Start to Write

Konsepsi Islam yang Ditinggalkan Umat….Inferioritas Ideologi?

Posted in Islam, Politics by eecho on November 20, 2008

Jikalau kita melihat apa yang terjadi di dunia islam saat ini, khususnya di Indonesia maka realitas bahwa konsepsi-konsepsi kehidupan yang diterapkan di tengah-tengah masyarakat bukan berasal dari dunia islam sangat jelas terlihat. Ironis, karena mayoritas penduduknya adalah umat islam, tetapi jauh dari konsepsi-konsepsi islam. Islam saat ini hanya dipahami sebatas ibadah-ibadah ritual, shalat, puasa, haji, zakat dan ibadah-ibadah mahdah lainnya. Bahkan saking merasa inferior dengan konsep-konsep kapitalis liberalis demokratis, kadang sebagian muslim bersifat defensif apologetik ketika menghadapi tuduhan dari para feminis terhadap poligami. Poligami yang sebenarnya diperbolehkan dalam islam, dicari-cari argumentasi agar islam tidak seperti tuduhan para feminis tersebut sehingga justru membelokan aturan yang telah ditetapkan dalam al-qur’an.

Dari banyaknya serangan para pemikir-pemikir barat terhadap konsep islam, ternyata diperparah oleh para pemikir yang menamakan dirinya islam liberal yang menganggap bahwa menggali aturan-aturan dari al-qur’an dan as-sunnah seperti kembali ke jaman batu dan berpikir pragmatis. Sebagian muslim lebih bangga mengedepankan konsep-konsep pemikiran barat dan merasa kajian-kajian islam tidak akan bisa mengatasi kompleksitas permasalahan yang ada saat ini.

Coba kita lihat dari konsepsi pemerintahan, maka referensi-referensi yang digunakan adalah hasil-hasil pemikiran dari barat. Konsep-konsep barat dari para pemikir yunani, Thomas Aquinas, Nicollo Machiavelli, John Locke, Montesquieu, yang menjadi para pemikir-pemikir pelopor dari konsep demokrasi saat ini. Konsep trias politica yang sekarang menjadi sandaran pembentukan eksekutif, legislatif, dan yudikatif dianggap merupakan hasil pemikiran tertinggi dari sebuah konsep pemerintahan, walaupun pada faktanya para pemegang modal(uang) lah yang mengendalikan pemerintahan dari belakang. Para pemegang modal dapat membeli eksekutif, legislatif dan juga yudikatif agar melakukan sesuai keinginan yang mereka inginkan.

Sama dengan pemerintahan, dalam konsep perekonomian pun, banyak para muslim berkiblat pada konsep-konsep kapitalis liberal barat. Para ‘fans’ konsep teori ekonomi klasik adam smith tidak sedikit dari kalangan muslim. Hal itu sama juga dengan konsep keynesian, yang banyak juga dari kalangan muslim. Padahal konsep ribawi & kebebasan kepemilikan sumber daya (tanpa campur tangan pemerintah) yang menjadi instrumen utama ekonomi kapitalis liberal jelas-jelas bertentangan dengan aturan-aturan islam. Walaupun telah jelas kegagalan konsep tersebut dengan munculnya krisis-krisis yang berdatangan (resesi global 2008, krisis moneter asia 1997, dotcom bubble, the great depresion + 1929 wall street crash, krisis jepang 92, dan masih sangat banyak lagi ), tapi tidak kapok-kapok juga mereka menyuarakan konsep kapitalisme sebagai jalan terbaik.

…dan hasilnya dari pengagung-agungan konsep barat itu adalah….puluhan juta rakyat miskin, sebagian dari mereka meninggal karena kelaparan, hukum hanyalah bagi pemilik uang, disebelah super ladang emas Freeport emas berdiri masyarakat berkoteka yang tidak teredukasi, parah… Teknologi informasi yang seharusnya jadi jendela pengetahuan malah menjadi racun bagi generasi muda dengan pornoinformasi nya…korban lumpur lapindo luntang-lantung sampai stress menunggu bantuan dari pemerintah…elit politik? Sibuk berkampanye bermiliar-miliar demi mendapatkan suara, orang miskin tidak dapat akses terhadap kesehatan dan pendidikan yang layak, masyarakat banting tulang untuk dapat mengisi kendaraannya dengan BBM yang sebenarnya melimpah di dalam perut bumi Indonesia.

Tetapi setelah fakta yang jelas dapat dilihat bahwa ideologi kapitalis telah sangat gagal pun, masih banyak yang masih berharap dengan sistem tersebut…padahal islam juga memiliki konsep-konsep yang mumpuni untuk mengatasi krisis multidimensi tersebut plus ditambah keyakinan aqidah islam, bahwa Allah sebagai Sang Penciptalah yang berhak menetapkan aturan-aturan bagi ciptaannya. Banyak kitab-kitab yang membahas konsep-konsep islam baik pemerintahan, ekonomi, sosial, atau hukum. Sayangnya konsep-konsep dalam kitab seperti Nidzamul Iqtishadi, Nidzamul Hukmi, Nidzamul uqubat, Nidzamul Ijtimai jarang dibahas dikalangan kaum muslim. Sehingga kaum muslim tidak pernah tahu bahwa khadzanah ilmu islam sangatlah luar biasa dan sungguh merupakan satu-satunya solusi untuk mengatasi krisis saat ini secara total.

Memang jauhnya umat muslim akan pengetahuannya tidak lain adalah skenario media dan sistem kapitalis melalui kurikulum pendidikannya. Banyak kaum muslim tidak tahu para pemikir-pemikir besar khazanah islam, tapi pasti tahu dengan Nicolas Copernicus, Galileo Galilei, Archimedes, Aristoteles, atau James Watt yang selalu ada disetiap buku-buku sekolah. Konspirasi pendidikan pulalah yang dengan ‘kasarnya’ menghapus 14 abad sejarah pemerintahan islam dan mengangkat Mustafa Kemal Attaturk justru sebagai pahlawan pembaruan Turki. Kita pasti pernah mendapatkan pelajaran disekolah yang secara halus mengajarkan kita sejarah yunani(polis athena-sparta), romawi, persia yang tiba-tiba loncat menuju sejarah renaissence disisipi sejarah cina, dan nasional, kalaupun ada hanya dipaparkan sedikit masanya saja dinasti muawiyah, abasiyah dan ustmani yang tidak pernah dikaitkan dengan sejarah munculnya Islam di Jazirah Arab. Padahal jika mengkaji lebih dalam lagi, eropa dapat keluar dari masa “dark age” dengan renaissencenya tidak lain adalah sumbangsih dari berkembangnya peradaban islam pada saat itu dengan Granada sebagai kota paling terkenal sebagai kota ilmu pengetahuan dunia.

Banyak pemikir-pemikir muslim yang secara tidak adil ‘dibuang’ dari sejarah dunia. Penyokong teknologi al Kindi, al Razi, al Farabi, Miskawaih, ibnu Sina, al Kwarijmi, alchemy (ni lupa nama aslinya…), dan masih banyak lagi. Pemikir-pemikir hukum islampun seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Muhammad  bin Idris al-Syafi’I, Abu al-Ma’ali Abd al -Malik ibn Abdillah al-Juwaini, Abu Hamid al Ghazali, Aby Ya’la al-Farra’ al Hanbali, al-Dien Abu Bakr (Ibnu Qayyim al-jawziyah), abu Zaid al-Dabbusi, Muhammad Ibnu Ahmad Syams al-Aimmah al-Sarakhsi. Nama-nama diatas sepertinya sangat asing didengar dikalangan kaum muslim dibanding dengan Socrates atau Plato. Padahal nama-nama diatas melahirkan kitab-kitab berjilid-jilid dengan pembahasan-pembahasan komprehensi mengenai hukum.

Sangat salah jika kembali kepada aturan-aturan islam berarti kembali ke jaman batu dan memandulkan pikiran (orang JIL nih bilang kayak gini). Kembali pada aturan-aturan islam justru menaikkan kembali taraf berpikir umat, mensejahterakan umat, memberikan keadilan pada umat, melindungi umat dari penjajahan. Banyak khazanah islam yang sengaja ditutup-tutupi oleh sistem kapitalis. Para aktor dibelakang ideologi kapitalis berharap umat muslim memandang tinggi konsep-konsep yang mereka tawarkan, padahal umat islam telah memiliki pengetahuan yang luar biasa yang sayangnya kini hanya menjadi buku-buku pajangan di penjuru-penjuru perpustakaan dunia. Kewajiban setiap muslim saat ini untuk melakukan transformasi umat, mengembalikan pemahaman islam yang komprehensif kepada umat, dan menerapkannya dalam sebuah aturan islam melalui instrumen Daulah islam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: