Start to Write

Sepeda Tua dan Sepatu Tua

Posted in Cerita Pendek by eecho on June 11, 2007

Terpaksa untuk pagi ini gua menahan sedikit rasa lapar, hanya dua lembar roti saja yang masuk kedalam perut di sesi sarapan. Memang salah gua juga sih, akibat telat tuk bangun, maka tidak cukup waktu untuk mengambil piring di rak, menyendok nasi dari bakul di atas meja, dan menambahkan ikan asin plus sambal terasi…belum lagi ditambah waktu untuk memprosesnya sampai ke dalam lambung. Tetapi bukan tanpa alasan kenapa pagi ini gua telat bangun….tapi rasanya tidak usah diceritakan, toh nanti semuanya akan kalian ketahui. OK..now it’s time to go to school.
Seh..seh..oseh..(duh kayaknya suaranya nggak gini deh)…asal lu tau aja, tuk pergi ke sekolah yang gua cintai, gua menggunakan sepeda peninggalan kakek, sepeda bersejarah yang dipakai juga oleh bapak oemar bakri. Walaupun jarak antara rumah dan sekolah cukup jauh, tetapi gua lebih menikmati pergi dengan sepeda antik ini dibanding naik angkot, selain ngehemat, gua juga selalu sebel kalo udah kepepet waktu en ingin buru-buru nyampe di sekolah, eh malah si bang sopirnya nyantei parkir di pinggir jalan nungguin penumpang yang bikin gua makin telat. Oleh karenanya sepeda antik ini adalah senjata utama gua untuk menemani pergi ke sekolah. Semakin lama semakin cepat gua kayuh sepeda ini, soalnya jarum panjang di jam tangan pun makin cepat menuju angka dua belas, angka keramat bagi seorang siswa SMU yang sedang berangkat menuju kesekolahnya. Akhirnya seperti melihat garis finish dalam sebuah lomba balap sepeda, gua pun berhasil melaluinya dengan waktu tepat menunjukkan pukul 06:55…..Yess.

Setelah menyenderkan sepeda , gua mendengar seseorang berkata di belakang “Rif”, lalu gua dengan lemah gemulai menolehkan wajah manis yang kian sayu (duh…ni siapa sih yang nulis, kok jadi mual gini ya)…”Rif, sekarang kamu push up 20 kali, terus ambil tong sampah dan bersihkan sampah yang di dekat koridor kelas 2F, trus bersihin meja bapak, trus bikinin kopi dan jangan lupa bersihin WC juga” ujar Pak Fitri guru kimia paling killer di sekolah, loh kok, “bukannya saya masuk tepat waktu pak” terucap dengan nada tanpa dosa. “Apanya yang belum telat, kamu udah telat 20 menit, udah jangan protes…lakukan tadi apa yang bapa suruh, nanti jam kedua baru kamu boleh masuk…nih surat keterangan keterlambatan kamu”.

Apes banget…pas gua lihat lagi jam yang menempel di tangan yang halus ini, waduh pantesan….rupanya jarum detiknya aja udah nggak melakukan gerak harmonis sederhana lagi, woy. jarum. jarum. jarum. jangan kau tinggalkan daku….tidaaaaaaaaaakkk (duh sekarang bukan cuma mual nih, udah muntah darah dah, kalau pembaca ketemu penulisnya tolong bunuh aja tuh orang).

Dengan terpaksa gua mengikuti semua perintah Pak Fitri….”wuh, kalau bukan karena kumisnya gua nggak takut tuh ama pak Fitri” ujarku pada Anto yang juga kena hukuman karena telat. “Rif, sebaiknya kamu jangan ngomong kayak gitu, nggak baik loh buat kesehatan kamu”, “Wes…salah to, klo punya unek-unek itu justru harus dikeluarin, klo kamu ngerasa ill feel ama Pak Fitri, ungkapin aja men….” timbal gua.

“Nggak salah kok, emang Pak Fitri tuh wajar tuk dibenci…udah nggak ganteng gitu, mukanya syerem abis, trus klo ngomong nadanya tuh selalu bikin makan ati, gimana nggak sebel, yang paling parah tuh klo udah nyepet-nyepet sepatu ama sepeda gua tuh…masa dia bilang didepan kelas..anak-anak kalian harus jadi anak baik ya, jangan kayak seseorang yang kesekolahnya naek sepeda ontel trus pake sepatu butut..yang selalu lupa ngerjain tugas…telat lagi…bagaimana bisa bangsa ini mengharapkan pada pemuda macam itu…ingat itu anak-anak” dengan penuh emosi gua kembali teringat masa-masa kelam dengan Pak Fitri si baplang (para pembaca budiman, tolong jangan ikuti keburukan-keburukan dalam cerita ini).

“Rif, ini mah bener rif, mendingan kamu jangan ngomong kayak gitu, demi kebaikan kamu juga kok”….”Ah…kamu takut to ama Pak Fitri baplang itu, udah lah nyantei aja men”….”ehem…ehem, uhuk..uhuk…ihik…ihik” (terdengar mencekam jika didengar pada malam hari) ..ooo…duh..gaswat nih…kayaknya gua baru denger suara seseorang yang tidak gue harapkan ada di posisi dua kaki dibelakang gua.

“Rif, rupanya kamu belum puas dengan hukumanmu yah…gimana kalau bapak tambahkan dengan tugas lari 12 keliling di lapangan nanti pas waktu istirahat ya..” dengan keringat dingin yang bercucuran gua mengungkapkan pembelaan “duh..please pak tolong deh pak….gimana kalau dua bungkus dji sam soe pak?” dengan senyum sintetik yang gua pasang lebar-lebar.”Apa? Kamu masih pelajar udah belajar nyogok-menyogok, kalau gitu bapak putuskan kamu lari 16 keliling di lapangan plus dua bungkus dji sam soe di meja bapak” senyuman jahat menyungging di bibirnya.

Akhirnya pada jam kedua saya masuk kelas tercinta…”permisi bu, saya telat, jadi tadi dihukum dulu satu jam, ini bu surat keterangan keterlambatannya”…gua ucapkan dengan nada lemas biar si ibu merasa iba.”ya udah kamu duduk ke bangkumu, dan jangan lupa PR kemarin tolong kamu letakkan di mejanya Rini, diatas tumpukan buku itu”

….@#$%^&* waduh….gua baru inget klo ada PR Bahasa Indonesia….men…klo nggak ngumpulin bisa-bisa disuruh berdiri di depan kelas sambil disuruh ngemeng jempol nih. Akhirnya gua putusin untuk menaro buku matematika di atas tumpukan buku-buku lainnya, yang penting sekarang selamat dulu dah.

Sesaat sebelum saya meletakkan buku, si ibu mengatakan “Rif, sebagai contoh, coba kamu bacakan saja isi puisi abstraktif yang ibu PR kan”…..Bagaikan pukulan telak mike Tyson ke wajahku, otak gua pun sesaat beku. Dengan gontai ku berdiri di depan kelas memegang buku penuh rumus. Disertai topan dan badai besar yang sedang menari-menari di pikiran gua, gua coba tuk baca apa aja yang ada dibuku ini. “limit X mendekati lima untuk dua puluh dibagi X dikurangi lima sama dengan tak hingga kawan-kawan”…kupejamkan mata menunggu bentakan…”wah, ternyata kamu hebat juga Rif, puisi abstraktif yang dikaitkan dengan matematika, hebat kamu, sini kemarikan bukumu biar langsung ibu nilai”….duh…kok makin gawat aja…….(coba kalian bayangkan jikalau kalian menjadi rif, apa yang akan kalian lakukan?)

Lonceng istirahat pun berbunyi (sound efeknya akan kalian ketahui di chapter berikutnya). Teman-teman menyambutnya bunyi tersebut dengan begitu bahagia, penuh tawa ria, bagaikan mendapatkan kesenangan surgawi, but, ahhh….diriku. Akibat kesalahan fatal membacakan catatan matematika di pelajaran bahasa indonesia, gua harus melakukan penebusan dosa dengan cara menuliskan kata “Saya tidak akan membaca soal matematika sebagai puisi bahasa indonesia” sebanyak 1000 baris en harus selesai hari ini juga, “pokoknya ibu akan tunggu walaupun sampai malem” ..ih gila banget nggak tuh, belum harus lari juga nih 16 keliling. Tapi bukan rif namanya kalau nggak bisa ngeberesin masalah ini. Dengan perpaduan ilmu psikologi dan ekonomi serta sedikit ilmu guna-guna, gua bisa membereskan permasalahan ini dengan mulus.

“dra..lu bantuin bikinin 100 baris ya, entar gue beliin baso pulang sekolah, ^_^”, “Fi, bantuin bikinin 100 baris ya, entar gue pinjemin dvdnya One litre of Tears + Dragon Zakura, ^_^”, “Mol..lu bantuin bikinin 100 baris ya, entar gue absenin lu besok deh ^_^”, “Do…lu bantuin bikinin 100 baris ya, kalo engga nanti lu gue ajak jalan2 ke rumah sakit ^_^, mau kan?” and so..on. Akhirnya bereslah tugasku dengan 100 baris pertama menggunakan font times new roman, 100 baris berikutnya dengan monotype corsiva, 100 berikutnya dengan font demons gate…dan berikutnya udah mirip gelombang2 yang keliatan di osiloskop.

Pulang sekolah gua pergi ke meja bu Ranti untuk menyerahkan tugas “1000 death line” yang diperintahkannya. Tentunya dengan kecerdikan yang gua miliki ini, gua susun lembar perlembarnya dari yang bagus sampai paling jelek, pasti lu tau lah alasannya. “Bu, ini tugas yang ibu perintahkan pada saya”, “oHhh” (dengan ekspresi terkejut, seperti ekspresi orang yang terkena candid camera) “kok bisa secepat ini ya”, “oh…tentu dong bu, kalau udah niat rif mah jago nulis2 kayak gitu”, “tapi kok tulisannya keliatan beda-beda gini ya”, “emm..soalnya semakin lama tangan rif semakin lelah bu, sehingga kualitas tulisannya menurun bu”, “Ok kalau begitu, nanti lain kali kamu jangan lupa ngerjain PR ya”, “baik bu” (dengan menunjukkan tampang kesungguhan dari seorang pelajar).

Horee…bebas, akhirnya gua bisa pulang ke rumah dengan perasaan lega…emmh “Bebassss…..”. Tetapi rasa bahagia itu tiba-tiba berubah menjadi perasan mencekam, terkejut, disertai rasa ngeri tak terperikan (kok agak hiperbolis gitu ya). Langkah kaki seketika terhenti ketika gua merasakan tepukan di bahuku kemudian disertai suara gemulai tetapi mematikan yang mengatakan “rif, setelah ibu teliti, halaman pertama mirip tulisan Indra, kemudian halaman kedua mirip tulisan Molly, terus halaman ketiga mirip tulisannya Fifi, ibu jadi ragu, dan kemudian ibu menjadi yakin, ketika melihat halaman ke 10. ternyata dibalik halaman itu tertulis, bu tolong jangan panggil saya, saya melakukannya karena dipaksa oleh rif bu”. “Sekarang, tolong ikut dengan ibu ke kantor, lagi!”

Untuk selanjutnya kelanjutan kisah ini diserahkan kepada pembaca.
Apakah yang harus dilakukan oleh rif? pergi ke halaman 100 untuk…pergi mengikuti ibu ke kantor, pergi ke halaman 101 untuk lari dan pindah sekolah keesokannya, pergi ke halaman 102 untuk berbalik dan mengatakan “ibu cantik banget deh hari ini”.

Begitulah kisah gua, dan keesokannya gua pun hanya makan 2 lembar roti saja, dan tidak mengambil piring di rak, menyendok nasi dari bakul di atas meja, dan menambahkan ikan asin plus sambal terasi. Seperti kemarin, dan kemarinnya lagi, dan kemarin. kemarin. kemarin. dan sebelum kemarin..dan sebelum sebelum sebelum kemarin kemarin kemarinnya lagi…huaa….i have a perfect world.

4 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. diBond said, on June 29, 2007 at 3:50 pm

    Haha… kocak bgt. Jd inget gimana rasanya lupa ngerjain PR. Ga enak bgt! Deg2an gak keruan, terus lgsg ngerjain 1 menit terakhir sambil nyontek punya temen n dgn tulisan acakadut. Yg penting ngumpulin dan ada isinya. Hihiy.

  2. iftirar said, on July 6, 2008 at 4:09 pm

    ini beneran??? seru banget! ayo berubah!

  3. iftirar said, on July 6, 2008 at 4:12 pm

    ini beneran y? saya kira hukuman seerti itu sudah tidak ada lagi masa sekarang…

  4. eecho said, on July 9, 2008 at 1:32 pm

    @iftirar
    kisahnya hanyalah fiksi belaka, tapi penamaan tokoh ada yang diambil dari pengalaman penulis😀 … maaf pak Fitri


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: