Start to Write

Awal Ramadhan

Posted in Islam by eecho on August 25, 2008

Argumentasi-argumentasi saya mengapa harus ru’yat global dalam menentukan awal ramadhan

1. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda : “Berpuasalah kalian karena melihatnya (hilal) dan berbukalah karena melihatnya (hilal bulan Syawal). Jika kalian terhalang awan, maka sempurnakanlah Sya’ban tiga puluh hari.” (HSR. Bukhari 4/106, dan Muslim 1081). Hadist yang menyatakan ru’yat menyatakan keumuman “kalian…” sehingga bersifat umum, untuk kaum muslim. Klo untuk metode hisab itu out of question, tidak ada satupun dalil yang mendukung metode tersebut.
2. Sandaran dalil ru’yat lokal oleh imam syafii itu adalah ijtihadnya ibnu abbas, …

hadits Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhum yang berbunyi :
“Kuraib mengabarkan bahwa Ummu Fadll bintul Harits mengutusnya kepada Muawiyyah di Syam. Kuraib berkata : “Aku sampai di Syam kemudian aku memenuhi keperluannya dan diumumkan tentang hilal Ramadhan, sedangkan aku masih berada di Syam. Kami melihat hilal pada malam Jum’at. Kemudian aku tiba di Madinah pada akhir bulan. Maka Ibnu Abbas bertanya kepadaku – kemudian dia sebutkan tentang hilal — : ‘kapan kamu melihat Hilal?’ Akupun menjawab : ‘Aku melihatnya pada malam Jum’at. Beliau bertanya lagi : ‘Engkau melihatnya pada malam Jum’at ?’ Aku menjawab :’Ya, orang-orang melihatnya dan merekapun berpuasa, begitu pula Muawiyyah.’ Dia berkata : ‘Kami melihatnya pada malam Sabtu, kami akan berpuasa menyempurnakan tiga puluh hari atau kami melihatnya (hilal).’Aku bertanya : ‘Tidakkah cukup bagimu ruyah dan puasa Muawiyyah ?’ Beliau menjawab : ‘Tidak! Begitulah Rasulullah memerintahkan kami.’” (HR. Muslim 1087, At-Tirmidzi 647 dan Abu Dawud 1021. Riwayat Abu Dawud dan Tirmidzi di Shahih kan oleh Al-Albani dalam Shahih Sunan At-Tirmidzi 1/213)….

tapi yang pasti hadist ibnu abbas(kuraib) ini bukan langsung pernyataan rasul, sehingga masuknya menjadi ijtihadnya ibnu abbas dan imam asysyaukani menganggap imam syafii tidak tepat dengan menyandarkan ijtihadnya bukan kepada hadist marfu ibnu abbas, tetapi kepada ijtihadnya ibnu abbas. Padahal sumber hukum islam hanyalah empat, al-qur’an, as-sunnah, ijma sahabat, dan qiyas (qiyas syari’e). Ijtihad sahabat tidak dapat dimasukkan sebagai sumber hukum islam.
3. Jika indonesia menentukkan, merauke-sabang sebagai daerah penglihatan hilal, kenapa harus dibatasi sebatas itu. Zaman sekarang, informasi hilal dimanapun bisa didapatkan tanpa batasan tempat, sehingga pembatasan daerah hanya sebatas indonesia lebih memperlihatkan sisi ‘nasionalisnya’ dibanding sisi persatuan islamnya. Hal seperti hadist no2 tidak akan terjadi pada jaman sekarang, karena informasi sangat mudah didapatkan, informasi dari Syam dan Madinah pada jaman sekarang dapat seketika disampaikan.
4. Logika sederhana, sama seperti matahari, maka bulan pun memiliki sifat waktu yang serial. Artinya jika pada satu tempat telah masuk ramadhan, maka seharusnya daerah lain pun telah memasuki masa yang sama hanya saja start siang/malam yang berbeda (berbeda dengan matahari yang terlihat, bulan tidak terlihat di siang hari!!!)…jika saya mendengar informasi hilalnya pada siang hari, ya sisa hari itu saya harus berpuasa, atau jika saya mendengar pada malam hari, berarti besok subuh saya harus sahur….suatu hal yang aneh, jika di Hari senin Kairo pukul 02.00 terlihat hilal, maka kaum muslim disana berpuasa, kemudian pada waktu yang bersamaan (jam 02.00 ~= jam 07.00 WIB) kaum muslim di Indonesia yang baru mengetahuinya (lewat internet kek…apa kek, ato kirim email ke gw klo mo tau, tapi harus stand by malam2) pukul hari senin 07.00 pagi masih makan minum dan memulai puasanya pada hari selasa…???? Apakah mungkin 1 ramadhan jatuh pada 2 hari ???? Kemaren 1 ramadhan, besok 1 ramadhan…

Menentukan ramadhan tanggal 1 september oleh pemerintah, menurut saya salah satu bentuk pembodohan terhadap kaum muslim, seharusnya informasinya itu “ramadhan kemungkinan antara tanggal 31 agustus atau 1 september”, karena jika dipatok tanggal 1 september berarti penentuannya menggunakan metode hisab. Metode hisab tidak pernah dicontohkan oleh Rasulullah.

Hisab Sekedar Membantu Ru’yat!!!

Para fuqaha berbeda pendapat dalam masalah ini. Dahulu para imam madzhab tidak membolehkan penggunaan hisab, sebab hisab tidak memberikan hasil perhitungan yang meyakinkan bahkan tidak menghasilkan perhitungan yang rajih.

Imam Nawawi, dalam kitabnya Syarah Shahih Muslim, jilid VII, hlm. 192 dan dalam kitab Fathul Bari Bisyarhi Shahih Al-Bukhari karya Ibnu Hajar Al-Asqalani, jilid V, hlm. 126-127 terdapat hadits Nabi Saw.: Kami adalah umat yang ummi. Kami tidak dapat menulis atau menghitung. Satu bulan ada begini, begini, begini (seraya menyodorkan kesepuluh jari tangan tiga kali, dengan menekuk jari jempol pada sodoran ketiga) dan satu bulan adalah begini, begini, begini (dengan membuka semua jari pada ketiga sodoran). [Lafazh hadits menurut Imam Muslim].

Imam Ibnu Hajar kemudian memberi komentar (Syarah) hadits ini sebagai berikut: Yang dimaksud dengan hisab dalam hadits ini adalah hisabun nujum (perhitungan ilmu falak) dan peredarannya. Orang-orang dahulu belum mengetahui ilmu itu, kecuali sedikit dan pengetahuannya pun amat sederhana. Dikaitkan dengan puasa dan (perkara) lainnya dengan ru’yat adalah untuk menghilangkan kesukaran dari mereka dalam menggunakan hisab peredaran bulan.

Dari penjelasan di atas nampak bahwa Imam Ibnu Hajar hanya menggunakan ru’yat saja, tidak menggunakan hisab. Pendapat ini juga dipegang oleh jumhur fuqaha pada saat itu.

Ilmu hisab dapat dimanfaatkan, misalnya untuk meramalkan waktu yang tepat untuk melakukan ru’yat. Akan tetapi, hisab tidak dapat menggantikan posisi ru’yat secara mutlak, dalam arti menggunakan hisab sebagai satu-satunya cara penetapan awal-akhir Ramadhan dan meninggalkan ru’yat sama sekali. Sebab syara’ telah menetapkan –berdasarkan nash-nash yang shahih- bahwa penetapan awal-akhir Ramadhan dengan ru’yat adalah WAJIB, sementara mempergunakan hisab hukumnya MUBAH. Jadi posisi Hisab Astronomi adalah membantu untuk menentukan tempat-tempat yang strategis dalam melakukan ru’yatul hilal.

Mengawali Ramadhan yang akan datang pada waktu yang serempak sama dan bersamaan merupakan satu langkah awal menuju persatuan dan kesatuan ummat Islam di seluruh dunia.

Wallahu a’lam bish-shawab

One Response

Subscribe to comments with RSS.

  1. titok said, on October 9, 2008 at 1:39 am

    na’am2


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: