Confuse, Melancholic, Rethinking
Je suis confuse lorsque la rationalité est disparu
Emotion conduit ma façon de penser
Mon chemin est acculée le à une Cul de Sac
Au moins en ce moment, je sens être à une humain étant
Force-moi à repenser, est-ce le destiné moyen
Mon âme clignotant vers le passé
Wandering ce qui va arriver à l’avenir
C’est comme si le temps est à l’arrêt cochant
I’m confused when rationality is gone
Emotion leads my way of thinking
My path is cornered on a Cul de Sac
At least at this moment, I feel to be a human being
Force me to reconsider, is this the destined way
My mind flashes to the past
Wandering what will happen in the future
It is as if time has stopped ticking
*Buat ali dan uyun, moga dilancarkan akad & walimahnya
*Semoga sukses buat arif yang besok mau sidang
*Buat teman-teman yang lain, semoga diberi kemudahan tuk semua urusannya
[Draft - Part 1] Cold and Dark
Malam itu kota leipzig terasa sepi dan dingin, daun-daun coklat dan kering jatuh berterbangan ditiup angin yang cukup menusuk kulit. Cahaya lampu kota terlihat seperti lilin-lilin kecil, terangnya ditutupi embun yang sangat tebal, begitu remang-remang dan keberadaannya hanya dapat menjaga sang pengguna jalan untuk tiga meter kedepan saja. Jalan-jalan kosong seperti kota mati, manusia-manusia pengisi kota ini lebih memilih berbaring di atas sofa didepan perapiannya, menyalakan televisi dan menonton satu opera sabun yang setiap hari sabtu pukul 21.00 ditayangkan oleh stasiun tv Beindo.
Di pinggir kota, asap racun mengepul dari sebuah rokok filter bercampur dengan embun. Pada taman yang kini terlihat seperti sebuah pemakaman yang telah lama tak dijamah oleh manusia. Dia duduk dibangku kayu khas eropa yang klasik, dikelilingi pohon-pohon meranggas yang rontok yang hanya menyisakan sedikit daun-daunnya yang terakhir. Tubuhnya terlihat sedang kelelahan menggigil sekedar untuk mempertahankan suhu badannya yang kian turun. Wajahnya yang kian pucat adalah bahasa alami dari tubuh yang ingin mengatakan bahwa dia dalam keadaan yang kepayahan. Kontradiktif dengan pikiran tubuhnya, sebuah senyum yang miris dan tatapan yang tajam tetapi kosong terlihat dari raut muka sang pria tersebut.
Hancurkan diri ini tanpa makna seiring waktu berjalan
Sebuah kesalahan tidak pernah dapat ditarik lagi jika telah keluar dari selongsongnya
Telah lama dia berpikir, terlihat dari puntung-puntung yang telah berserakan. Tetapi semakin lama dia merenung semakin kusut mukanya, dahinya mengernyit seperti kerutan-kerutan pada orang tua. Semakin lama asap yang mengepul semakin banyak, dan malam pun semakin larut. Orang-orang yang berjalan disitu pasti sudah menggigil kedinginan, dan ingin segera lari ke depan perapiannya. Tetapi pria itu seakan sedang memanaskan tungku dalam dirinya, konsentrasi pikirannya membuat dia tidak merasa berada pada cuaca -5 derajat celcius.
Memang tidak ada pilihan lagi bagi pria itu, mau tidak mau dia harus dapat menemukan kunci permasalahan yang sekarang sedang membelitnya. Sebuah pertaruhan besar akan terjadi esok, dia tidak akan tinggal diam dan mengakui kekalahannya. Satu hal kecil yang dibutuhkan hanyalah kepingan puzzle dari teka-teki besar yang sedikit demi sedikit telah terurai didalam kepalanya. Kini dia berpacu dengan waktu, dia tak mungkin menunggu lebih lama lagi, sebelum tubuhnya membeku dan aliran darah dalam tubuhnya berhenti. Kini jam sudah menunjukkan pukul 23:15, suhu telah turun menjadi -10 derajat celcius. Baru kali ini terlihat seorang mempertaruhkan nyawanya dalam cara yang sangat aneh, duduk di sebuah taman dan memacu adrenalinnya untuk menemukan jawaban sebelum tubuhnya membeku.
“Sial, setengah jam lagi aku duduk disini, besok orang-orang akan menemukan sesosok mayat sedang duduk tolol memegang satu batang rokok dimulutnya” pria itu menggumam dengan dirinya sendiri, seakan-akan dia berbicara pada orang lain. Pada saat dia berniat mengambil batang rokok yang terakhir, tiba-tiba terdengar sirine dari kejauhan, warna terang merah tampak dari sisi barat kota. Walau hanya cahaya kemerahan yang terlihat dia sepertinya dapat merasakan panasnya sampai ke dadanya. Senyuman tersungging mempertegas kepuasan dirinya akan hal yang baru saja terlintas pada kepalanya. “Rupanya Tuhan masih memberi cahaya untukku, besok sepertinya matahari akan memberikan sinarnya pada diriku”. Tawanya menggaung seakan menyambut kobaran api yang sedang menjilat-jilati di sisi kota leipzig.
Surat untuk Saudaraku
Wahai saudaraku aku telah menerima surat darimu
Surat berisi jeritan hatimu atas kebiadaban manusia-manusia terkutuk
Teriakan dirimu atas kepengecutan para pemimpin yang diamanahi mengurusi umatnya
Surat yang basah karena tetesan air mata kepedihan
Kepedihan akan ketidakberdayaan umat, yang banyak tapi hanya sekedar buih dilautan
Surat yang berisi harapan akan sosok Salahudin Al-Ayubi, yang melindungi tanah suci dengan Jihad
Kemarahan terlihat jelas dari goretan penamu
Kemarahan akan kemunafikan-kemunafikan pemimpin dunia yang menutup mata atas pembantaian ini
“Sungguh jika nyawaku sebanyak 1000, maka ambillah nyawaku untuk menggantikan para syuhada2, ibu yang melahirkan pejuang-pejuang islam, dan anak-anak yang kelak akan mendirikan agamaNya” kagum aku dengan ucapan di surat mu itu wahai saudaraku
Yakinlah saudaraku, tidak ada satupun tetesan darah yang sia-sia di sisiNya
Bahkan tetesan itu lebih berat dari pegunungan himalaya
Setiap tetesan darah para syuhada jatuh ke bumi, membuat getaran ke seluruh dada manusia di seluruh dunia
Tidak akan lama lagi saudaraku, Allah akan menurunkan pertolonganNya
Menyatukan hati kaum muslim dari ufuk timur hingga barat, menyatukannya dalam satu barisan
Barisan yang akan melindungi setiap nafas dari umatnya, menghilangkan kedzaliman dan membawa kedamaian
Barisan dalam satu komando untuk menghentikan setiap penjajahan dimuka bumi
Allahu akbar!!! Isyhadu bi anna muslimun!!!
Allah menjanjikan kepada orang-orang mukmin, lelaki dan perempuan, (akan mendapat) surga yang dibawahnya mengalir sungai-sungai, kekal mereka di dalamnya, dan (mendapat) tempat-tempat yang bagus di surga ‘Adn. Dan keridhaan Allah adalah lebih besar; itu adalah keberuntungan yang besar. (At-Taubah 72)
Arigatou Okasan
Maaf, tidak banyak yang bisa kuberikan
Maaf, jika selama ini saya tidak memberikan yang terbaik,
Menjadi anak shaleh yang dapat dibanggakan olehmu
Sering lidah, dan tangan ini menyakiti hatimu
Maaf, setiap ku sadar telah menyakitimu, saya sangat-sangat menyesalinya
Tapi sepatah katapun tidak dapat keluar dari mulutku
Sungguh, saya ingin memberikan yang terbaik untukmu
Tidak pernah sedikitpun ingin membebanimu
Tapi lagi-lagi kebodohan dan kemalasanku merepotkan dirimu
Ketika uban-uban mulai bermunculan, aku mulai menyadarinya
Dari setiap helai rambutmu tertanam seribu kebaikan pada diriku
Aku tidak pernah dapat membalasnya, walau seribu tahun lama hidupku
Ketika keriput-keriput muncul, wajah kepayahanmu terlihat jelas dimataku
Tetapi kau selalu terlihat tegar didepanku
Memberiku semangat untuk terus berjuang
Terima Kasih, Jazakillah Khairan Katsiran
Di setiap nafasku terdapat doamu
Di setiap pembuluh darahku, mengalir kebaikan-kebaikanmu
Tidak pernah kulupakan kasih sayangmu
Walau aku telah dewasa tetapi aku tetap malu tuk mengungkapkannya
Aku benar-benar mencintaimu
Kaulah orang yang paling kucintai setelah rasa cintaku pada Rasul
Walau kadang ku terjatuh pada keegoan dan nafsu
Tapi aku tidak akan melepas harapanmu dipundakku
Insya Allah aku akan menjadi bagian dari para pejuang di jalan Allah
Sehingga kau bisa membanggakan diriku di tengah-tengah manusia
Terima kasih ibu, atas segalanya
A Wandering Halley
I don’t know where i’m come from
I just flying on the spatial emptiness space
On darkness, cold, desolate, absolute vacuum outer space
Traveling the universe, that seem no end point
Every second wandering whoose gravity that on me now
Attract me, with an unsight force
On my journeys, only once that i’m feel life
When i’m 76th years old, i was seeing the beatiful place
Green light with the vast deep blue around
When i was close, i can feel the air, wonderful feeling
The esctatic poison flowing on my blood
I don’t know if i was on Pain or Rapture
Even my body hurting, burning because of the atmosphere stab on me
Even i must shattered, i want land my feet on that thing just once
But i can’t, even i really want to
The unsight force just allow me to travel around on that thing
When my times is up, i was pushing back to the dark
Pushing back to where i was come from
Once again i’m return to my death
Travelling the universe, absolute vacuum outer space
Then i’m wandering again, “what the meaning of my existences”
….arrgghh kok postingnya puisi lagi…
Nafas, Malam, Rintik Air
Anugerah yang indah, ketika suara gemericik hujan menentramkan hati
Memberi keteduhan akal agar dapat berpikir sejenak
Memikirkan kembali makna nafas-nafas yang telah memberi kehidupan pada raga ini
Menyusun mosaik-mosaik masa lalu untuk melangkah kedepan
Merenunglah sejenak dari putaran bumi yang tiada henti
Menguatkan kembali hati yang telah terkikis akan cinta dunia
Air hujan di malam ini adalah bentuk kasih sayangNya agar kita dapat tidur terlelap
Sehingga kita dapat melangkah dibumiNya di pagi hari untuk melakukan perjuangan menegakkan kalimat-kalimatNya
“Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?”
How can i Reach the Sky with My two Feet?
STUPID AGREEMENT!!!
from the who can’t think twice before say anything
Being Artificially Tough
kuingin terus berlari
mengejar cahaya indah penuh keceriaan
tersenyum, dan menggapai impian
hingga lelah kaki tuk melangkah lagi
dan keluh keringat membasahi seluruh badan
bangkitlah diriku
terjang semua dinding yang menghadang
tak usah takut, karena kita pasti menang
dan semua impian akan terwujud
ketika keputusasaan menghampirimu
ingatlah akan semua kebaikan yang pernah kau terima
jadikan semua anugrah itu sebagai bahan bakar semangat
tuk menjalankan roda-roda mimpi yang telah kau tanamkan
perjalanan adalah sebuah rentetan langkah terurut
satu langkah mengantarkan pada langkah berikutnya
dan pada masanya ada suatu saat langkah terakhir dipijakan
saat itulah kita mengetahui arti dari perjalanan ini
Relax for a While
Kadang cape juga nulis2 pemikiran…sekali-kali nulisnya pake perasaan ama maen2 dikit, subjek pertama subjek favorit saya…hidup
Mencintai adalah sebuah anugrah, hidup pun adalah anugrah
Tetapi hal tersebut tergantung bagaimana kau memandangnya
Dan juga menyikapinya
…setelah waktu berjalan…terbetik kesadaran bahwa saya bukan superman…
disaat kau lelah, sandarkan kepalamu pada pundakku
disaat kau berat, letakkan tanganmu dibahuku
seberapapun kuatnya dirimu, engkau tetaplah seorang manusia
begitu juga dengan diriku
mmmhhh…abis nulis tetep cape…tidur mungkin solusinya

leave a comment