.wordpress.com/180/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eecho.wordpress.com&blog=1058254&post=180&subd=eecho&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eecho.wordpress.com/2009/10/15/information-overload/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e9998e66d809ac2753e98dc082c1c98f?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">eecho</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Implementing idea to the real world</title>
		<link>http://eecho.wordpress.com/2009/08/23/implementing-idea-to-the-real-world/</link>
		<comments>http://eecho.wordpress.com/2009/08/23/implementing-idea-to-the-real-world/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Aug 2009 00:21:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eecho</dc:creator>
				<category><![CDATA[About My Mind]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eecho.wordpress.com/2009/08/23/implementing-idea-to-the-real-world/</guid>
		<description><![CDATA[Sudah lama tidak meracau&#8230;.
Ide atau pikiran adalah sebuah benda abstrak yang tidak terlihat yang hanya dapat hidup di dunia pikiran. Pikiran adalah sebuah konsep abstrak yang mensimulasikan suatu adegan dunia nyata. Ide tanpa diimplementasikan dalam suatu kasus nyata tidak akan memberikan efek apapun sehebat apapun ide tersebut.
Kadang sebuah ide bukanlah sebuah hasil pemikiran yang lengkap, [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eecho.wordpress.com&blog=1058254&post=176&subd=eecho&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Sudah lama tidak meracau&#8230;.</p>
<p>Ide atau pikiran adalah sebuah benda abstrak yang tidak terlihat yang hanya dapat hidup di dunia pikiran. Pikiran adalah sebuah konsep abstrak yang mensimulasikan suatu adegan dunia nyata. Ide tanpa diimplementasikan dalam suatu kasus nyata tidak akan memberikan efek apapun sehebat apapun ide tersebut.</p>
<p>Kadang sebuah ide bukanlah sebuah hasil pemikiran yang lengkap, sehingga kadang-kadang orang bingung bagaimana mengimplementasikan ide tersebut. Disisi lain ada beberapa orang yang lebih mengedepankan technical approaching dimana dia menangkap ide-ide terdekat yang implementable untuk mencapai ide besar yang telah dipikirkan sebelumnya. Jembatan-jembatan solusi sedikit demi sedikit akan terbuka untuk mencapai tujuan akhir tersebut.</p>
<p>We need a big picture, but it&#8217;s same important that we get the technical also. When the technical knowledge achieved the next step that must be acomplished is how to communicate with others, so the other can get the same thing like we see. This is the intense time, we must explain the whole thing, with really clearly. After explaining we must test if that can be doing together, after that we with slowly pace correcting the error that we made with still keep improving the quality of team work.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eecho.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eecho.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eecho.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eecho.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eecho.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eecho.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eecho.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eecho.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eecho.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eecho.wordpress.com/176/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eecho.wordpress.com&blog=1058254&post=176&subd=eecho&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eecho.wordpress.com/2009/08/23/implementing-idea-to-the-real-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e9998e66d809ac2753e98dc082c1c98f?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">eecho</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Start to Write</title>
		<link>http://eecho.wordpress.com/2009/04/01/start-to-write/</link>
		<comments>http://eecho.wordpress.com/2009/04/01/start-to-write/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2009 10:08:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eecho</dc:creator>
				<category><![CDATA[About My Mind]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eecho.wordpress.com/?p=172</guid>
		<description><![CDATA[Judul posting ini sama dengan judul blog, tidak lain untuk mengembalikan semangat menulis yang sedikit demi sedikit terkikis oleh kesibukan. &#8220;Start to Write&#8221;, suatu kalimat yang simple, tidak ada argumentasi, analisis dan mengandung makna yang satu. Semangat pertama dari pendirian blog ini tidak lain adalah untuk memulai menulis. Banyak motivasi dibelakang pendirian, tetapi inti-nya adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eecho.wordpress.com&blog=1058254&post=172&subd=eecho&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Judul posting ini sama dengan judul blog, tidak lain untuk mengembalikan semangat menulis yang sedikit demi sedikit terkikis oleh kesibukan. &#8220;Start to Write&#8221;, suatu kalimat yang simple, tidak ada argumentasi, analisis dan mengandung makna yang satu. Semangat pertama dari pendirian blog ini tidak lain adalah untuk memulai menulis. Banyak motivasi dibelakang pendirian, tetapi inti-nya adalah memulai untuk menulis.</p>
<p>Karena beberapa kesibukan, beberapa ide tidak dapat dituangkan dalam tulisan dan blogpun harus libur selama satu bulan. Tapi rupanya kalimat &#8220;start to write&#8221; selalu menghantui, kalimat itu seakan mengatakan &#8220;tulis aja, saya gak nuntut tulisan kamu bagus, atau berisi, tapi mulailah menulis&#8221;&#8230;.tidak menyesal saya menamai blog ini &#8220;Start to Write&#8221;. Rupanya hal ini memberikan pelajaran bahwa suatu kalimat yang sederhana tetapi bermakna jelas dan aplikatif lebih appealing dibanding visi yang dalam tetapi sulit mendeskripsikannya.</p>
<p>Sebenarnya ada beberapa topik yang ingin dibahas, diantaranya:</p>
<ol>
<li>Media tidak mungkin tidak memihak, Objektif tidak sama dengan memihak</li>
<li>Inti perubahan masyarakat [sesuai dengan momen pemilu]</li>
<li>Menulis sebagai terapi, increasing our self concious</li>
<li>Load balancing activity, thinking, speaking, mechanical activity</li>
<li>Novice -&gt; Expert, develop R-mode thinking system</li>
<li>Process Oriented, don&#8217;t rush!!!</li>
</ol>
<p>&#8230;.mmm setidaknya kalau dah ditulisin ada &#8217;sedikit&#8217; tanggung jawab pribadi untuk mengimplementasikannya. so&#8230;let&#8217;s start to write.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eecho.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eecho.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eecho.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eecho.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eecho.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eecho.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eecho.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eecho.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eecho.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eecho.wordpress.com/172/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eecho.wordpress.com&blog=1058254&post=172&subd=eecho&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eecho.wordpress.com/2009/04/01/start-to-write/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e9998e66d809ac2753e98dc082c1c98f?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">eecho</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Repositioning of Learning Process</title>
		<link>http://eecho.wordpress.com/2009/02/23/repositioning-of-learning-process/</link>
		<comments>http://eecho.wordpress.com/2009/02/23/repositioning-of-learning-process/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Feb 2009 08:08:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eecho</dc:creator>
				<category><![CDATA[About My Mind]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eecho.wordpress.com/?p=140</guid>
		<description><![CDATA[Baru menyadari sesuatu yang cukup penting mengenai proses pembelajaran yang ada di kampus atau sekolah yang sebenarnya cukup kontraproduktif terhadap proses pembelajaran. Kita pasti memahami bahwa setiap orang memiliki kecepatan yang berbeda-beda dalam memahami suatu pelajaran, itu sangat-sangat manusiawi. Tetapi sayangnya hal itu tidak dapat diakomodasi oleh sistem pendidikan kita, yang pastinya menerapkan waktu yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eecho.wordpress.com&blog=1058254&post=140&subd=eecho&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Baru menyadari sesuatu yang cukup penting mengenai proses pembelajaran yang ada di kampus atau sekolah yang sebenarnya cukup kontraproduktif terhadap proses pembelajaran. Kita pasti memahami bahwa setiap orang memiliki kecepatan yang berbeda-beda dalam memahami suatu pelajaran, itu sangat-sangat manusiawi. Tetapi sayangnya hal itu tidak dapat diakomodasi oleh sistem pendidikan kita, yang pastinya menerapkan waktu yang sama untuk satu mata pelajaran / mata kuliah, yaitu satu semester.</p>
<p>Bagi orang-orang yang dapat memahami cepat dalam tenggat waktu tersebut, selamat!!&#8230;tapi bagi sebagian yang lain apa yang terjadi? ini yang ingin saya coba bahas. Hal ini semakin menarik perhatian saya karena akhir-akhir ini terlihat banyak siswa yang semakin &#8216;tertekan&#8217; dengan tuntutan pendidikannya. Fenomena ini dapat kita liat ketika masa-masa UAN dan SNMPTN. Fenomena yang menurut saya sebuah keprihatinan dalam dunia pendidikan yang seharusnya mengedepankan kekritisan, rasa ingin tahu, kreativitas, dan kesenangan dalam sebuah proses belajar, tetapi kini diganti dengan tekanan, ketakutan, tuntutan, nilai, dan konsekuensi.</p>
<p>Dengan metode pendidikan seperti ini kegagalan menjadi sesuatu yang sangat tabu, dan sangat ditakuti, padahal dalam sebuah proses pembelajaran kegagalan merupakan sesuatu yang sangat-sangat normal. Dari kegagalan itulah kita dapat belajar dan mengkoreksi kekurangan-kekurangan kita. Mentalitas pembelajaran yang seharusnya dipenuhi oleh rasa penasaran dan keinginan mencoba sesuatu yang baru terpaksa dipendam demi memenuhi tuntutan-tuntutan yang ada.</p>
<p>Saya gak akan memfokuskan pada hasil pembelajaran dia, apakah lulus cepat atau tidak, lulus baik atau enggak tetapi saya lebih menyoroti hasil dari proses pendidikan ini yang membuat &#8220;orang kehilangan tujuan dari proses pembelajarannya, dan mematikan mentalitas pembelajar&#8221;&#8230;.<span id="more-140"></span></p>
<p>Belajar atau menuntut ilmu pada intinya adalah sebuah proses memahami sesuatu dari keadaan tidak paham menjadi paham. Tujuan dari orang belajar bisa bermacam-macam, tetapi semuanya bermuara pada usaha untuk menyelesaikan sebuah pertanyaan yang dihadapinya saat itu. Terlepas apakah ilmunya tersebut digunakan atau tidak, diimplementasikan atau tidak, tetapi state terakhir dari proses pembelajaran adalah memahami sesuatu. Salah satu parameter kita paham atau tidak akan sesuatu adalah kemampuan mentransfer pemahaman yang dimiliki kepada orang lain. Pada pembahasan yang lebih lanjut, sebuah pemahaman tidak dapat terlepas akan pencerapan fakta yang dapat diindera dalam benak seseorang. Misal: memahami cara mengemudi mobil tidak dapat terlepas dari praktek mengemudikan mobil secara langsung. tidak bisa bersimulasi dengan game need for speed. Misal2: memahami reaksi kimia tidak dapat terlepas dari percobaan yang dilakukan, mengamati perubahan-perubahan yang secara fisik dapat terindra, kemudian dikaitkan dengan teori yang diketahui sejak awal, dari hal itu barulah muncul pemahaman. Misal3: Pemain sepakbola akan memahami teori tendangan yang diajarkan dikelas dengan cara mencoba langsung menendang bola dilapangan. Tanpa pencerapan fakta yang terindera jelas, teori2 yang dimiliki hanya sebatas informasi bukan sebuah pemahaman.</p>
<p>Proses-proses pembelajaran nonformal, seperti kursus, langsung berguru pada seseorang masih menanamkan proses pembelajaran yang benar. Karena tujuan pembelajaran nonformal adalah siswa memahami apa yang diajarkannya terlepas dari tuntutan waktu dan juga nilai, pokoknya sampai bisa!!. Tetapi di sekolah kita menghadapai tuntutan-tuntutan nilai dan juga batasan-batasan waktu. Sehingga mau tidak mau siswa meletakkan parameter proses belajarnya hanya sebatas lulus dalam ujian, tidak peduli apakah dia memahami subjeknya ataukah tidak. Ujian-ujian yang diberikan pada sekolah merupakan tipe-tipe pengujian &#8216;hafalan&#8217;, siswa tidak dituntut untuk dapat mengaplikasikan ilmunya pada tataran teknis. </p>
<p>Kita flashback dulu&#8230;</p>
<p>Saya pernah bersitegang dengan teman kuliah karena dia protes akan nilai yang dia dapatkan. Dia begitu marah ketika saya mengatakan bahwa &#8220;sudah lah terima saja toh aturannya seperti itu&#8221;. Sistem penilaian di perkuliahan pada umumnya adalah dengan sistem huruf A, B, C, D dan E. Pada akhir masa perkuliahan dosen menetapkan standar dalam memutuskan A, B, dst. Misal dosen menentukan bahwa A &gt;= 80 maka sesuai aturan 79,9 pun jatuhnya ke B. Tetapi ada permasalahan ketika dia mendapatkan nilai B gemuk, maka dia berusaha bernegosiasi dengan dosen tuk mendapatkan nilai A. Ketika proses negosiasi itu berlangsung saya berdiskusi dengan dia dan menghasilkan kata2 yang bersifat emosional dan sangat tidak pantas. Dari kejadian itu dalam hati saya marah dengan sistem pendidikan saat ini, yang menjadikan proses pembelajaran ditujukan utamanya untuk nilai-nilai yang akan dicetak menjadi transkrip yang dapat menunjukkan bahwa nih saya pinter nih&#8230;nih IPK saya besar!!! Gaji saya dengan layak!!! </p>
<p>Saya cukup terharu dengan sejarah hidup Ajip Rosidi, dalam bukunya &#8220;Hidup Tanpa Ijazah : Yang Terekam dalam Kenangan&#8221;. Saya belum baca bukunya (gak punya duit <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> ), saya hanya baca reviewnya saja. Buku-buku semacam itu cukup mendobrak doktrin-doktrin yang ada saat ini mengenai sistem pendidikan yang ada. Buku tersebut memberikan gambaran untuk menempatkan proses belajar di posisi yang benar, berani menentang topeng-topeng kebohongan yang ditawarkan oleh sistem pendidkan yang ada saat ini. </p>
<p>Penjara doktrin sistem pendidikan ini telah memaksa banyak adik-adik kita yang stress, tertekan, depresi menjalani proses pendidikannya. Mereka berjam-jam menghabiskan waktu dalam sehari untuk belajar, tetapi akhir dari proses tersebut hanya sebatas nilai-nilai dalam ijazah yang menyatakan bahwa mereka lulus. Mereka tidak mengerti untuk apa saya belajar ini dan itu. Bertahun-tahun membaca buku pelajaran untuk menghadapi ujian tanpa pernah bisa mengaplikasikan ilmunya. Ketika tuntutan pendidikan melebihi kemampuan yang dapat dia usahakan, maka keputusasaan, minder, dan rasa tidak percaya diri menjadi karakter yang tidak dapat terlepas dari mereka. </p>
<p>Seharusnya proses pembelajaran dapat menciptakan manusia-manusia kreatif, mandiri, tidak takut gagal. Manusia yang dapat memberikan kontribusi bagi peradabannya. Manusia yang dapat menciptakan nilai tambah untuk masyarakat dengan keilmuan yang dia miliki. Manusia yang dengan potensi seminim apapun dapat memaksimalkan potensi yang dia miliki untuk kemaslahatan umat. </p>
<p>Memposisikan proses belajar pada jalur yang benar akan membuat masyarakat lebih produktif. Proses pembelajaran yang benar dapat menciptakan orang-orang mandiri yang kedepannya dapat menularkan kemandiriannya. Proses belajar adalah sebuah virus kebangkitan, karena untuk mengubah seseorang maka hal pertama yang harus dilakukan adalah mengubah pemahaman yang ada dalam kepalanya. Setiap orang memiliki potensi yang dapat diberdayakan, sayang sekali jika potensi itu terpendam begitu lama karena proses pembelajaran pada institusi akademik tidak menuntutnya untuk mengaplikasikan ilmunya.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eecho.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eecho.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eecho.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eecho.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eecho.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eecho.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eecho.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eecho.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eecho.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eecho.wordpress.com/140/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eecho.wordpress.com&blog=1058254&post=140&subd=eecho&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eecho.wordpress.com/2009/02/23/repositioning-of-learning-process/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e9998e66d809ac2753e98dc082c1c98f?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">eecho</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Absolute Stupideness</title>
		<link>http://eecho.wordpress.com/2009/02/09/absolute-stupideness/</link>
		<comments>http://eecho.wordpress.com/2009/02/09/absolute-stupideness/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 09 Feb 2009 04:05:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eecho</dc:creator>
				<category><![CDATA[About My Mind]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eecho.wordpress.com/2009/02/09/absolute-stupideness/</guid>
		<description><![CDATA[


       <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eecho.wordpress.com&blog=1058254&post=158&subd=eecho&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p><img src="http://eecho.files.wordpress.com/2009/02/liga-arab-goblog.jpg?w=500&#038;h=375" alt="liga-arab" title="liga-arab-goblog" width="500" height="375" class="alignnone size-full wp-image-156" /><br />
<br />
<img src="http://eecho.files.wordpress.com/2009/02/liberty-give-election.jpg?w=500&#038;h=375" alt="liberty-give-election" title="liberty-give-election" width="500" height="375" class="alignnone size-full wp-image-157" /></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eecho.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eecho.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eecho.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eecho.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eecho.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eecho.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eecho.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eecho.wordpress.com/158/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eecho.wordpress.com/158/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eecho.wordpress.com/158/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eecho.wordpress.com&blog=1058254&post=158&subd=eecho&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eecho.wordpress.com/2009/02/09/absolute-stupideness/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e9998e66d809ac2753e98dc082c1c98f?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">eecho</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://eecho.files.wordpress.com/2009/02/liga-arab-goblog.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">liga-arab-goblog</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://eecho.files.wordpress.com/2009/02/liberty-give-election.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">liberty-give-election</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Being Multitasking&#8230;..Being Stumped</title>
		<link>http://eecho.wordpress.com/2009/02/02/being-multitaskingbeing-stumped/</link>
		<comments>http://eecho.wordpress.com/2009/02/02/being-multitaskingbeing-stumped/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2009 03:30:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eecho</dc:creator>
				<category><![CDATA[About My Mind]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eecho.wordpress.com/?p=151</guid>
		<description><![CDATA[Pembahasan ini diilhami dari obrolan dua hari yang lalu dengan teman, dari sebuah pertanyaan &#8220;Kenapa ya ketika kita telah dewasa, kita sulit untuk dapat menikmati suatu event secara maksimal&#8221;, Ketika kita melakukan sesuatu hal terkadang pikiran kita menerawang ke hal yang lain, sehingga apa yang sedang kita kerjakan tidak dapat dinikmati sepenuhnya. Padahal ketika SMA [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eecho.wordpress.com&blog=1058254&post=151&subd=eecho&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Pembahasan ini diilhami dari obrolan dua hari yang lalu dengan teman, dari sebuah pertanyaan &#8220;Kenapa ya ketika kita telah dewasa, kita sulit untuk dapat menikmati suatu event secara maksimal&#8221;, Ketika kita melakukan sesuatu hal terkadang pikiran kita menerawang ke hal yang lain, sehingga apa yang sedang kita kerjakan tidak dapat dinikmati sepenuhnya. Padahal ketika SMA dulu, bahkan aktivitas belajar di kelas dapat dilakukan dengan penghayatan sepenuhnya, baik gurunya enak atau enggak pikiran fokus dengan apa yang dihadapi pada saat itu juga, gak menerawang ke mana-mana…apa gara-gara kompleksitas permasalahan?</p>
<p>Sebelumnya saya sudah <a href="http://eecho.wordpress.com/2008/11/19/organizing-your-life-your-mind/">memposting</a> pembahasan yang sama dengan ini, tetapi solusi yang saya tawarkan sebelumnya tidak terlalu praktis. Solusi tersebut hanya mampu dipertahankan penulis selama seminggu saja sejak komitmen dicanangkan, karena ketidakdisiplinan dan juga faktor-faktor lain. Oleh karena itu saya coba cari solusi-solusi yang lebih bersifat praktis gak terlalu repot, Cuma ngubah hal-hal yang sederhana seperti mengubah mindset dan sikap duduk <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> .</p>
<p>Cara-cara ini saya temukan di web entah berantah, pada web tersebut si penulis ingin membuat AI (Artificial Intelligence) yang menyerupai manusia, kemudian dia menyimpulkan kebijaksanaan-kebijaksanaan yang dapat membuat aktivitas manusia lebih efisien</p>
<p>1. <strong>If you want something done, do it yourself</strong> &#8211; Ini lebih ke mentalitas, dengan melakukan sesuatu yang direncanakan sampai selesai, akan memberikan kepuasan kepada kita, dan meningkatkan kepercayaan diri, semakin banyak yang tidak terselesaikan mengurangi tingkat kepercayaan diri…tapi dalam suatu kasus kita harus melakukan pendelegasian<br />
2. <strong>Never procrastinate anything you can do right now</strong> &#8211; Ini yang cukup sulit nih, banyak faktor yang membuat kita menunda, point-point berikutnya salah satu sebab kita menunda sesuatu<br />
3. <strong>When you have several things you could be doing and don&#8217;t know which to do: Just do any one of them!</strong> &#8211; Jangan terlalu banyak timbang-timbang, eksekusi aja hal yang paling mudah, yang kira-kira paling cepat selesai, dan paling kecil membutuhkan resource pikiran<br />
4. <strong>Always assume that you will succeed</strong> &#8211; Ketika melakukan sesuatu anggap bahwa kita pasti berhasil kalau kita melakukannya, tidak ada yang sia-sia kalau kita sudah mencoba, kegagalan terjadi justru karena kita tidak melakukan sesuatu, tetapi keluar dari plan (target) bukanlah sebuah kegagalan&#8230;<br />
5. <strong>If you can&#8217;t find a solution, change the rules</strong> &#8211; ketika mentok, relax dulu sejenak, jalan2 dulu, liat-liat awan …tarik nafas (kalau yang ini mah masalah hidup dan mati <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> ), kemudian berpikir kembali, liat dengan paradigma yang lain…jangan terlalu terpatok dengan satu sudut pandang…cari jalan lain, kalau tadi belok kanan, sekarang coba belok kiri<span id="more-151"></span><br />
6. <strong>If you cannot do anything about something, there is no point in worrying about it</strong> &#8211; sikap menyesal, gundah, atas sesuatu yang telah dikerjakan tidak ada gunanya….lebih baik paradigmanya ke evaluasi, ambil pelajaran dan fokus kedepan&#8230;jadi inget statement teman saya  yang sering dia keluarkan &#8220;Menyesal&#8230;menyesal&#8230;&#8221; hehe<br />
7. <strong>Do not rely on conscious decision for speed, Just do it</strong> &#8211; Otak sadar sampai ke kesimpulan kira-kira membutuhkan beberapa detik, tetapi gerak refleks hanya membutuhkan 100 milisecond sampai ke sebuah tindakan…ini cocok untuk orang moody, gak usah banyak berpikir kenapa kok males, kenapa kok gak semangat…dah lakukan aja…gak usah banyak dipikirin…berpikir dan bertindak berbanding terbalik, ketika banyak berpikir maka akan mengurangi tingkat aksi dan sebaliknya, gunakan pendekatan yang sesuai dengan keadaan yang dihadapi<br />
8. <strong>Don&#8217;t try to explain away your actions for yourself</strong> &#8211; bersikap lah jujur dengan apa yang dilakukan, misalnih kita lagi belajar di jalan, terus temen bilang &#8220;rajin amat lu&#8221;, kemudian kita menjawab &#8220;ah ngga, iseng..iseng aja&#8221;, ketika kita tidak bersikap jujur, kita kehilangan fokus dengan apa yang sedang kita kerjakan…mengurangi self-knowledge atas apa yang dilakukan, dan pikiran jadi ke-distract dengan ucapan kita sebelumnya, mengurangi self-concious kita&#8230;<br />
9. <strong>Listen to your intuition, but do not believe it unconditionally</strong> &#8211; kadang dalam suatu keadaan kita ada baiknya mengikuti intuisi (kadang saya lakukan), kita gak bisa ngejelasin secara logis apa keputusan ini terbaik atau tidak, tetapi saat kita mengikuti intuisi, ada inspirasi  yang memberikan pandangan baru yang cukup fantastis, memberikan suntika adrenalin, semangat dan perasaan termotivasi….setelah ada waktu untuk berpikir baru kita urai kembali benang permasalahan yang ada, dan mengambil pelajaran dari yang telah dilakukan…intuisi tidak menjamin apa yang kita putuskan benar, tetapi kadang kita perlu bergerak, dan intuisi memberi jalan untuk itu.</p>
<p>Kemudian ada aspek-aspek fisik yang harus diperhatikan, terutama orang-orang yang aktifitasnya lebih banyak di depan meja, berpikir. Sebenarnya hal yang sederhana tetapi sering diacuhkan<br />
1. <strong>Cari ruangan kerja yang sirkulasi udaranya bagus</strong> &#8211; jangan sampai otak nggak dapet oksigen dengan cukup…karena akibatnya FATAL!!! Hehe saya sering tumbang (aka tidur) karena emang kamar saya agak sumpek, oleh karena itu sekarang seringnya nangkring di depan pintu,<br />
2. <strong>Perbaiki sikap duduk</strong> &#8211; sikap duduk juga berkaitan dengan asupan oksigen ke otak, ditambah klo kita merasa nyaman pikiran kita dapat fokus dengan apa yang sedang kita kerjakan, terutama coba cari posisi yang dapat membuat punggung kita tetap lurus<br />
3. <strong>Atur tingkat kekenyangan</strong> &#8211; ini resikonya FATAL juga, hehe bisa tumbang juga. Klo kekenyangan perut ama otak berebut oksigen, klo perut yang menang ya mata kita tiba2 jadi berat…otak gak susah berpikir, klo otak yang menang (kasus yang sangat jarang atau bahkan impossible), klo otak menang pastinya perut demo lah <img src='http://s.wordpress.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /><br />
4. <strong>Olahraga teratur</strong> &#8211; ini biar ngelancarin peredaran darah dan juga memberikan otak asupan oksigen yang baik, tapi klo gak teratur dan load-nya gede mah biasanya malah tumbang (tidur) abis olahraga..</p>
<p>Ada tipe-tipe orang yang simple minded yang terkadang tidak perlu mengetahui kenapa saya harus begini dan begitu dan dia sangat efisien dalam eksekusi, jadi dalam kondisi-kondisi tertentu kadang mending kerjain aja gak usah banyak berpikir…tapi itu untuk kasus-kasus eksekusi, kalo untuk aktivitas berpikir, problem solving, planning beda lagi pendekatannya</p>
<p>Kemudian jangan lupa, bagi muslim kan harus selalu menjaga hubungan dirinya dengan Allah dalam setiap aktivitas (idrak silabilah), sehingga kita akan terus merasa semangat dalam melakukan sesuatu dan berusaha dengan sebaik-baiknya melakukan hal tersebut karena akan bernilai pahala disisiNya. Berdoa agar diberikan kemudahan dan jalan, juga dijauhkan dari godaan syaitan dan sifat malas.</p>
<p><em>&#8220;Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, tetapi pada masing-masingnya ada kebaikan. Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu dan mintalah tolong kepada Allah, serta jangan lemah loyo. Jika ada sesuatu yang menimpamu maka janganlah engkau berkata, &#8216;Seandainya aku melakukannya, maka pasti akan seperti ini dan itu&#8217;, tetapi katakanlah, &#8216;Allah telah menetapkan, dan apa saja yang Dia kehendaki, pasti terjadi&#8217;, sebab kata &#8217;seandainya&#8217; itu membuka tindakan syaitan&#8221; </em>(HR. Imam Muslim)</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eecho.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eecho.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eecho.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eecho.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eecho.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eecho.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eecho.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eecho.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eecho.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eecho.wordpress.com/151/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eecho.wordpress.com&blog=1058254&post=151&subd=eecho&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eecho.wordpress.com/2009/02/02/being-multitaskingbeing-stumped/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e9998e66d809ac2753e98dc082c1c98f?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">eecho</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Arigatou Okasan</title>
		<link>http://eecho.wordpress.com/2008/12/23/arigatou-okasan/</link>
		<comments>http://eecho.wordpress.com/2008/12/23/arigatou-okasan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Dec 2008 12:20:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eecho</dc:creator>
				<category><![CDATA[About My Mind]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Creation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eecho.wordpress.com/?p=128</guid>
		<description><![CDATA[Maaf, tidak banyak yang bisa kuberikan
Maaf, jika selama ini saya tidak memberikan yang terbaik,
Menjadi anak shaleh yang dapat dibanggakan olehmu

Sering lidah, dan tangan ini menyakiti hatimu
Maaf, setiap ku sadar telah menyakitimu, saya sangat-sangat menyesalinya
Tapi sepatah katapun tidak dapat keluar dari mulutku

Sungguh, saya ingin memberikan yang terbaik untukmu
Tidak pernah sedikitpun ingin membebanimu
Tapi lagi-lagi kebodohan dan kemalasanku [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eecho.wordpress.com&blog=1058254&post=128&subd=eecho&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">Maaf, tidak banyak yang bisa kuberikan</p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">Maaf, jika selama ini saya tidak memberikan yang terbaik,</p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">Menjadi anak shaleh yang dapat dibanggakan olehmu</p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">Sering lidah, dan tangan ini menyakiti hatimu</p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">Maaf, setiap ku sadar telah menyakitimu, saya sangat-sangat menyesalinya</p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">Tapi sepatah katapun tidak dapat keluar dari mulutku</p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">Sungguh, saya ingin memberikan yang terbaik untukmu</p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">Tidak pernah sedikitpun ingin membebanimu</p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">Tapi lagi-lagi kebodohan dan kemalasanku merepotkan dirimu</p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">Ketika uban-uban mulai bermunculan, aku mulai menyadarinya</p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">Dari setiap helai rambutmu tertanam seribu kebaikan pada diriku</p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">Aku tidak pernah dapat membalasnya, walau seribu tahun lama hidupku</p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">Ketika keriput-keriput muncul, wajah kepayahanmu terlihat jelas dimataku</p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">Tetapi kau selalu terlihat tegar didepanku</p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">Memberiku semangat untuk terus berjuang</p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">Terima Kasih, Jazakillah Khairan Katsiran</p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">Di setiap nafasku terdapat doamu</p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">Di setiap pembuluh darahku, mengalir kebaikan-kebaikanmu</p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">Tidak pernah kulupakan kasih sayangmu</p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">Walau aku telah dewasa tetapi aku tetap malu tuk mengungkapkannya</p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">Aku benar-benar mencintaimu</p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">Kaulah orang yang paling kucintai setelah rasa cintaku pada Rasul</p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">Walau kadang ku terjatuh pada keegoan dan nafsu</p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">Tapi aku tidak akan melepas harapanmu dipundakku</p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">Insya Allah aku akan menjadi bagian dari para pejuang di jalan Allah</p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">Sehingga kau bisa membanggakan diriku di tengah-tengah manusia</p>
<p style="font-family:Calibri;font-size:11pt;margin:0;">Terima kasih ibu, atas segalanya</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eecho.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eecho.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eecho.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eecho.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eecho.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eecho.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eecho.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eecho.wordpress.com/128/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eecho.wordpress.com/128/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eecho.wordpress.com/128/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eecho.wordpress.com&blog=1058254&post=128&subd=eecho&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eecho.wordpress.com/2008/12/23/arigatou-okasan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e9998e66d809ac2753e98dc082c1c98f?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">eecho</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Otodidak, Pilihan atau Keharusan? Minimalizing Knowledge Gap</title>
		<link>http://eecho.wordpress.com/2008/11/24/otodidak-pilihan-atau-keharusan-minimalizing-knowledge-gap/</link>
		<comments>http://eecho.wordpress.com/2008/11/24/otodidak-pilihan-atau-keharusan-minimalizing-knowledge-gap/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Nov 2008 15:55:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eecho</dc:creator>
				<category><![CDATA[About My Mind]]></category>
		<category><![CDATA[Informatics Idea]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eecho.wordpress.com/?p=107</guid>
		<description><![CDATA[Di jaman internet saat ini dunia telah menjadi &#8216;flat&#8217;, setiap individu di penjuru dunia kini dapat langsung berkompetisi tanpa halangan ruang dan waktu, yang menjadi penilaian adalah kompetensi. Konsep &#8216;flat&#8217; inipun membuat individu kini dapat berkompetisi secara langsung dengan tim atau perusahaan sekalipun, walau bukan sebuah pertarungan yang fair jika seorang individu harus melawan sebuah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eecho.wordpress.com&blog=1058254&post=107&subd=eecho&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Di jaman internet saat ini dunia telah menjadi &#8216;flat&#8217;, setiap individu di penjuru dunia kini dapat langsung berkompetisi tanpa halangan ruang dan waktu, yang menjadi penilaian adalah kompetensi. Konsep &#8216;flat&#8217; inipun membuat individu kini dapat berkompetisi secara langsung dengan tim atau perusahaan sekalipun, walau bukan sebuah pertarungan yang fair jika seorang individu harus melawan sebuah perusahaan.</p>
<p>Ada sebuah anugrah dengan adanya internet, arus aliran informasi dan pengetahuan pada negara-negara maju kini menjadi lebih deras dan dapat diakses di belahan dunia manapun. Hal itu setidaknya dapat mengurangi &#8216;gap&#8217; knowledge antara negara berkembang dan negara maju. Dimana saya yang fokus di dunia IT sangat-sangat terbantu dengan adanya internet saat ini.</p>
<p>Tetapi setelah menelusuri &#8216;komunitas maya&#8217; yang mayoritas kontributor2-nya dari negara maju, memberikan sebuah gambaran bahwa knowledge gap itu masih cukup besar. Pada sebuah komunitas &#8216;application framework&#8217; saya menemukan seorang kontributor yang umurnya masih 20tahunan, yang dapat memberikan sebuah &#8216;knowledge&#8217; yang cukup mendalam dan orisinal hasil kreatifitasnya. Kemudian dari milis-milis yang saya ikuti, kontributor2 negara maju biasanya sangat mengetahui teknologi yang digunakan sehingga paradigmanya tidak lagi sebagai user tetapi sebagai &#8216;developer&#8217; memberikan masukan-masukan kepada komunitas untuk perbaikan-perbaikan pada aplikasi(software). Sedangkan saya hanya baru bisa bertanya, bagaimana menjalankan ini dan itu, masih sebagai user.</p>
<p>Pertama saya merasa itu hal yang wajar, karena memang asal muasal teknologi itu dari negara-negara berkembang. Wajar kan toh fasilitas edukasi kita masih kalah dibanding mereka. Tetapi setelah berdiskusi dengan teman yang sedang belajar di sono no, ada aspek pendidikan kita yang tidak efisien, dan membuat pemahaman akan keilmuan kita menjadi &#8217;setengah-setengah&#8217;.  Klo kt temen saya itu disana belajarnya tuh &#8220;praxis oriented&#8221;, yang dalam bahasa lainnya mungkin bisa disederhanakan dengan &#8220;knowing, doing, and being context&#8221; (ngutip judul buku). Maksudnya?<br />
<span id="more-107"></span><br />
Jadi sistem pembelajaran di negara maju kasus temen saya di jerman (untuk tingkat universitas), ternyata kontak dengan industrinya itu cukup kuat. Artinya setiap hal yang dipelajari dapat di&#8217;test&#8217; langsung di dunia nyata yaitu dunia bisnis(industri). Saya jadi inget ada universitas di berlin (lupa) dalam sebuah tayangan televisi, jadi di univ itu ada &#8216;perusahaan&#8217; dalam kampus, mahasiswa-mahasiswa disitu banyak yang magang disitu dan infrastruktur kampus pun seperti &#8216;menyatu&#8217; dengan infrastruktur perusahaan walaupun pengelolaan detailnya saya gak tau gimana, jadi universitasnya dah High Tech (BJ Habibie bilang). Dengan begitu mahasiswa-mahasiswa dapat mengetahui gambaran dimana ilmunya akan diimplementasikan. Ato seperti MIT, Carnegie yang banyak melakukan penemuan untuk dimanfaatkan di dunia industri (dunia real) dan saling timbal balik (industri membiayai risetnya). Berbeda dengan di Indonesia yang ikatan universitas ama industri nya gak &#8216;deket-deket&#8217; amat, sehingga banyak kasus yang bidang kerjanya tidak sejalan dengan jurusan yang dia ikuti waktu di Universitas.</p>
<p>Bagi orang yang diberi kesempatan untuk S2/S3 mungkin merasakan hal yang berbeda, dia dapat menspesialisasikan ilmunya, tetapi sekali lagi tanpa ada proses sinergi dengan dunia industri, anak S2 pun mungkin saja masih wandering ketika dia harus memilih pekerjaan mana yang seharusnya dia pilih. Apalagi bagi anak S1, yang pengetahuannya masih umum, kalau ngutip dosen saya bilang &#8220;Anak S1 itu adalah orang yang siap belajar&#8221;, jadi belum siap pakai karena harus diberi waktu untuk belajar terlebih dahulu. Saya sih setuju2 aja dengan kata2 siap belajar….tapi kok baru S1 ya baru siap belajar, kenapa gak dari dulu-dulu…padahal orang-orang diujung dunia sana sudah siap pakai dan siap berkompetisi walau dengan kapasitas keilmuan S1.</p>
<p>Jika secara potensi saya tidak meragukan orang-orang Indonesia, tetapi tanpa proses sinergi dengan industri, potensi-potensi itu tidak secara maksimal dapat dikembangkan. Orang-orang yang berprestasi lebih senang pergi keluar negeri karena disana mereka memiliki fasilitas untuk mengaplikasikan keilmuannya. Alternatif lain dimana seseorang menciptakan lapangan industri dengan berentrepreneur untuk di Indonesia kadang tidak terlalu didukung, tidak ada policy tuk &#8216;membantu&#8217; entrepreneur yang baru terjun dengan dukungan dana dan keilmuan dari pemerintah (ato saya gak tau?). Padahal untuk proses alih teknologi dari negara maju harus ada instrumen industri yang dapat mengaplikasikan teknologi tersebut. Klo gini caranya Indonesia bakal jadi user terus.</p>
<p>Dengan adanya internet sebenarnya bisa sih indonesia cukup mengangkat dirinya dan mempercepat proses alih teknologi dari negara-negara maju….Otodidak! Sebenarnya definisi otodidak ini harus diperjelaskembali. Kadang orang membatasi diri dengan proses belajar hanya bisa sempurna dilakukan melalui lembaga pendidikan (D1, D2, … S1, S2, S3), dan menganggap proses otodidak hanya menghasilkan pemahaman yang tidak sistematis, serabutan, tidak metodologis, dll. Atau klo bahasa IF tuh, anak S1 tingkatannya dah analis bukan programmer lagi, klo belajar programming secara otodidak sampai kapanpun akan tetap jadi programmer….apa betul?</p>
<p>Ada deskripsi yang dapat menjelaskan otodidak dengan lebih baik:<br />
<em>Informal learning is by definition unsystemized and depends upon learner’s self motivation to direct their own learning. Sometimes referred to as autodidactism, informal learning is the most common type of learning, in fact it is so common that many participants do not even recognize that they are learning when they investigate or research a topic of interest. In a self-reported survey of 1562 adults in 1998, Livingstone (1999) found that Canadians were averaging about 15 hours a week in informal learning activities. Self-directed learning is however rarely credential zed or recognized by accrediting bodies, professions or employers. The recent and continuing availability of learning and information resources on the Net has created opportunities for very significant improvements in the capacity to engage in informal learning (Candy, 2004). Proponents of Self-directed learning often hold antagonistic attitudes towards formal education systems which they see as monopolistic, coercive and inefficient. This sense was captured by Albert Einstein’s famous quote that “The only thing that interferes with my learning is my education.”</em></p>
<p>Jadi sebenarnya yang membedakan otodidak atau tidak adalah tuntutannya, klo otodidak tuntutannya sepenuhnya dari diri sendiri, arahan, metode, cara semua ditentukan oleh diri sendiri, sedangkan akademis tuntutannya dari universitas/lembaga pendidikan. Menurut saya baik otodidak maupun tidak semuanya sama-sama dapat menghantarkan pada tingkat keilmuan yang sama. Tetapi karena arahan, metode otodidak ditentukan oleh diri sendiri, setiap otodidakers (istilah sendiri ini mah) harus benar-benar mengetahui metodologi yang baik dalam berotodidak.</p>
<p>Mengapa harus otodidak? Ya bener kata einstein &#8220;satu hal yang menghalangi proses belajar saya adalah pendidikan (akademis)&#8221;. Justru dengan otodidak kita dapat mengembangkan seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya objek yang ingin dipahami tanpa terikat dengan batasan-batasan tingkat akademis (S1, S2, S3), yang penting adanya akses informasi/pengetahuan untuk mendalami ilmu-ilmu itu. Apalagi bagi orang-orang yang tidak memiliki akses pendidikan(akademik), otodidak mau tidak mau menjadi satu-satunya solusi untuk dia bisa tetap &#8217;stay tune&#8217; dengan dunia.</p>
<p>Dari pengalaman saya, kadang (sebagian besar) saya justru banyak belajar mengenai bagaimana mengimplementasikan pengetahuan yang saya miliki  bukan dari bangku kuliah, tetapi dari dunia nyata atau informasi di Internet. Internet sebenarnya telah memberikan akses kepada paper2, buku2, bahkan profesor2 yang bisa kita tanya selama kita punya akses internet. Tetapi karena pokok2 pembahasan itu kadang tidak terkait secara langsung, memfilter, mengkategorikan dan memverifikasi informasi yang didapat menjadi hal yang sangat penting. Sehingga kita tetap dapat fokus terhadap subjek yang sebenarnya ingin kita pelajari.</p>
<p>Kemudian ada hal yang penting juga, sebagai otodidakers sangat disarankan memiliki komunitas untuk saling sharing, koreksi atas ilmu-ilmu yang dimilikinya. Tentunya kualitas komunitas akan berpengaruh terhadap knowledge yang akan didapat. Pada akhirnya knowledge gap dengan negara-negara maju dapat benar-benar diminimalisir ketika kita dapat dengan aktif terlibat, berkontribusi dalam komunitas pengetahuan yang melibatkan kontributor-kontributor di seluruh dunia yang memahami teknologi dengan secara mendalam. Kemudian kita dapat menularkannya (mentranslasikannya) kepada komunitas-komunitas lokal untuk bisa meningkatkan tingkat kompetensi dalam negeri.</p>
<p>Untuk benar-benar menghilangkan knowledge gap memang tak bisa secara individu, membutuhkan tangan yang lebih besar….pemerintah!!! IPTN bisa membuat N250 karena dukungan finansial dari negara (Pak Habibie sendiri tidak akan mungkin mampu), tidak mungkin seorang individu dapat mengalahkan sebuah negara.</p>
<p><em>You can’t do it by yourself, no matter how smart you are. Markets move too quickly, technologies grow too complex, and too many smart people are investing too much time and money in innovation. And, by the way, lots of those smart people are working in teams, trying to beat you out. (Steve Jobs)</em></p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eecho.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eecho.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eecho.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eecho.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eecho.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eecho.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eecho.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eecho.wordpress.com/107/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eecho.wordpress.com/107/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eecho.wordpress.com/107/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eecho.wordpress.com&blog=1058254&post=107&subd=eecho&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eecho.wordpress.com/2008/11/24/otodidak-pilihan-atau-keharusan-minimalizing-knowledge-gap/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e9998e66d809ac2753e98dc082c1c98f?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">eecho</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Organizing Your life, Your Mind</title>
		<link>http://eecho.wordpress.com/2008/11/19/organizing-your-life-your-mind/</link>
		<comments>http://eecho.wordpress.com/2008/11/19/organizing-your-life-your-mind/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Nov 2008 06:14:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eecho</dc:creator>
				<category><![CDATA[About My Mind]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eecho.wordpress.com/2008/11/19/organizing-your-life-your-mind/</guid>
		<description><![CDATA[Dalam dunia informasi dan profesionalisme seperti saat ini, beberapa orang dari kita merasakan overwhelming terhadap informasi atau overwhelming terhadap aktivitas (misal karena rutinitas kerja). Hal tersebut kadang-kadang membuat suatu perasaan uncovenience bagi tubuh dan juga pikiran. Saya dan juga beberapa teman saya kadang merasakan &#8216;kebingungan/stress&#8217; tak beralasan pada suatu waktu, atau ketika mengerjakan subjek A [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eecho.wordpress.com&blog=1058254&post=92&subd=eecho&ref=&feed=1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div class='snap_preview'><br /><p>Dalam dunia informasi dan profesionalisme seperti saat ini, beberapa orang dari kita merasakan overwhelming terhadap informasi atau overwhelming terhadap aktivitas (misal karena rutinitas kerja). Hal tersebut kadang-kadang membuat suatu perasaan uncovenience bagi tubuh dan juga pikiran. Saya dan juga beberapa teman saya kadang merasakan &#8216;kebingungan/stress&#8217; tak beralasan pada suatu waktu, atau ketika mengerjakan subjek A kadang-kadang pikiran memikirkan B, C, dan seterusnya.</p>
<p>Hal ini diperparah biasanya dengan banyaknya subjek yang harus dipikirkan, atau jumlah role yang dimiliki seseorang. Misalnya pada satu waktu seseorang harus memikirkan masalah rumah tangga, kerja, dan juga organisasi. Keadaan tersebut bisa membuat seseorang tidak produktif, karena pikiran-pikiran tersebut seakan terus mengganggunya, ketika dia di kantor mengerjakan suatu pekerjaan, masalah-masalah rumah kadang terbawa dan juga sebaliknya. Hasilnya ketika dia dalam keadaan bingung tersebut justru tidak ada satupun masalah yang terselesaikan, hanya pikiran-pikiran stres yang tidak beralasan yang muncul. Padahal masalah itu butuh sebuah tindakan (penyikapan) bukan hanya dipikirkan.</p>
<p>Saya setuju dengan satu statement pada Quantum Learning yang ditulis oleh bobbi Deporter dan Mike Hernacki. Ada satu statement yang menyatakan bahwa tubuh mempengaruhi pikiran dan juga sebaliknya pikiran mempengaruhi tubuh. Pada buku itu dijelaskan bahwa ketika posisi tubuh kita negatif , misalnya coba anda tundukkan kepala anda (seperti orang sakit kepala), kernyitkan dahi anda, terus pasang ekspresi cemberut pada muka, dan cobalah berpikir positif! Ternyata tidak bisa. Sehingga dibuku itu menyimpulkan bahwa ketika belajar ambillah posisi tubuh yang nyaman. Juga sebaliknya ketika pikiran kita negatif, maka cenderung sikap-sikap tubuh kita pun negatif, misal ketika anda marah (emosi, kesal, dll) coba anda tersenyum……pasti gak bisa (klo bisa juga paling senyum imitasi), ketika anda senyum otomatis emosi anda positif. Terus hubungannya dengan permasalahan diatas apa?<span id="more-92"></span></p>
<p>Nah ternyata setelah saya coba dikit aja..(belum terbiasa), ketika kita memaksakan tubuh kita untuk teratur dan terorganisir, maka otomatis pikiran kita juga lebih terorganisir dan meminimalisir potensi stres. Ketika pada satu hari kita dikedepankan pada berbagai rutinitas/masalah, maka jika dipagi hari itu kita mengatur jadwal aktivitas-aktivitas apa yang akan dikerjakan dengan timeline-timeline yang telah kita atur. Maka beban pikiran akan sedikit terkurangi, ketika kita menentukan jadwal, secara bawah sadar pikiran akan melupakan masalah2 yang tidak berhubungan pada jadwal tersebut. Sehingga ketika saya menentukan pada hari ini jam 9 saya akan mengerjakan A, kemudian setelahnya akan mengerjakan  B, dan seterusnya…walaupun saya tidak dapat memenuhi jadwal yang telah ditentukan dengan tepat, tetapi pikiran menjadi lebih teratur dan tidak lagi lompat-lompat dibandingkan saya tidak menentukan lebih dulu aktivitas-aktivitas apa yang akan dikerjakan dalam sebuah jadwal.</p>
<p>Sama juga ketika kita sedang tidak ada jadwal (kosong), hal itupun terkadang dapat menimbulkan masalah jikalau kita tidak menentukan aktivitas-aktivitas apa yang akan dikerjakan pada hari itu. Selain biasanya jadi mondar-mandir gak jelas, atau malahan tidur seharian (padahal tubuh nggak butuh2 amat tidur), atau malah pusing karena bosan…nah pada saat itupun menentukan apa yang akan dilakukan dengan membuat jadwal menjadi efektif dan produktif serta membuat pikiran kita lebih sehat karena memiliki fokus. Jadi ketika kita membuat tubuh kita terorganisir, maka otomatis pikiran pun menjadi terorganisir. Ketika rutinitas kita kacau, tidak ada jadwal, maka ketika banyak masalah muncul, pikiran pun menjadi semrawut.</p>
<p>Tetapi kadang di era saat ini ada suatu pekerjaan yang sangat menyita pikiran cukup besar dan intens, sehingga kadang sulit untuk dilupakan ketika kita telah berada di rumah atau waktu untuk beristirahat. Malahan kadang karena tekanan-tekanan misal deadline, sangat penting, atau belum ketemu juga solusinya hal itu dapat mempengaruhi sampai ke tidur kita. Akhirnya besok kita bangun dengan kepala sakit dan masalah pun belum selesai. Pada situasi seperti ini kita seperti sedang berkendaraan tetapi remnya blong, ingin sekali &#8216;rehat&#8217;/berhenti sejenak, tetapi kok sepertinya kita tidak dapat mengendalikan pikiran sendiri.</p>
<p>Pada kondisi-kondisi seperti itu yang kita butuhkan adalah &#8216;break&#8217; sejenak, karena berpikir pada kondisi stres seperti itu tidaklah &#8216;clear&#8217; dan juga tidak sehat. Oleh karena itu waktu-waktu break seperti waktu shalat telah tiba, benar-benar bisa merefresh pikiran yang sudah kusut. Tentunya shalat yang khusyu, bukannya shalatnya yang justru jadi terganggu karena pikiran-pikiran yang ada. Kemudian ada juga cara lain yang biasanya saya gunakan, exercise sampai cape. Setelah berolahraga yang menguras tenaga, tubuh menjadi sangat lelah, kadang jadi malas ngapa-ngapain. Sesuai dengan teori diatas, ternyata ketika tubuh kita sangat lelah, pikiran pun jadi malas mikir apa-apa, yang ada adalah ingin istirahat. Biasanya setelah istirahat sejenak tersebut pikiran menjadi lebih &#8216;fresh&#8217; dan mampu berpikir jernih kembali plus tubuh pun menjadi makin sehat.</p>
<p>Mendisiplinkan diri tuk membuat jadwal-jadwal emang agak susah (bagi saya), tetapi klo gak dipaksain dan aktivitas kita mengalir tanpa perencanaan biasanya mengarahkan kita ke &#8216;kekacauan&#8217; pikiran yang berujung stress dan sesuai teori diatas (lagi) ketika pikiran kita tidak sehat, maka tubuh pun menjadi tidak sehat. So..Organizing your life, your mind.</p>
  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eecho.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eecho.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eecho.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eecho.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eecho.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eecho.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eecho.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eecho.wordpress.com/92/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eecho.wordpress.com/92/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eecho.wordpress.com/92/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eecho.wordpress.com&blog=1058254&post=92&subd=eecho&ref=&feed=1" /></div>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eecho.wordpress.com/2008/11/19/organizing-your-life-your-mind/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e9998e66d809ac2753e98dc082c1c98f?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">eecho</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>