Start to Write

Mempertanyakan Sejarah Kebangkitan Bangsa

Posted in About My Mind, Islam, Politics by eecho on May 20, 2008

Ketika mendegarkan atau melihat dan membaca mengenai sejarah kebangkitan nasional, maka media-media sepertinya hanya mengkerucut pada satu nama yaitu kepada organisasi Boedi Oetomo, padahal kalau dikaji lebih mendalam sejarah kebangkitan nasional tersebut harus dipertanyakan
kembali.

Sebuah tesis sejarah yang ditulis Savitri Scherer di Universitas Cornell, Amerika Serikat pada tahun 1975 yang kemudian bukunya diterjemahkan kedalam bahasa indonesia tahun 1985 menggambarkan bahwa Boedi Oetomo pada intinya merupakan gerakan sosial yang mengartikulasikan kepentingan
kelompok priyayi non birokrat yang bersifat lokal. Hal ini karena adanya disharmoni antara priyayi ningrat (priyayi birokrat) dengan priyayi profesional, khususnya para dokter Jawa. Dalam konteks ini schrerer mengungkapkan bahwa priyayi-priyayi Jawa, terutama priyayi birokratis menerima pejabat-pejabat kesehatan dengan rasa permusuhan. Achmad Jayadiningrat, regent serang mengungkapkan, “…dokter-dokter itu diperlakukan seolah-olah mereka adalah mantri irigasi…” ia juga mengakui betapa buruknya ia memperlakukan seorang dokter yang datang ke rumahnya untuk menolong istrinya yang sedang sakit (Savitri Prasisiti Scherer, “Keselarasan dan Kejanggalan: Pemikiran-pemikiran priyayi nasionalis jawa abad XX”, Terjemahan Jiman S. Rumbo, Jakarta: Sinar Harapan, 1985 hal 46)

Atas hal demikian, kemunculan Boedi Oetomo sebenarnya terdorong oleh keinginan untuk menolong diri sendiri yang berda dalam posisi rendah dibanding priyayi birokratis. “…Kalau kita tidak menolong diri kita sendiri tidak akan ada orang lain yang menolong kita, dan tolonglah diri kalian sendiri” demikian Gunawan Mangunkusumo tentang alasan mahasiswa STOVIA memiliki hasrat mendirikan Boedi Oetomo (Paul W van der veur, ed., Kenang-kenangan Dokter Soetomo, Jakarta: Sinar Harapan, 1984 hal 22). Dalam konteks yang sama, Scherer mengungkapkan bahwa aspirasi utama perjuangan Boedi Oetomo ialah keserasian di kalangan masyarakat Jawa (Scherer, op.cit. hal 53). Sewaktu Soewarno diangkat menjadi sekretaris Boedi Oetomo cabang Batavia yang mewakili mahasiswa STOVIA, ia mengeluarkan edaran yang menjelaskan maksud dan tujuan berdirinya Boedi Oetomo. Edaran itu mengemukakan bahwa Boedi Oetomo akan menjadi perintis terciptanya Persatuan Jawa Umum (Algemeene Javaansche Bond).

Gambaran diatas menampakkan bahwa Boedi Oetomo merupakan organisai lokal, dan hanya berjuang untuk kelompok kecil, tidak berskala nasional, sehingga sulit untuk dianggap sebagai perintis
kebangkitan nasional. Memang dikalangan tokoh-tokoh Boedi Oetomo terdapat pemikiran yang menghendaki agar Boedi Oetomo tidak hanya memperjuangkan nasib priyayi Jawa, tetapi berjuang untuk perbaikan bagi seluruh warga Hindia Belanda, khususnya perbaikan pendidikan. Soewarno misalnya, menghendaki agar Boedi Oetomo mempelajari segala cara bagi tercapainya pembangunan negeri dan rakyat Hindia Belanda yang serasi. Ia menginginkan agar Boedi Oetomo berkembang menjadi persaudaraan nasional tanpa perbedaan ras dan kepercayaan.

Sejalan dengan Soewarno, tokoh-tokoh muda Boedi Oetomo seperti dr. Soetomo dan dr. Tjipto Mangunkusumo menghendaki cakupan perjuangan Boedi Oetomo yang meliputi seluruh wilayah Nusantara. Perbedaan ini mengakibatkan terjadinya perdebatan antara kelompok tua dan muda, seperti tampak dalam Kongres pertama Boedi Oetomo di Yogyakarta, 3-5 Oktober 1908. Dr Wahidin Sudirohusodo membuka kongres itu dengan pidato yang mengagungkan sejarah Jawa dan menekankan pentingnya pendidikan barat bagi kemajuan Jawa, khususnya bagi priyayi Jawa, bukan pendidikan bagi rakyat desa secara umum. Pandangan Wahidin mendapat dukungan dari dr Radjiman yang pada waktu itu menjadi penasehat kesehatan di istana Surakarta. Radjiman mengemukakan bahwa pengetahuan ilmiah barat bukan tidak perlu bagi rakyat umum, melainkan sukar dimengerti oleh orang Jawa non priyayi.

Berbeda dengan pandangan tersebut, Gunawan Mangunkusumo yang merupakan tokoh muda Boedi Oetomo menyesali keterbelakangan rakyat biasa dan menekankan pentingnya mendirikan lebih banyak sekolah-sekolah desa, disamping bagi kelompok priyayi. Soetomo berharap agar Boedi Oetomo meningkatkan pendidikan dsar diatas bentuk-bentuk pendidikan lainnya. Dokter Tjipto Mangunkusumo yang pada waktu itu sudah menjadi dokter pribumi di Demak, dengan keras mengemukakan pentingnya pendidikan yang bukan hanya untuk priyayi dan untuk masyarakat Jawa lainnya, tetapi juga bagi seluruh masyarakat Hindia Belanda. Ia mengusulkan lebih lanjut agar Boedi Oetomo mengorganisasikan diri secara politik untuk meningkatkan kepentingan-kepentingannya.

Namun demikian usulan-usulan tokoh-tokoh muda Boedi Oetomo itu tidak menyebabkan Boedi Oetomo berubah menjadi gerakan bersifat nasional, tetapi Boedi Oetomo tetap menjadi perkumpulan sempit, hanya berjuang untuk kepentingan priyayi non-birokrat. Scherer mengemukakan bahwa usulan Tjipto lenyap dalam perdebatan yang panas setelah ia selesai berbicara. Scherer lebih lanjut mengemukakan bahwa tidak satu pun usul-usul yang dikemukakan kelompok muda STOVIA itu tertera dalam konsep akhir resolusi-resolusi kongres Boedi Oetomo. Tegasnya kongres Boedi Oetomo menolah usulan dr. Tjipto (sebagai juru bicara kelompok muda) untuk menjadikan Boedi Oetomo sebagai organisasi politik dan memperluas keanggotaannya yang mencakup seluruh penduduk Hindia Belanda. Sejalan dengan itu, dalam pasal 2 anggaran dasar Boedi Oetomo tertulis “Tujuan organisasi untuk menggalang kerjasama guna memajukan tanah dan bangsa Jawa dan Madura secara harmonis” inilah tujuan Boedi Oetomo, bersifat Jawa-Madura sentris, sama sekali bukan kebangsaan (Rizki Ridyasmara, “20 Mei Bukan Hari Kebangkitan Nasional”, dalam http://www.eramuslim.com). Karena kekecewaan terhadap Boedi Oetomo yang berpikir sempit dan hanya bergerak untuk kepentingan priyayi Jawa, Tjipto mengundurkan diri yang kemudian bergabung dengan Sarekat Islam.

Atas hal demikian, banyak pengamat sejarah yang menolak peran Boedi Oetomo sebagai gerakan pelopor kebangkitan nasional. Pelaku dan penulis sejarah, KH Firdaus AN mengungkapkan “…Boedi Oetomo adalah organsasi sempit, lokal dan etnis, dimana hanya orang Jawa dan Madura elit yang boleh menjadi anggotanya. Orang betawi saja tidak boleh menjadi anggotanya” selanjutnya Firdaus AN mengungkapkan, perkumpulan Boedi Oetomo dipimpin oleh para ambtenaar, yakni para pegawai negeri yang setia terhadap pemerintah kolonial Belanda. Boedi Utama pertama kali diketuai oleh Raden T. Tirtokusumo, Bupati Karanganyar kepercayaan Belanda, yang memimpin hingga tahun 1911. Kemudian dia diganti oleh Pangeran Aryo Notodirodjo dari Keraton Paku Alam Yogyakarta yang digaji oleh Belanda dan sangat setia dan patuh pada induk semangnya.

Selain itu, Firdaus AN memaparkan bahwa dalam rapat-rapat perkumpulan dan bahkan di dalam penyusunan anggaran dasar organisasi, Boedi Oetomo menggunakan bahasa Belanda, bukan bahasa Indonesia. “Tidak pernah sekalipun rapat Boedi Oetomo membahas tentang kesadaran berbangsa dan bernegara yang merdeka. Mereka ini hanya membahas bagaimana memperbaiki taraf hidup orang-orang Jawa dan Madura di bawah pemerintahan Ratu Belanda, memperbaiki nasib golongannya sendiri” papar KH. Firdaus AN. Karena itu, lanjut Firdaus, Boedi Oetomo tidak memiliki andil sedikit pun untuk perjuangan kemerdekaan, karena mereka para pegawai negeri yang digaji Belanda untuk mempertahankan penjajahan yang dilakukan tuannya atas Indonesia, dan Boedi Oetomo tidak pula turut serta mengantarkan bangsa ini ke pintu gerbang kemerdekaan, karena telah bubar pada tahun 1935, tegas KH. Firdaus AN.

Mengenai hubungan Boedi Oetomo dengan Islam, KH Firdaus AN mengungapkan adanya indikasi kebencian terhadap Islam dikalangan tokoh-tokoh Boedi Oetomo. Noto Soeroto, salah seorang tokoh Boedi Oetomo, di dalam satu pidatonya tentang Gedachten van Kartini alsrichtsnoer voor de Indische Vereninging berkata: “Agama islam merupakan batu karang yang sangat berbahaya…sebab itu soal agama harus disingkirkan, agar perahu kita tidak karam dalam gelombang kesulitan.”

Sebuah artikel di “Suara Umum”, sebuah media massa milik Boedi Oetomo di bawah asuhan Dr. Soetomo terbitan Surabaya, dikutip oleh A. Hassan di dalam Majalah “Al-Lisan” terdapat tulisan yang antara lain berbunyi, “Digul lebih utama daripada Makkah”, “Buanglah ka’bah dan jadikanlah Demak itu Kamu Punya Kiblat!” (Al-Lisan nomor 24, 1938). Bukan itu saja, dibelakang Boedi Oetomo pun terdapat fakta yang mencengangkan. Ketua pertama Boedi Oetomo yakni Raden Adipati Tirtokusumo, Bupati Karanganyar,ternyata adalah seorang anggota Freemasonry. Dia aktif di Loge Mataram sejak tahun 1895. Sekretaris Boedi Oetomo (1916), Boedihardjo, juga seorang Mason yang mendirikan cabangnya sendiri yang dinamakan Mason Boedihardjo. Hal ini dikemukakan dalam buku “Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764-1962” (Dr. Th. Stevens), dalam sebuah buku yang dicetak terbatas dan hanya diperuntukan bagi anggota Mason Indonesia.

Berbeda dengan Boedi Oetomo yang hanya memaperjuangkan nasib orang Jawa dan Madura juga hanya menerima keanggotaan orang Jawa dan Madura, seingga para pengurusnya pun hanya terdiri dari
orang-orang Jawa dan Madura sifat Sarekat Islam lebih Nasionalis. Keanggotaan Sarekat Islam terbuka bagi semua rakyat Indonesia yang mayoritas Islam. Sebab itu, susunan para pengurusnya pun teridir dari berbagai macam suku seperti:Haji Samanhudi dan HOS Tjokroaminoto berasal dari Jawa Tengah dan Timur, Agus Salim dan Abdoel Moeis dari Sumater Barat, dan AM. Sangaji dari Maluku.

Faktor islam lebih mendorong organisasi Sarekat Islam lebih progresif, tidak terbatas pada kelompok tertentu, dan menginginkan adanya kemajuan bagi seluruh rakyat. Salah satu pembentukan Sarekat Islam, seperti dirumuskan oleh Tirtoadisuryo ialah:

“Tiap-tiap orang mengetahuilah bahwa masa yang sekarang ini dianggap zaman kemajuan. Haruslah sekarang kita berhaluan: janganlah hendaknya mencari kemajuan itu cuma dengan suara saja. Bagi kita kaum muslimin adalah dipikulkan wajib juga akan turut mencapai tujuan itu, dan oleh karena itu, maka telah kita tetapkanlah mendirikan perhimpunan Sarekat Islam” (Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Jakarta: LP3JS, 1982. Hal 116)

Berdasarkan alasan tersebut, tampaknya adanya sikap kepeloporan perubahan dan perbaikan bagi seluruh warga negara yang lebih merakyat yang didorong atas keyakinan Islam. Cakupan kegiatan Sarekat Islam yang meliputi seluruh rakyat Indonesia juga tampak dalam tujuan organisasi tersebut yang termaktub dalam anggaran dasarnya, sebagai berikut:

Akan berikhtiar, supaya anggota-anggotanya satu sama lain bergaul seperti saudara, dan supaya timbullah kerukunan dan tolong menolong satu sama lain antara sekalin kaum muslimin, dan lagi dengan segala upaya yang halal dan tidak menyalahi wet-wet negeri (Surakarta) dan wet-wet Gourvernement, …berikhtiar mengangkat derajat rakyat agar menimbulkan kemakmuran, kesejahteraan dan kebesarannya negeri.

Organisasi ini berkembang dengan cepat di daerah-daerah lain di Jawa, bahkan organisasi ini menyebar juga ke luar Jawa, seperti di Sumatera Selatan. Keberadaannya dirasakan kurang nyaman oleh penguasa Keresidenan Surakarta, terutama karena adanya tuduhan, bahwa keberadaan Sarekat Islam menimbulkan konflik dengan pedagang-pedagang Cina. Akhirnya Residen Solo membekukan Sarekat Islam. Kemudian pembekuan tadi dicabut kembali dengan syarat adanya perubahan anggaran dasar, sehingga ia hanya terbatas pada daerah Surakarta saja. Namun demikian, sekalipun bersifat lokal
secara administratif, tetapi cabang-cabang SI tetap berkembang dengan AD masing-masing.

Dari pemaparan diatas, tampak adanya perbedaan mendasar antara Boedi Oetomo yang hanya berjuang untuk kelompok kecil priyayi dengan Sarekat Islam yang berjuang untuk seluruh rakyat. Dengan menjadikan Islam sebagai dasar perjuangan, tampak bahwa SI merupakan pelopor sebuah kebangkitan yang bersifat nasional. Untuk lebih jelasnya mengenai perbedaan Boedi Oetomo dengan Sarekat Islam ditinjau dari berbagai aspeknya dapat dilihat ada tabel dibawah ini, yang disajikan oleh Rizki Ridyasmara.

No Aspek yang Dibandingkan Boedi Oetomo Sarekat Islam/Sarekat Dagang Islam
1 Tujuan Menggalang kerjasama guna memajukan Jawa-Madura
(Anggaran Dasar Boedi Oetomo Pasal 2)
Islam Raya dan Indonesia Raya
2 Sifat Bersifat kesukuan yang sempit, terbatas hanya
Jawa-Madura
Bersifat Nasional untuk seluruh bangsa Indonesia
3 Bahasa Berbahasa Belanda, anggaran dasarnya ditulis dalam
Bahasa Belanda
Berbahasa Indonesia, anggaran dasarnya ditulis dalam
bahasa Indonesia
4 Sikap terhadap Belanda Menggalang kerjasama dengan penjajah Belanda karena
sebagian besar tokoh-tokohnya terdiri dari kaum priyayi pegawai pemerintah
Bersikap non-koperatif dan anti terhadap penjajahan
kolonial Belanda
5 Sikap Terhadap Agama Bersikap anti islam dan anti Arab (dibenarkan oleh
sejarawan Hamid Algadrie dan Dr. Radjiman)
Membela islam dan memperjuangkan keberannya
6 Perjuangan Kemerdekaan Tidak pernah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia
dan telah membubarkan diri tahun 1935, sebab itu tidak mengantarkan bangsa
ini melewati pintu gerbang kemerdekaan
Sareka Islam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia
dan mengantar bangsa ini melewati pintu gerbang kemerdekaan
7 Korban Perjuangan Anggota Boedi Oetomo tidak ada satu pun yang masuk
penjara, apalagi ditembak dan dibuang ke Digul
Anggota Sarekat Islam berdesak-desakan masuk
penjara, ditembak mati oleh Belanda, dan banyak yang dibukang ke Digul, Irian
Barat
8 Kerakyatan Boedi Oetomo bersifat feodal dan keningratan Sarekat Islam bersifat kerakyatan dan kebangsaan
9 Melawan Arus Boedi Oetomo menurutkan kemauan arus penjajah Sarekat Islam melawan arus penjajahan

Dengan membandingkan Boedi Oetomo dengan Sarekat Islam, maka sewajarnya gerakan seperti Sarekat Islam yang dijadikan sebagai pelopor kebangkitan nasional. Tapi mengapa justru para pemegang kekuasaan lebih suka menempatkan Boedi Oetomo sebagai pelopor? Terlihat kecenderungan
peminggiran Islam atau bahkan menghilangkan peran Islam dalam sejarah Indonesia. Berdirinya Sarekat Dagang Islam pada 16 Oktober 1905 yang kemudian menjelma menjadi Sarekat Islam pada tahun 1912 merupakan pelopor kebangkitan nasional.

Umat Islam memiliki peran penting dalam perjuagan kemerdekaan Indonesia dan dalam menumbuhkan kebangkitan nasional. Peperangan yang terjadi pada abad ke-19 melawan Belanda selalu bernafaskan “jihad” melawan para penjajah. Misalnya sewaktu Pangeran Diponegoro memanggil sukarelawan, maka kebanyak mereka yang tergugah adalah para ulama dan ustadz dari pelosok desa. Pemberontakan petani menentang penindasan yang berlangsung terus-menerus sepanjang abad ke-19 selalu dibawah bendera Islam. Demikian pula perlawanan yang dilakukan oleh Tengku Cik Di Tiro, Teuku Umar dan diterus kan oleh Cut Nyak Dien dari tahun 1873-1906 adalah jihad melawan kape-kape Belanda yang menyengsarakan umat islam. Begitu juga dengan perang Padri. Sebutan Padri menggambarkan bahwa perang ini merupakan perang keagaaman.

Namun ketika pertama kali dilakukan peringatan hari kebangkitan nasional pada tahun 1948, yang dianggap sebagai pelopor kebangkitan nasional ialah Boedi Oetomo, sehingga peringatan kebangkitan nasional jatuh pada hari ini tanggal 20 Mei, suatu usaha menghilangkan sejarah islam dari perjuangan dalam menuju kemerdekaan Indonesia. Juga menghilangkan identitas Islam sebagai bagian terintegrasi dari Indonesia.

Artikel yang dikutip dari tulisan Maman Kh seorang staff di UIN Syarif Hidayatullah Jakarata ini dibuat atas kesedihan dan juga kemarahan atas kebohongan sejarah yang dilakukan para pemilik kekuasaan dan hal itu terus ditanamkan pada generasi-generasi muda Indonesia. Artikel ini juga
ditulis untuk mengingatkan saya dan semua bahwa perjuangan para pahlawan-pahlawan terdahulu belumlah berakhir. Gerbang kepahlawanan tidaklah ditutup pada 17 Agustus 1945, tetapi kini justru semakin beratlah perjuangan yang dialami rakyat Indonesia. Penjajahan kini bentuknya tidak seperti kolonialisme jaman dulu, tetapi neoimprealisme menjajah bangsa ini dengan ekonomi, pendidikan,
politik. Perjuangan pun kini bukanlah dengan mengangkat dengan bambu runcing, tetapi dengan bersikap kritis dan melawan kebohongan-kebohongan dan pembodohan dengan goresan tinta dan tuts-tuts huruf di keyboard.

Kemiskinan indonesia sebanyak 112 Juta, Penguasaan 90% Minyak bumi oleh Asing, Hilangnya kedaulatan bangsa dengan adanya Namru, Siswa putus sekolah 36,73%, Pengangguran 40 Juta Jiwa, adalah sebagian dari hasil penjajahan neoimprealisme terhadap bangsa ini, Oleh karenanya perjuangan rakyat Indonesia khususnya para intelektualitas dan juga para umat muslim yang dibebankan kewajiban untuk mempetahankan agamanya, hartanya dan jiwanya walaupun harus dibayar dengan darah.

Pada saat ini sedang diperingati kebangkitan nasional dengan spektakuler di Gelora Bung Karno, suatu acara seremonial yang seharusnya diiringi juga dengan kesadaran akan arti kebangkitan yang hakiki. Kebangkitan hakiki bukanlah kebangkitan harga sembako, kebangkitan harga BBM, kebangkitan jumlah kemiskinan dan angka jumlah putus sekolah, kebangkitan bukan hanya sebuah kata untuk seremonial belaka, tetapi kebangkitan adalah suatu kata yang menginisiasi perjuangan untuk sebuah perubahan dari penjajahan ideologi-idelogi asing yang menyengsarakan rakyat.

Saatnya tuk berjuang dan bangkit dari keterpurukan.

dari seorang manusia yang berharap dapat mengikuti jejak para pahlawan yang gugur demi memperjuangkan agamanya, hartanya, dan yang dicintainya.

3 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. Roel said, on May 21, 2008 at 2:49 pm

    sip
    kurang lebih gitu lah hehe

  2. nie said, on June 6, 2008 at 2:22 am

    Wew, pas baca langsung inget ujian sejarah selalu dapet 4. Karena terlalu apatis, g mau mbaca&menghafal, menganggap semua sejarah yg begini2 itu bisa aja boong. heeee..
    Soalnya sejarah yang begini based on cerita manusia, pasti bisa ditambah dan bisa dikurangi oleh pencerita😀

    Ooww, jadi begitu tho versi cerita yang lain..
    *angguk-angguk*

  3. lady lez said, on March 15, 2009 at 4:23 am

    ada yang bisa post ke email gue ngga sejarah mengenai dasar Belanda terhadap Islam di Indonsia dalam masa penjajahannya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: