Start to Write

Understanding People? Part2:Social Intelligence

Posted in About My Mind by eecho on July 15, 2008

Pembahasan sebelumnya lebih bersifat teoritis, sekarang pembahasannya lebih bersifat teknis. Social Intelligence (ini menurut definisi saya), adalah suatu kecerdasan pada seseorang untuk dapat bersosialisasi dengan seseorang (interaksi).

Ada beberapa hal yang menjadi tolak ukur apakah seseorang memiliki social intelligence yang tinggi atau rendah:

  1. Sensitivitas : suatu kemampuan seseorang untuk dapat mengenali perubahan perasaan dari lawan bicara (seperti perubahan ekspresi, perubahan intonasi). Orang dengan sensitivitas tinggi mengetahui perubahan suasana ketika dilakukannya diskusi dll, sehingga dapat memberikan respon yang tepat akan perubahan suasana tersebut.
  2. Credibility (Trustworthy) : kemampuan seseorang untuk dapat dipercaya (meyakinkan) ketika dia berbicara atau berbuat mengenai suatu hal pada seseorang. Tercipta suatu sinkronisasi antara dia dan pendengar, dan pendengar tanpa paksaan merasa percaya dan yakin bahwa yang orang didepannya merupakan orang yang kredibel dan layak untuk dipercaya.Trustness ini dimunculkan dari cara berbicara seseorang, baik intonasi suara, gerak tubuh, confidence (mental) dll.
  3. Characteristic judgement: kemampuan seseorang untuk mengenali karakteristik orang lebih cepat. Kemampuan ini dapat menentukan karakteristik seseorang dengan melihat raut wajah, cara berbicara, cara bersikap, cara merespon dari lawan bicara tanpa harus melakukan interaksi yang cukup lama.
  4. Empathy: kemampuan merasakan perasaan orang lain, istilah disini lebih ditujukan untuk kemampuan merasakan perasaan orang lain sehingga dapat bekerja sama atau berkoordinasi lebih baik dengan orang lain.

4 Responses

Subscribe to comments with RSS.

  1. jafar1985 said, on December 24, 2008 at 10:36 am

    point no 3…. bahasa ‘arabnya mungkin sur’ah kali ya..

    but, i think “someone who have that ability” is like “pragmatisc”… pragmatis…

    saya rasa siapapun “tidak akan” langsung benar ketika menilai seseorang itu seperti apa, dan penilaiannya lagsung benar… musykil

    kalo saya menilai seperti ini, sangat egois… merasa penilaiannya yang paling benar ketika menilai seseorang dan langsung men-judge,…. tanpa ada koreksi dari orang yang kita nilai…

    intinya harus ada sikap saling menerima… menerima dalam artian “bukan” diam ketika orang lain berbuat kesalahan… tapi menerima seseorang sebagai “sosok” manusia yang memiliki pesona yang patut dihargai bukan sebagi objek…

    kadang kalo saya baca buku ttg psikolgy tidak sepenuhnya teorinya BENAR… karena saya mendapatkan fakta dan realita tidak seperti itu….

    baca boleh tapi ada filter dan koreksi apalagi penulisnya yang kurang mabda’iy….

  2. eecho said, on December 24, 2008 at 11:09 am

    Hmmm….saya setuju dengan pendapatnya, tapi sebenarnya ‘maksud’ saya bukan ke arah tersebut…untuk masalah-masalah benar/salah, halal/haram, atau husnudzan/suudzan tuh panduan dalam islam dah jelas. Sedangkan tulisan ini saya maksudkan untuk hal-hal yang mubah, ketika menghadapi orang-orang yang memiliki karakteristik yang berbeda, bagi saya ada teknik persuasi yang berbeda pula.

    Ketika berdiskusi dan terdapat perbedaan, tanggapan atas suatu konfilik dan sebagainya, apakah harus berdiskusi dengan flow yang cepat ataukah harus dengan flow yang lambat. Mengerti karakteristik lawan bicara, atau memiliki sensitivitas terhadapnya mengurangi terjadinya ‘kesalah pahaman’.

    Dalam sebuah komunikasi, informasi tidak hanya terletak pada ‘verbal’ tetapi ‘non verbal’ seperti intonasi, gerak tubuh juga memberikan informasi pada lawan bicara, sehingga bagaimana semaksimal mungkin kita dapat menyampaikan ‘pemahaman’ secara clear kepada lawan bicara kita.

  3. firdaus1985 said, on December 27, 2008 at 2:20 am

    Mubah?… menurut ane, lihat dulu konteks/content ketika berkomunikasi itu seperti apa…

    terkadang yang sulit adalah… ketika kita ‘menghadapi lawan bicara’… karakter dan sikap yang tidak kita sukai dari lawan biacara kita…

    akan tetapi lebih tidak arif dan bijaksana ‘apalagi’ sebagai laki-laki… ketika berkomunikasi dengan lawan bicara kita.. terus kita ‘stop’ untuk interaksi… dengan alasan ‘gw tidak suka karakter elu’… ato ‘kita ngga akan pernah cocok, karena karakter dan sikap kita different!!”…. dalam psikology sosial pun… ‘interaksi yang sehat’…ketika kita mengahadapi lawan bicara yang dari segi sikap dan karakter kita tidak sukai.. ‘jika bermasalah” yang dianjurkan agar hubungan ‘sehat’… mun cek orang sunda mah… ‘di berkahi’… ‘perbaiki hubungan itu’…

    semua manusia tidak mungkin memlliki karakter dan sifat yang sama… dan kita memiliki pandangan ‘gw ngga akan cocok ma elu’… emang ngga akan pernah cocok.. yang jadi masalah ‘sikap kita untuk menerima lawan bicara kita’… menerima dlam artian ‘kita sangat menghargai dia sebagai sosok manusia yang penuh dengan pesona bukan sebagai objek ‘yang ketika ada karakter nu salah terus kita menjauh’… kalo menurut ane… sikap seperti ‘menerima apa adanya’…

    ‘yah, ane ngomong kaya gini.. karena emang pernah ngalamin….’jadi aktor yang berpandangan, dulu pisan… bahela pisan… ketika ngeliat, menilai lawan bicara kita, dari sikap ‘N karakter yang ane tidak sukai… kemudian ane dengan ‘sombongnya’ memutuskan untuk stop interaksi… padahal lawan bicara ane, memilki niat untuk memperbaiki hubungan ato interaksi… tapi bodohnya ane ‘ttp kekeh untuk stop interaksi’… dan baru nyadar ‘betapa sombongnya diri ini’… tuhan saja memberikan kesempatan kepada hambanya ‘untuk memperbaiki kesalahannya’… masa, dan betapa sombong dan teramat sombong jika ane ‘menjauh’ ato tidak berfikir untuk memperbaiki hubungan ane dengan orang itu…

    kata, sahabat ane… apa yang menurut kita jelek bisa jadi itu adalah yang tepat dan terbaik buat kita.. dan kita baru sadar kalo dia memang yang ‘baik’ bwt kita…

    arrrggghhhh… naha jadi puitis kiye nya…

    apa yang ane paparkan bisa kejadian ketika interaksi dengan ikhwan ato akhwat… tentu nu syar’i…

  4. eecho said, on December 27, 2008 at 3:04 pm

    kekekeke

    Semoga untuk kesempatan berikutnya dapat bersikap lebih bijaksanašŸ˜€, tetapi untuk masalah sikap memang yang paling clear menurut saya adalah bagaimana hukumnya apakah suatu kebaikan atau keburukan, ketika hal tersebut bukan sebuah keharaman opsi tersebut sah-sah aja untuk diambil.

    mmm…mungkin analogi saya seperti berdagang. Secara aturan islam ya berdagang harus jujur, tetapi cara memasarkannya mau pake leaflet, internet, atau langsung door to door itu silahkan aja, setiap orang memiliki ilmunya dan kecenderungan masing-masing.

    Nah untuk interaksi dengan orang pun selama hal tersebut ‘mubah’ ya silahkan aja, apa mo lewat email, surat, atau kontak langsung itu sah-sah aja. Apa mo dengan lemah lembut, atau tegas, apa serius atau santai, ya itu sah-sah aja. Tetapi bagi saya ada keillmuan (social intelligence) itu yang membuat sikap kita tepat atau tidak, bukan benar atau salah lo, tapi apakah tepat atau tidak.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: