<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Start to Write</title>
	<atom:link href="http://eecho.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://eecho.wordpress.com</link>
	<description>Sebuah Lema dalam Kamus Blog Dunia</description>
	<lastBuildDate>Thu, 08 Dec 2011 15:46:42 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='eecho.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Start to Write</title>
		<link>http://eecho.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://eecho.wordpress.com/osd.xml" title="Start to Write" />
	<atom:link rel='hub' href='http://eecho.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Pujangga Tua Tidak Lagi Puitis</title>
		<link>http://eecho.wordpress.com/2011/11/04/pujangga-tua-tidak-lagi-puitis/</link>
		<comments>http://eecho.wordpress.com/2011/11/04/pujangga-tua-tidak-lagi-puitis/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Nov 2011 18:13:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eecho</dc:creator>
				<category><![CDATA[Minus Serius]]></category>
		<category><![CDATA[Sastra Creation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eecho.wordpress.com/?p=196</guid>
		<description><![CDATA[Setelah menikah jadi kurang puitis-puitis lagi ~.~, ditagih-tagih terus ama istri puisi-puisinya . Akhirnya saya menyimpulkan rupanya jomblo itu mendorong seseorang untuk jadi seorang pujangga, dengan kesendiriannya, kemeranaannya maka dia mudah mengungkapkan isi hatinya yang sembilu (no offense) hehe. Alasan-alasan suami yang sudah menikah tidak lagi puitis dan romantis : Pusing mikirin kerjaan dan kebutuhan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eecho.wordpress.com&amp;blog=1058254&amp;post=196&amp;subd=eecho&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Setelah menikah jadi kurang puitis-puitis lagi ~.~, ditagih-tagih terus ama istri puisi-puisinya <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> . Akhirnya saya menyimpulkan rupanya jomblo itu mendorong seseorang untuk jadi seorang pujangga, dengan kesendiriannya, kemeranaannya maka dia mudah mengungkapkan isi hatinya yang sembilu (no offense) hehe.</p>
<p>Alasan-alasan suami yang sudah menikah tidak lagi puitis dan romantis :</p>
<ol>
<li>Pusing mikirin kerjaan dan kebutuhan rumah tangga&#8230; [istri: ah standar...]</li>
<li>Tidak lagi galau <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' />  &#8230; [istri:wew...]</li>
<li>Duh sayang sudah terlambah kerja&#8230;.[istri:huh!]</li>
<li>Aku tak akan berhenti&#8230;menemani&#8230;dan menyayangimu&#8230;[istri:ah lagunya wali itu]</li>
<li>Untuk apalagi puisi sayang, kau kan sudah disampingku&#8230; sini-sini <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' />  [istri:klepek2]</li>
</ol>
<p>Bahwa sebaik-baik lelaki atau suami adalah berbuat baik pada istrinya.(HR:Imam Tirmidzi &amp; Ibnu Hibban)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eecho.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eecho.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eecho.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eecho.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eecho.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eecho.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eecho.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eecho.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eecho.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eecho.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eecho.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eecho.wordpress.com/196/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eecho.wordpress.com/196/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eecho.wordpress.com/196/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eecho.wordpress.com&amp;blog=1058254&amp;post=196&amp;subd=eecho&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eecho.wordpress.com/2011/11/04/pujangga-tua-tidak-lagi-puitis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e9998e66d809ac2753e98dc082c1c98f?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">eecho</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Deep Thinking vs Thinking Fast</title>
		<link>http://eecho.wordpress.com/2011/11/04/deep-thinking-vs-thinking-fast/</link>
		<comments>http://eecho.wordpress.com/2011/11/04/deep-thinking-vs-thinking-fast/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 04 Nov 2011 17:47:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eecho</dc:creator>
				<category><![CDATA[About My Mind]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eecho.wordpress.com/?p=194</guid>
		<description><![CDATA[Artikel ini berkaitan juga dengan postingan lama mengenai kerangka berpikir, yang katanya bahasanya membulet . Oke, balik ke topik ini. Kenapa saya memilih tema ini, karena kedua cara berpikir ini berbeda sekali tetapi sama-sama penting, oleh karenanya penggunaanya diterapkan untuk kasus yang berbeda. Berpikir mendalam adalah berpikir dengan mengaitkan informasi dan kaitan-kaitannya selengkap mungkin, sedangkan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eecho.wordpress.com&amp;blog=1058254&amp;post=194&amp;subd=eecho&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Artikel ini berkaitan juga dengan postingan lama mengenai <a href="http://eecho.wordpress.com/2008/10/29/apa-itu-kerangka-berpikir/">kerangka berpikir</a>, yang katanya bahasanya membulet <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> . Oke, balik ke topik ini. Kenapa saya memilih tema ini, karena kedua cara berpikir ini berbeda sekali tetapi sama-sama penting, oleh karenanya penggunaanya diterapkan untuk kasus yang berbeda.</p>
<p>Berpikir mendalam adalah berpikir dengan mengaitkan informasi dan kaitan-kaitannya selengkap mungkin, sedangkan berpikir cepat adalah berpikir yang membatasi konteks informasi yang dilibatkan dan prioritas pertama adalah kecepatan dalam menyimpulkan. Mengapa penting untuk membedakannya? karena keduanya memiliki tujuan yang sangat penting dan harus diletakkan pada posisi-nya yang sesuai.</p>
<p>Berpikir mendalam bertujuan untuk mencari solusi komprehensif dan lebih bersifat perbaikan dengan current solution. Nah pembahasan ini tidak dicukupkan pada definisi tapi harus sampai implementasi. Karena berpikir mendalam mengkaitkan banyak informasi maka tentunya membutuhkan waktu dan konsentrasi yang cukup banyak. Oleh karena itu hal ini tidak dapat dilakukan di tengah rutinitas. Tetapi sayangnya hal ini jarang dilakukan, karena hal ini cukup melelahkan dan durasinya yang tidak bisa diperkirakan. Saya jadi ingat cerita seorang anak IPHO yang baru dapat menyelesaikan persoalan dalam waktu 3 bulan.</p>
<p>Hal yang menjadi koreksi bagi saya juga adalah, jarang sekali kita meluangkan waktu untuk berpikir mendalam. Pertama, karena tuntutan pekerjaan tidak memungkinkan memberi waktu yang cukup untuk berpikir mendalam kecuali para peneliti. Kedua, rasa malas harus meluangkan waktu diluar jam kerja (red:tidak dibayar) untuk memikirkan sesuatu yang serius. Tetapi tanpa adanya ini, maka tidak akan ada terobosan-terobosan baru. Contoh kasus untuk berpikir mendalam adalah, bagaimana mengeluarkan Indonesia dari krisis multidimensi, konsep perbaikan dan tahapan implementasinya?<span id="more-194"></span></p>
<p>Sedangkan berpikir cepat sangat dibutuhkan dalam rutinitas sehari-hari kita. Berpikir cepat adalah memahami konteks dengan cepat dan merespon dengan cepat. Permasalahan-permasalahannya pun tentunya yang lebih bersifat pragmatis, tapi belum tentu tidak kalah penting dengan tipe permasalahan berpikir mendalam. Banyak kesalahan yang juga sering saya lakukan adalah berpikir terlalu njlimet untuk kasus sederhana. Ini harus saya garis bawahi, bahwa sering sekali terjadi berpikir njlimet untuk kasus sederhana. Mengapa kebiasaan berpikir njlimet ini terjadi? karena kita terbiasa menggunakan cara berpikir akademis (aka:ilmiah), sehingga tanpa sadar terbawa pada rutinitas. Menambah banyak premis-premis yang sebenarnya membuat semakin lama keputusan dibuat, parahnya kadang tanpa menambah sedikitpun kualitas dari keputusan.</p>
<p>Kebiasaan njlimet ini jarang ditemui pada masyarakat desa, yang kalau biasa saya sebut itu karakter &#8220;easy going&#8221;, gak terlalu njlimet dalam berpikir, cukup jalani aja. Sayangnya karakter &#8220;easy going&#8221; ini kadang tidak terbiasa dengan berpikir mendalam. Tapi perlu diingat, &#8220;easy going&#8221; berbeda dengan berpikir cepat. Berpikir cepat membutuhkan keseriusan, keseriusan dalam pengamatan dan keseriusan untuk memutuskan dengan cepat, bukan asal cepat tapi tidak dipikirkan dengan seksama.</p>
<p>Kenapa sih membahas ini? (eit pertanyaanya sama kayak diatas nih) .. tenang sekarang jawabannya lebih visual &#8230;</p>
<p>Dulu saya sering menggunakan cara berpikir njlimet untuk kasus-kasus yang seharusnya di selesaikan dengan cara berpikir cepat, efeknya adalah produktifitas yang kurang. Nah ketika sudah membaca kitab Suratul Badihah (berpikir cepat) tulisan Taqiyuddin an-Nabhani saya jadi agak sadar makanya saya mulai membiasakan berpikir cepat. Eit..eit&#8230;rupanya kebablasan juga, saya jadi malas berpikir mendalam, ini terkait juga dengan rutinitas sih, tapi seharusnya kita tetap melakukan keduanya, karena keduanya sama-sama penting. Khususnya untuk berpikir mendalam, memang harus diluangkan waktu khusus untuk mengumpulkan konsentrasi dan juga referensi-referensi.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eecho.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eecho.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eecho.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eecho.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eecho.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eecho.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eecho.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eecho.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eecho.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eecho.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eecho.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eecho.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eecho.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eecho.wordpress.com/194/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eecho.wordpress.com&amp;blog=1058254&amp;post=194&amp;subd=eecho&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eecho.wordpress.com/2011/11/04/deep-thinking-vs-thinking-fast/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e9998e66d809ac2753e98dc082c1c98f?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">eecho</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Setelah Lama Ngontrak Akhirnya Pindah Rumah</title>
		<link>http://eecho.wordpress.com/2011/04/14/setelah-lama-ngontrak-akhirnya-pindah-rumah/</link>
		<comments>http://eecho.wordpress.com/2011/04/14/setelah-lama-ngontrak-akhirnya-pindah-rumah/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 14 Apr 2011 02:42:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eecho</dc:creator>
				<category><![CDATA[About My Mind]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eecho.wordpress.com/?p=191</guid>
		<description><![CDATA[hmmm, judul diatas bukanlah makna denotasi tapi konotatif, ya setelah lama blog ini tidak tersentuh diambil sebuah keputusan untuk memindahkan &#8220;sebagian&#8221; tulisan ke rumah yang baru. Karena blog ini agak nyampur dalam konteks tulisan, ada yang curhat personal ada juga yang pemikiran serius nah itu membuat blog ini gak tematik. Selanjutnya tulisan-tulisan serius akan diposting [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eecho.wordpress.com&amp;blog=1058254&amp;post=191&amp;subd=eecho&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>hmmm, judul diatas bukanlah makna denotasi tapi konotatif, ya setelah lama blog ini tidak tersentuh diambil sebuah keputusan untuk memindahkan &#8220;sebagian&#8221; tulisan ke <a href="http://ikhsan.net">rumah</a> yang baru. Karena blog ini agak nyampur dalam konteks tulisan, ada yang curhat personal ada juga yang pemikiran serius nah itu membuat blog ini gak tematik. Selanjutnya tulisan-tulisan serius akan diposting di <a href="http://ikhsan.net">rumah</a> yang baru, blog ini akan berisi tulisan-tulisan ringan saja.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eecho.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eecho.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eecho.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eecho.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eecho.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eecho.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eecho.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eecho.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eecho.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eecho.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eecho.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eecho.wordpress.com/191/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eecho.wordpress.com/191/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eecho.wordpress.com/191/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eecho.wordpress.com&amp;blog=1058254&amp;post=191&amp;subd=eecho&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eecho.wordpress.com/2011/04/14/setelah-lama-ngontrak-akhirnya-pindah-rumah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e9998e66d809ac2753e98dc082c1c98f?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">eecho</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Ketika Sebuah Kebaikan Harus Berbalas</title>
		<link>http://eecho.wordpress.com/2010/04/22/ketika-sebuah-kebaikan-harus-berbalas/</link>
		<comments>http://eecho.wordpress.com/2010/04/22/ketika-sebuah-kebaikan-harus-berbalas/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Apr 2010 02:43:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eecho</dc:creator>
				<category><![CDATA[About My Mind]]></category>
		<category><![CDATA[Islam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eecho.wordpress.com/?p=187</guid>
		<description><![CDATA[Pagi ini kepala agak pusing karena malam tidur terlalu larut (jam 2 malam), padahal sebelumnya sudah menentukan resolusi agar tidur lebih awal. Sebelum beranjak kepada kode-kode di komputer yang akan membuat kepala ini berkerut saya sempatkan untuk menuangkan pikiran-pikiran yang ada dalam benak di pagi ini. Judul diatas saya ambil untuk mengkritisi budaya materialistis di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eecho.wordpress.com&amp;blog=1058254&amp;post=187&amp;subd=eecho&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pagi ini kepala agak pusing karena malam tidur terlalu larut (jam 2 malam), padahal sebelumnya sudah menentukan resolusi agar tidur lebih awal. Sebelum beranjak kepada kode-kode di komputer yang akan membuat kepala ini berkerut saya sempatkan untuk menuangkan pikiran-pikiran yang ada dalam benak di pagi ini.</p>
<p>Judul diatas saya ambil untuk mengkritisi budaya <em>materialistis</em> di tengah-tengah masyarakat yang telah menjadi akidah utama di sebagian kalangan. Kita tentunya sudah tidak aneh dengan pernyataan-pernyataan &#8220;ngapain kamu nolongin dia? kan dia orangnya rese, gak ada untungnya juga nolongin dia&#8221;, atau dengan pernyataan &#8220;emang kamu pernah nolong saya? ngapain saya tolong kamu&#8221; dan kalimat-kalimat sejenisnya yang mengungkapkan konsep harus adanya &#8216;timbal-balik&#8217; dalam tolong menolong.</p>
<p>Mungkin pernyataan-pernyataan diatas terlalu ekstrim, tetapi kita bisa tarik kedalam hal yang lebih halus. Setiap kebaikan dalam masyarakat ini kadang terlalu dikorelasikan dengan sebuah hubungan &#8220;saling menguntungkan&#8221;, seperti pernyataan &#8220;maaf sudah merepotkan, ini uang untuk sekedarnya&#8221;. Tidak salah memang, tetapi yang saya garis bawahi disini adalah kecenderungan masyarakat untuk menilai segalanya dari hubungan &#8220;kemanfaatan&#8221;. Ketika ada suatu permintaan untuk &#8220;merepotkan&#8221; orang lain, identik dengan balasan tertentu. Padahal bagi seorang muslim hal itu harusnya dilakukan karena keinginannya untuk beribadah kepada Allah SWT.</p>
<p>Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, dari Abu Huraira RA, Nabi SAW bersabda, &#8221;Barangsiapa melepaskan seorang Mukmin dari kesusahan hidup di dunia, niscaya Allah akan melepaskan kesulitan dari dirinya di hari kiamat. Barangsiapa memudahkan urusan (Mukmin) yang sulit, niscaya Allah akan memudahkan urusannya di dunia dan akhirat. Barang siapa menutup aib seorang Muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu senantiasa menolong saudaranya.&#8221;</p>
<p>Inti yang ingin saya sampaikan adalah, seharusnya ketika seorang muslim &#8220;direpotkan&#8221; oleh permintaan-permintaan orang lain, jangan sampai ada perrasaan merugi telah mengorbankan waktu dan tenaganya untuk memenuhi permintaan itu.</p>
<p>hhmm tulisannya kurang bagus&#8230;gak konsen nulis&#8230;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eecho.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eecho.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eecho.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eecho.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eecho.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eecho.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eecho.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eecho.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eecho.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eecho.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eecho.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eecho.wordpress.com/187/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eecho.wordpress.com/187/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eecho.wordpress.com/187/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eecho.wordpress.com&amp;blog=1058254&amp;post=187&amp;subd=eecho&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eecho.wordpress.com/2010/04/22/ketika-sebuah-kebaikan-harus-berbalas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e9998e66d809ac2753e98dc082c1c98f?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">eecho</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Emotion is Greatly Influence to Learning Performance</title>
		<link>http://eecho.wordpress.com/2009/10/23/emotion-is-greatly-influence-to-learning-performance/</link>
		<comments>http://eecho.wordpress.com/2009/10/23/emotion-is-greatly-influence-to-learning-performance/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 23 Oct 2009 04:02:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eecho</dc:creator>
				<category><![CDATA[About My Mind]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eecho.wordpress.com/2009/10/23/emotion-is-greatly-influence-to-learning-performance/</guid>
		<description><![CDATA[Kadang saya suka merasa aneh, pada suatu waktu saya sulit sekali memahami apa yang saya baca…diulang lagi terus menerus pun malah membuat saya makin pusing. Pada saat itu bukan materinya yang berat, tapi entah pada saat itu konsentrasi saya seperti pada titik terendah, sehingga materi yang sebenarnya mudah menjadi tidak dapat ditangkap, karena entah pikiran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eecho.wordpress.com&amp;blog=1058254&amp;post=183&amp;subd=eecho&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kadang saya suka merasa aneh, pada suatu waktu saya sulit sekali memahami apa yang saya baca…diulang lagi terus menerus pun malah membuat saya makin pusing. Pada saat itu bukan materinya yang berat, tapi entah pada saat itu konsentrasi saya seperti pada titik terendah, sehingga materi yang sebenarnya mudah menjadi tidak dapat ditangkap, karena entah pikiran saya terbang kemana. Pada suatu waktu yang agak rileks saya coba mencari apa sebenarnya yang menyebabkan hal tersebut, sampai pada suatu titik saya menyadari sesuatu yang memang tidak terlihat, emosi!</p>
<p>Emosi yang saya sebutkan disini artinya sangat luas, bukan hanya berarti marah tetapi segala perasaan yang sedang dialami oleh kita, baik emosi yang &#8216;ringan&#8217; atau yang &#8216;berat&#8217;. Emosi bisa berupa bosan, malas, marah, mellow, marah, suntuk, stress, antusias, bersemangat dsbnya. Selain itu ada juga emosi-emosi yang sifatnya lebih &#8216;abstrak&#8217;, seperti rasa inferior, guilty, messy, inconvenience, little anger, jealous dll yang secara tidak sadar mempengaruhi kualitas konsentrasi kita. Tapi jangan anggap emosi efeknya negatif, bisa juga positif terhadap kualitas konsentrasi kita tergantung jenis emosinya.</p>
<p>Coba bayangkan anda belajar pada saat dikejar deadline, atau berpikir pada saat sedang bosan dan jenuh! Contoh itu mungkin terlalu eksplisit, saya akan coba menarik kepada analogi yang lebih &#8216;mild&#8217;. Pada satu waktu yang bersamaan anda memiliki beberapa agenda atau permasalahan, setiap permasalahan meminta untuk diselesaikan secepatnya, bukannya kita jadi fokus pada satu permasalahan, dibenak kita malah muncul emosi (yang saya tidak tau menyebutnya apa yang membuat kita tidak tenang) sehingga membuyarkan konsentrasi akan pekerjaan-pekerjaan yang sedang kita coba atasi. Tapi yang menarik adalah pada satu kasus yang sama respon dari setiap orang bisa berbeda-beda, dan respon emosinya pun berbeda-beda, anda tahu kenapa? Karena setiap orang memiliki mindset yang berbeda-beda atas suatu permasalahan. Mindset itu lah yang men&#8217;drive&#8217; emosi apa yang akan keluar.</p>
<p><span id="more-183"></span></p>
<p>Pada suatu ketika pernah di lab saya kebingungan mengerjakan task dan waktu tinggal sebentar lagi, saya jadi agak panik…coba berpikir tapi tetap gak ngerti dan hanya bisa terpaku pada tugas didepan…kemudian teman saya mengatakan &#8220;udah jangan bingung, kerjain saja!&#8221;, suatu pernyataan yang gak masuk diakal, soalnya klo saya gak ngerti mana bisa saya kerjain, tapi anehnya pekerjaan itu selesai (saya bekerja tanpa berpikir) tapi dengan catatan saya tetap gak ngerti apa yang saya lakukan…walau kerjaan itu &#8216;tampak selesai&#8217;.</p>
<p>Tapi sayangnya jika kita berjalan secara spontan &#8216;behaviour emosi&#8217; itu seperti sesuatu yang &#8216;built-in&#8217; gak bisa diubah. Misal setiap kita menemui kasus seperti A emosi yang keluar pasti B, berapa kalipun bertemu dengan permasalahan tersebut. Oleh karena itu pada suatu titik dimana kita telah mengidentifikasi masalah &#8216;behaviour emosi&#8217; itu, perlu ada suatu dobrakan solusi…misal jika setiap kita diminta tuk melakukan sesuatu biasanya setuju, pada satu waktu bisa kita bereksperimen dengan mengatakan &#8216;TIDAK&#8217; dengan lantang, sikap itu memberikan feedback emosi yang drastis dari kebiasaan yang sebelumnya terjadi. Ada suatu waktu dimana kita meng-interrupt sifat spontan kita dan kita ganti respon tersebut dengan sesuatu yang berbeda, jika kita telah terjebak dengan &#8216;behaviour emosi&#8217; tersebut.</p>
<p>Pada paragraf diatas saya hanya memaparkan to breaking the behavioural response tanpa tahu efek itu positif atau negatif. Satu hal yang lebih penting lagi adalah sebenarnya ubah yang namanya MINDSET!! Semua permasalahan sikap kita kuncinya ada di MINDSET itu, tetapi sebelumnya kita harus jeli mengidentifikasi diri sendiri apa sebenarnya yang salah dari MINDSET yang kita miliki ini….Sun Tzu pernah bilang &#8220;Akan selalu menang orang yang mengetahui tentang dirinya dan orang lain, Bisa menang atau kalah jika hanya mengetahui tentang dirinya, dan akan selalu kalah jika tidak mengetahui tentang dirinya&#8221;. Mengetahui diri sendiri bukan berarti membatasi diri kita seperti apa yang dikatakan tes psikologi, tetapi lebih suatu alat agar kita bisa memperbaiki apa-apa yang telah menjadi kebiasaan jelek (respon spontan) diri kita dan MINDSET apa yang menyebabkan hal tersebut. Nah untuk mengubah MINDSET itu mustahil dari diri sendiri, harus ada input dari informasi luar disertai sifat keterbukaan dan kekritisan dari kita, dan mencoba untuk tidak memandang dari kacamata kuda.</p>
<p>Learning Perfomance -&gt; Emotion &lt;-&gt; Mindset &lt; -&gt; Openness and Critical Thinking</p>
<p>Learning Performance -&gt; Emotion -&gt; Habit (Behavioural Response) -&gt; Break the routines (find the root of problems)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eecho.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eecho.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eecho.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eecho.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eecho.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eecho.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eecho.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eecho.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eecho.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eecho.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eecho.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eecho.wordpress.com/183/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eecho.wordpress.com/183/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eecho.wordpress.com/183/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eecho.wordpress.com&amp;blog=1058254&amp;post=183&amp;subd=eecho&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eecho.wordpress.com/2009/10/23/emotion-is-greatly-influence-to-learning-performance/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e9998e66d809ac2753e98dc082c1c98f?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">eecho</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Information Overload</title>
		<link>http://eecho.wordpress.com/2009/10/15/information-overload/</link>
		<comments>http://eecho.wordpress.com/2009/10/15/information-overload/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Oct 2009 13:25:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eecho</dc:creator>
				<category><![CDATA[About My Mind]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eecho.wordpress.com/?p=180</guid>
		<description><![CDATA[SourceInternet adalah sebuah gerbang informasi yang jumlahnya luar biasa besar, sampai pada suatu titik dimana kita harusnya &#8216;aware&#8217; bahwa seberapa banyak informasi yang dapat kita cerna? Zaman sekarang dimana internet sangat mudah diakses, banyak orang mengalami yang namanya sindrom information overload. Sudah lama ingin menuangkan permasalahan ini, tetapi karena sifatnya kasat mata, sindrom &#8216;information overload&#8217; [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eecho.wordpress.com&amp;blog=1058254&amp;post=180&amp;subd=eecho&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>SourceInternet adalah sebuah gerbang informasi yang jumlahnya luar biasa besar, sampai pada suatu titik dimana kita harusnya &#8216;aware&#8217; bahwa seberapa banyak informasi yang dapat kita cerna? Zaman sekarang dimana internet sangat mudah diakses, banyak orang mengalami yang namanya sindrom information overload.  Sudah lama ingin menuangkan permasalahan ini, tetapi karena sifatnya kasat mata, sindrom &#8216;information overload&#8217; ini sulit untuk disimpulkan efeknya.</p>
<p>Pada proses berpikir ada satu komponen penting yaitu pencerapan informasi, dengan informasi inilah kita melakukan analisis dan menghasilkan kesimpulan. Pencerapan informasi ini dapat melalui bermacam-macam media, yang pastinya melibatkan alat indra terutama indra penglihatan. Buku, TV, Radio, dan Internet adalah salah satu sumber informasi yang kita serap untuk kemudian digunakan dalam proses berpikir.</p>
<p>Pada era pradigital, sumber informasi utama adalah media cetak dan radio/TV, pada saat itu jumlah informasi masih cukup &#8216;minim&#8217; dibandingkan dengan rutinitas yang dilakukan. Kemudian datang era internet, digitalisasi bermacam-macam media, sehingga terjadi ledakan informasi. Media cetak seperti buku dan koran mulai tergantikan dengan media internet, dan jumlah informasi yang diciptakan setiap waktunya melonjak dengan drastis. Jika sebelumnya bacaan yang wajib dibaca perhari adalah koran dan sedikit buku, sekarang &#8216;bacaan&#8217; yang wajib dibaca semakin bertambah walau penting atau tidak, seperti email, blog, facebook wall, twitter, halaman web, pdf paper, ebook, buku cetak, koran….dan banyak lainnya. Rutinitas itu terus berjalan tanpa disadari mulai membuat kita cepat lelah dan kurangnya konsentrasi dalam melakukan sesuatu, atau merasa sibuk tetapi tidak produktif.<span id="more-180"></span></p>
<p>Jumlah informasi menurut saya adalah bagai pedang bermata dua, jika kita manfaatkan dengan baik maka akan sangat berguna tetapi jika salah menggunakannya akan membuat kita celaka. Bagi sebagian orang yang tidak terpengaruh dengan dunia digital ini dan tetap dengan rutinitas lamanya akan selamat dari sindrom information overload, tetapi sayangnya banyak informasi-informasi yang akan dia lewatkan, karena media-media informasi itu sekarang sebagian sudah ditransmisikan (diedarkan) melalui media-media yang baru. Tetapi yang mengikuti trend juga mengalami efek negatif dari banyaknya informasi yang harus dia tampung.</p>
<p>Hal yang perlu diingat adalah bahwa membaca bukan proses pembelajaran sepenuhnya, maksudnya dengan membaca tidak otomatis membuat kita pintar. Ketika informasi itu masuk melalui proses membaca, kita harus coba mencernanya dan mengolahnya sampai menghasilkan kesimpulan dan ingatan itu kita simpan untuk proses berpikir selanjutnya. Tetapi jika kita membaca banyak informasi tanpa sempat dicerna sampai tahap kesimpulan kemudian kita membaca lagi informasi lainnya yang terjadi adalah memori yang &#8216;acak-acakan&#8217;, mudah lupa karena kaitan antar informasinya belum kita olah dengan baik, dan waktu yang banyak untuk membaca tersebut terasa menjadi sia-sia karena tidak dapat digunakan dengan baik.</p>
<p>Dalam buku quantum learning disarankan untuk melakukan jeda setiap 15 menit dalam suatu proses pembelajaran, bagi saya itu tidak lain adalah kesempatan bagi otak untuk mencerna informasi-informasi yang dia dapatkan sehingga tertata dengan baik.  Semakin banyak informasi yang belum ditata akan semakin berat kerja otak untuk menyusunnya, dan jika kita tidak cermat untuk coba memahaminya maka informasi-informasi tersebut akan dibuang secara otomatis.</p>
<p>Selain masalah cepat lupa, permasalahan yang lain adalah turunnya tingkat konsentrasi. Informasi yang terlalu banyak membuat kita sulit menemukan subjek mana saja yang perlu diperhatikan dan mana yang tidak. Memang memiliki banyak informasi membuat kita dapat melihat dari banyak perspektif, tapi resikonya kita harus membahasnya (memahaminya) lebih luas lagi dan seringkali malah jadi kewalahan. Dari informasi-informasi itu juga banyak yang sebenarnya tidak berkaitan sama sekali, sehingga sebenarnya ada banyak informasi yang tidak relevan dengan apa yang mau kita pikirkan, sayangnya informasi itu terus terngiang dikepala dan membuat konsentrasi kita buyar bahkan gak bisa konsentrasi sama sekali.</p>
<p>Terus bagaimana? Bagi saya hal pertama yang harus ditangani adalah masalahnya masuknya informasi. Kita harus bisa menentukan informasi apa saja yang benar-benar harus dibaca dan yang bisa kita acuhkan. Ingat sekali lagi bahwa bukan masalah jumlah informasi, tapi kualitas relasi antar informasi itu…klo saya suka menganalogikan dengan Google dan Bing, Bing bisa saja menghasilkan hasil pencarian lebih banyak, tapi kualitas pencarian Google jauh lebih mendekati maksud dibanding Bing. Ketika disekolah atau dikampus kita pasti sering berpikir mencoba memahami apa yang diajarkan guru/dosen, walau mereka hanya mengajar selama 2 jam tetapi kita berusaha mencernanya dalam waktu yang banyak. Coba bayangkan sekarang dimana kita menjadi lebih banyak membaca tetapi jarang mencoba memahaminya.</p>
<p>Kemudian? Semakin banyak membaca maka harus diimbangin dengan semakin banyak menulis…kenapa? Saya ibaratkan membaca adalah proses input, semakin banyak input maka harus banyak juga yang dikeluarkan kalau tidak maka aka leber dan hilang sia-sia. Menulis saya ibaratkan sebuah proses output hasil pengolahan input yang didapat. Menulis adalah sebuah proses mengkaitkan informasi-informasi yang kita punya dalam sebuah alur yang kita tulis. Sayangnya menulis kadang mentok karena keterbatasan informasi. Kalau mentok karena keterbatas info cari aja subjek lain yang lebih gampang untuk ditulis.</p>
<p>Sisanya …. Istirahat yang cukup, hindari aktivitas-aktivitas information intensive untuk pada saat istirahat terutama yang bersifat tekstual. Informasi yang inputnya non tekstual lebih &#8216;ringan&#8217; untuk diresap, kita masih bisa rileks selagi mencerna informasi tersebut, berbeda dengan media-media tekstual yang membutuhkan &#8216;sumber daya&#8217; lebih untuk memasukkannya kedalam kepala kita. Tapi setiap orang berbeda-beda, bisa jadi ada orang yang lebih rileks dengan membaca sesuatu, yang pasti kita harus tau kapan kita istirahat dan membiarkan pikiran kita rileks sejenak.</p>
<p><a href="http://Information Overload Xerox Paper">http://eecho.files.wordpress.com/2009/10/paper-tackling-information-overload-at-the-source.pdf</a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eecho.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eecho.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eecho.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eecho.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eecho.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eecho.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eecho.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eecho.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eecho.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eecho.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eecho.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eecho.wordpress.com/180/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eecho.wordpress.com/180/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eecho.wordpress.com/180/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eecho.wordpress.com&amp;blog=1058254&amp;post=180&amp;subd=eecho&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eecho.wordpress.com/2009/10/15/information-overload/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e9998e66d809ac2753e98dc082c1c98f?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">eecho</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Implementing idea to the real world</title>
		<link>http://eecho.wordpress.com/2009/08/23/implementing-idea-to-the-real-world/</link>
		<comments>http://eecho.wordpress.com/2009/08/23/implementing-idea-to-the-real-world/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 23 Aug 2009 00:21:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eecho</dc:creator>
				<category><![CDATA[About My Mind]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eecho.wordpress.com/2009/08/23/implementing-idea-to-the-real-world/</guid>
		<description><![CDATA[Sudah lama tidak meracau&#8230;. Ide atau pikiran adalah sebuah benda abstrak yang tidak terlihat yang hanya dapat hidup di dunia pikiran. Pikiran adalah sebuah konsep abstrak yang mensimulasikan suatu adegan dunia nyata. Ide tanpa diimplementasikan dalam suatu kasus nyata tidak akan memberikan efek apapun sehebat apapun ide tersebut. Kadang sebuah ide bukanlah sebuah hasil pemikiran [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eecho.wordpress.com&amp;blog=1058254&amp;post=176&amp;subd=eecho&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sudah lama tidak meracau&#8230;.</p>
<p>Ide atau pikiran adalah sebuah benda abstrak yang tidak terlihat yang hanya dapat hidup di dunia pikiran. Pikiran adalah sebuah konsep abstrak yang mensimulasikan suatu adegan dunia nyata. Ide tanpa diimplementasikan dalam suatu kasus nyata tidak akan memberikan efek apapun sehebat apapun ide tersebut.</p>
<p>Kadang sebuah ide bukanlah sebuah hasil pemikiran yang lengkap, sehingga kadang-kadang orang bingung bagaimana mengimplementasikan ide tersebut. Disisi lain ada beberapa orang yang lebih mengedepankan technical approaching dimana dia menangkap ide-ide terdekat yang implementable untuk mencapai ide besar yang telah dipikirkan sebelumnya. Jembatan-jembatan solusi sedikit demi sedikit akan terbuka untuk mencapai tujuan akhir tersebut.</p>
<p>We need a big picture, but it&#8217;s same important that we get the technical also. When the technical knowledge achieved the next step that must be acomplished is how to communicate with others, so the other can get the same thing like we see. This is the intense time, we must explain the whole thing, with really clearly. After explaining we must test if that can be doing together, after that we with slowly pace correcting the error that we made with still keep improving the quality of team work.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eecho.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eecho.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eecho.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eecho.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eecho.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eecho.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eecho.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eecho.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eecho.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eecho.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eecho.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eecho.wordpress.com/176/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eecho.wordpress.com/176/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eecho.wordpress.com/176/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eecho.wordpress.com&amp;blog=1058254&amp;post=176&amp;subd=eecho&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eecho.wordpress.com/2009/08/23/implementing-idea-to-the-real-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e9998e66d809ac2753e98dc082c1c98f?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">eecho</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Start to Write</title>
		<link>http://eecho.wordpress.com/2009/04/01/start-to-write/</link>
		<comments>http://eecho.wordpress.com/2009/04/01/start-to-write/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2009 10:08:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eecho</dc:creator>
				<category><![CDATA[About My Mind]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eecho.wordpress.com/?p=172</guid>
		<description><![CDATA[Judul posting ini sama dengan judul blog, tidak lain untuk mengembalikan semangat menulis yang sedikit demi sedikit terkikis oleh kesibukan. &#8220;Start to Write&#8221;, suatu kalimat yang simple, tidak ada argumentasi, analisis dan mengandung makna yang satu. Semangat pertama dari pendirian blog ini tidak lain adalah untuk memulai menulis. Banyak motivasi dibelakang pendirian, tetapi inti-nya adalah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eecho.wordpress.com&amp;blog=1058254&amp;post=172&amp;subd=eecho&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Judul posting ini sama dengan judul blog, tidak lain untuk mengembalikan semangat menulis yang sedikit demi sedikit terkikis oleh kesibukan. &#8220;Start to Write&#8221;, suatu kalimat yang simple, tidak ada argumentasi, analisis dan mengandung makna yang satu. Semangat pertama dari pendirian blog ini tidak lain adalah untuk memulai menulis. Banyak motivasi dibelakang pendirian, tetapi inti-nya adalah memulai untuk menulis.</p>
<p>Karena beberapa kesibukan, beberapa ide tidak dapat dituangkan dalam tulisan dan blogpun harus libur selama satu bulan. Tapi rupanya kalimat &#8220;start to write&#8221; selalu menghantui, kalimat itu seakan mengatakan &#8220;tulis aja, saya gak nuntut tulisan kamu bagus, atau berisi, tapi mulailah menulis&#8221;&#8230;.tidak menyesal saya menamai blog ini &#8220;Start to Write&#8221;. Rupanya hal ini memberikan pelajaran bahwa suatu kalimat yang sederhana tetapi bermakna jelas dan aplikatif lebih appealing dibanding visi yang dalam tetapi sulit mendeskripsikannya.</p>
<p>Sebenarnya ada beberapa topik yang ingin dibahas, diantaranya:</p>
<ol>
<li>Media tidak mungkin tidak memihak, Objektif tidak sama dengan memihak</li>
<li>Inti perubahan masyarakat [sesuai dengan momen pemilu]</li>
<li>Menulis sebagai terapi, increasing our self concious</li>
<li>Load balancing activity, thinking, speaking, mechanical activity</li>
<li>Novice -&gt; Expert, develop R-mode thinking system</li>
<li>Process Oriented, don&#8217;t rush!!!</li>
</ol>
<p>&#8230;.mmm setidaknya kalau dah ditulisin ada &#8216;sedikit&#8217; tanggung jawab pribadi untuk mengimplementasikannya. so&#8230;let&#8217;s start to write.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eecho.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eecho.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eecho.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eecho.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eecho.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eecho.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eecho.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eecho.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eecho.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eecho.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eecho.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eecho.wordpress.com/172/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eecho.wordpress.com/172/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eecho.wordpress.com/172/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eecho.wordpress.com&amp;blog=1058254&amp;post=172&amp;subd=eecho&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eecho.wordpress.com/2009/04/01/start-to-write/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e9998e66d809ac2753e98dc082c1c98f?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">eecho</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Confuse, Melancholic, Rethinking</title>
		<link>http://eecho.wordpress.com/2009/03/01/confusemelancholicrethinkingromantic/</link>
		<comments>http://eecho.wordpress.com/2009/03/01/confusemelancholicrethinkingromantic/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 01 Mar 2009 16:17:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eecho</dc:creator>
				<category><![CDATA[Sastra Creation]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eecho.wordpress.com/?p=165</guid>
		<description><![CDATA[Je suis confuse lorsque la rationalité est disparu Emotion conduit ma façon de penser Mon chemin est acculée le à une Cul de Sac Au moins en ce moment, je sens être à une humain étant Force-moi à repenser, est-ce le destiné moyen Mon âme clignotant vers le passé Wandering ce qui va arriver à [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eecho.wordpress.com&amp;blog=1058254&amp;post=165&amp;subd=eecho&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Je suis confuse lorsque la rationalité est disparu<br />
Emotion conduit ma façon de penser<br />
Mon chemin est acculée le à une Cul de Sac<br />
Au moins en ce moment, je sens être à une humain étant<br />
Force-moi à repenser, est-ce le destiné moyen<br />
Mon âme clignotant vers le passé<br />
Wandering ce qui va arriver à l&#8217;avenir<br />
C&#8217;est comme si le temps est à l&#8217;arrêt cochant</p>
<p><em>I&#8217;m confused when rationality is gone<br />
Emotion leads my way of thinking<br />
My path is cornered on a Cul de Sac<br />
At least at this moment, I feel to be a human being<br />
Force me to reconsider, is this the destined way<br />
My mind flashes to the past<br />
Wandering what will happen in the future<br />
It is as if time has stopped ticking</em></p>
<address><span style="color:#808080;"><em>*Selamat buat aboy dan piti, yudi dan nuri, barakallahu laka wa baraka alaika<br />
*Buat ali dan uyun, moga dilancarkan akad &amp; walimahnya<br />
*Semoga sukses buat arif  yang besok mau sidang<br />
*Buat teman-teman yang lain, semoga diberi kemudahan tuk semua urusannya</em></span><br />
</address>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eecho.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eecho.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eecho.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eecho.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eecho.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eecho.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eecho.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eecho.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eecho.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eecho.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eecho.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eecho.wordpress.com/165/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eecho.wordpress.com/165/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eecho.wordpress.com/165/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eecho.wordpress.com&amp;blog=1058254&amp;post=165&amp;subd=eecho&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eecho.wordpress.com/2009/03/01/confusemelancholicrethinkingromantic/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e9998e66d809ac2753e98dc082c1c98f?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">eecho</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Repositioning of Learning Process</title>
		<link>http://eecho.wordpress.com/2009/02/23/repositioning-of-learning-process/</link>
		<comments>http://eecho.wordpress.com/2009/02/23/repositioning-of-learning-process/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 23 Feb 2009 08:08:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>eecho</dc:creator>
				<category><![CDATA[About My Mind]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://eecho.wordpress.com/?p=140</guid>
		<description><![CDATA[Baru menyadari sesuatu yang cukup penting mengenai proses pembelajaran yang ada di kampus atau sekolah yang sebenarnya cukup kontraproduktif terhadap proses pembelajaran. Kita pasti memahami bahwa setiap orang memiliki kecepatan yang berbeda-beda dalam memahami suatu pelajaran, itu sangat-sangat manusiawi. Tetapi sayangnya hal itu tidak dapat diakomodasi oleh sistem pendidikan kita, yang pastinya menerapkan waktu yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eecho.wordpress.com&amp;blog=1058254&amp;post=140&amp;subd=eecho&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Baru menyadari sesuatu yang cukup penting mengenai proses pembelajaran yang ada di kampus atau sekolah yang sebenarnya cukup kontraproduktif terhadap proses pembelajaran. Kita pasti memahami bahwa setiap orang memiliki kecepatan yang berbeda-beda dalam memahami suatu pelajaran, itu sangat-sangat manusiawi. Tetapi sayangnya hal itu tidak dapat diakomodasi oleh sistem pendidikan kita, yang pastinya menerapkan waktu yang sama untuk satu mata pelajaran / mata kuliah, yaitu satu semester.</p>
<p>Bagi orang-orang yang dapat memahami cepat dalam tenggat waktu tersebut, selamat!!&#8230;tapi bagi sebagian yang lain apa yang terjadi? ini yang ingin saya coba bahas. Hal ini semakin menarik perhatian saya karena akhir-akhir ini terlihat banyak siswa yang semakin &#8216;tertekan&#8217; dengan tuntutan pendidikannya. Fenomena ini dapat kita liat ketika masa-masa UAN dan SNMPTN. Fenomena yang menurut saya sebuah keprihatinan dalam dunia pendidikan yang seharusnya mengedepankan kekritisan, rasa ingin tahu, kreativitas, dan kesenangan dalam sebuah proses belajar, tetapi kini diganti dengan tekanan, ketakutan, tuntutan, nilai, dan konsekuensi.</p>
<p>Dengan metode pendidikan seperti ini kegagalan menjadi sesuatu yang sangat tabu, dan sangat ditakuti, padahal dalam sebuah proses pembelajaran kegagalan merupakan sesuatu yang sangat-sangat normal. Dari kegagalan itulah kita dapat belajar dan mengkoreksi kekurangan-kekurangan kita. Mentalitas pembelajaran yang seharusnya dipenuhi oleh rasa penasaran dan keinginan mencoba sesuatu yang baru terpaksa dipendam demi memenuhi tuntutan-tuntutan yang ada.</p>
<p>Saya gak akan memfokuskan pada hasil pembelajaran dia, apakah lulus cepat atau tidak, lulus baik atau enggak tetapi saya lebih menyoroti hasil dari proses pendidikan ini yang membuat &#8220;orang kehilangan tujuan dari proses pembelajarannya, dan mematikan mentalitas pembelajar&#8221;&#8230;.<span id="more-140"></span></p>
<p>Belajar atau menuntut ilmu pada intinya adalah sebuah proses memahami sesuatu dari keadaan tidak paham menjadi paham. Tujuan dari orang belajar bisa bermacam-macam, tetapi semuanya bermuara pada usaha untuk menyelesaikan sebuah pertanyaan yang dihadapinya saat itu. Terlepas apakah ilmunya tersebut digunakan atau tidak, diimplementasikan atau tidak, tetapi state terakhir dari proses pembelajaran adalah memahami sesuatu. Salah satu parameter kita paham atau tidak akan sesuatu adalah kemampuan mentransfer pemahaman yang dimiliki kepada orang lain. Pada pembahasan yang lebih lanjut, sebuah pemahaman tidak dapat terlepas akan pencerapan fakta yang dapat diindera dalam benak seseorang. Misal: memahami cara mengemudi mobil tidak dapat terlepas dari praktek mengemudikan mobil secara langsung. tidak bisa bersimulasi dengan game need for speed. Misal2: memahami reaksi kimia tidak dapat terlepas dari percobaan yang dilakukan, mengamati perubahan-perubahan yang secara fisik dapat terindra, kemudian dikaitkan dengan teori yang diketahui sejak awal, dari hal itu barulah muncul pemahaman. Misal3: Pemain sepakbola akan memahami teori tendangan yang diajarkan dikelas dengan cara mencoba langsung menendang bola dilapangan. Tanpa pencerapan fakta yang terindera jelas, teori2 yang dimiliki hanya sebatas informasi bukan sebuah pemahaman.</p>
<p>Proses-proses pembelajaran nonformal, seperti kursus, langsung berguru pada seseorang masih menanamkan proses pembelajaran yang benar. Karena tujuan pembelajaran nonformal adalah siswa memahami apa yang diajarkannya terlepas dari tuntutan waktu dan juga nilai, pokoknya sampai bisa!!. Tetapi di sekolah kita menghadapai tuntutan-tuntutan nilai dan juga batasan-batasan waktu. Sehingga mau tidak mau siswa meletakkan parameter proses belajarnya hanya sebatas lulus dalam ujian, tidak peduli apakah dia memahami subjeknya ataukah tidak. Ujian-ujian yang diberikan pada sekolah merupakan tipe-tipe pengujian &#8216;hafalan&#8217;, siswa tidak dituntut untuk dapat mengaplikasikan ilmunya pada tataran teknis. </p>
<p>Kita flashback dulu&#8230;</p>
<p>Saya pernah bersitegang dengan teman kuliah karena dia protes akan nilai yang dia dapatkan. Dia begitu marah ketika saya mengatakan bahwa &#8220;sudah lah terima saja toh aturannya seperti itu&#8221;. Sistem penilaian di perkuliahan pada umumnya adalah dengan sistem huruf A, B, C, D dan E. Pada akhir masa perkuliahan dosen menetapkan standar dalam memutuskan A, B, dst. Misal dosen menentukan bahwa A &gt;= 80 maka sesuai aturan 79,9 pun jatuhnya ke B. Tetapi ada permasalahan ketika dia mendapatkan nilai B gemuk, maka dia berusaha bernegosiasi dengan dosen tuk mendapatkan nilai A. Ketika proses negosiasi itu berlangsung saya berdiskusi dengan dia dan menghasilkan kata2 yang bersifat emosional dan sangat tidak pantas. Dari kejadian itu dalam hati saya marah dengan sistem pendidikan saat ini, yang menjadikan proses pembelajaran ditujukan utamanya untuk nilai-nilai yang akan dicetak menjadi transkrip yang dapat menunjukkan bahwa nih saya pinter nih&#8230;nih IPK saya besar!!! Gaji saya dengan layak!!! </p>
<p>Saya cukup terharu dengan sejarah hidup Ajip Rosidi, dalam bukunya &#8220;Hidup Tanpa Ijazah : Yang Terekam dalam Kenangan&#8221;. Saya belum baca bukunya (gak punya duit <img src='http://s2.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_razz.gif' alt=':P' class='wp-smiley' /> ), saya hanya baca reviewnya saja. Buku-buku semacam itu cukup mendobrak doktrin-doktrin yang ada saat ini mengenai sistem pendidikan yang ada. Buku tersebut memberikan gambaran untuk menempatkan proses belajar di posisi yang benar, berani menentang topeng-topeng kebohongan yang ditawarkan oleh sistem pendidkan yang ada saat ini. </p>
<p>Penjara doktrin sistem pendidikan ini telah memaksa banyak adik-adik kita yang stress, tertekan, depresi menjalani proses pendidikannya. Mereka berjam-jam menghabiskan waktu dalam sehari untuk belajar, tetapi akhir dari proses tersebut hanya sebatas nilai-nilai dalam ijazah yang menyatakan bahwa mereka lulus. Mereka tidak mengerti untuk apa saya belajar ini dan itu. Bertahun-tahun membaca buku pelajaran untuk menghadapi ujian tanpa pernah bisa mengaplikasikan ilmunya. Ketika tuntutan pendidikan melebihi kemampuan yang dapat dia usahakan, maka keputusasaan, minder, dan rasa tidak percaya diri menjadi karakter yang tidak dapat terlepas dari mereka. </p>
<p>Seharusnya proses pembelajaran dapat menciptakan manusia-manusia kreatif, mandiri, tidak takut gagal. Manusia yang dapat memberikan kontribusi bagi peradabannya. Manusia yang dapat menciptakan nilai tambah untuk masyarakat dengan keilmuan yang dia miliki. Manusia yang dengan potensi seminim apapun dapat memaksimalkan potensi yang dia miliki untuk kemaslahatan umat. </p>
<p>Memposisikan proses belajar pada jalur yang benar akan membuat masyarakat lebih produktif. Proses pembelajaran yang benar dapat menciptakan orang-orang mandiri yang kedepannya dapat menularkan kemandiriannya. Proses belajar adalah sebuah virus kebangkitan, karena untuk mengubah seseorang maka hal pertama yang harus dilakukan adalah mengubah pemahaman yang ada dalam kepalanya. Setiap orang memiliki potensi yang dapat diberdayakan, sayang sekali jika potensi itu terpendam begitu lama karena proses pembelajaran pada institusi akademik tidak menuntutnya untuk mengaplikasikan ilmunya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/eecho.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/eecho.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/eecho.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/eecho.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/eecho.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/eecho.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/eecho.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/eecho.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/eecho.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/eecho.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/eecho.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/eecho.wordpress.com/140/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/eecho.wordpress.com/140/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/eecho.wordpress.com/140/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=eecho.wordpress.com&amp;blog=1058254&amp;post=140&amp;subd=eecho&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://eecho.wordpress.com/2009/02/23/repositioning-of-learning-process/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/e9998e66d809ac2753e98dc082c1c98f?s=96&#38;d=wavatar" medium="image">
			<media:title type="html">eecho</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
