Start to Write

Otodidak, Pilihan atau Keharusan? Minimalizing Knowledge Gap

Posted in About My Mind, Informatics Idea by eecho on November 24, 2008

Di jaman internet saat ini dunia telah menjadi ‘flat’, setiap individu di penjuru dunia kini dapat langsung berkompetisi tanpa halangan ruang dan waktu, yang menjadi penilaian adalah kompetensi. Konsep ‘flat’ inipun membuat individu kini dapat berkompetisi secara langsung dengan tim atau perusahaan sekalipun, walau bukan sebuah pertarungan yang fair jika seorang individu harus melawan sebuah perusahaan.

Ada sebuah anugrah dengan adanya internet, arus aliran informasi dan pengetahuan pada negara-negara maju kini menjadi lebih deras dan dapat diakses di belahan dunia manapun. Hal itu setidaknya dapat mengurangi ‘gap’ knowledge antara negara berkembang dan negara maju. Dimana saya yang fokus di dunia IT sangat-sangat terbantu dengan adanya internet saat ini.

Tetapi setelah menelusuri ‘komunitas maya’ yang mayoritas kontributor2-nya dari negara maju, memberikan sebuah gambaran bahwa knowledge gap itu masih cukup besar. Pada sebuah komunitas ‘application framework’ saya menemukan seorang kontributor yang umurnya masih 20tahunan, yang dapat memberikan sebuah ‘knowledge’ yang cukup mendalam dan orisinal hasil kreatifitasnya. Kemudian dari milis-milis yang saya ikuti, kontributor2 negara maju biasanya sangat mengetahui teknologi yang digunakan sehingga paradigmanya tidak lagi sebagai user tetapi sebagai ‘developer’ memberikan masukan-masukan kepada komunitas untuk perbaikan-perbaikan pada aplikasi(software). Sedangkan saya hanya baru bisa bertanya, bagaimana menjalankan ini dan itu, masih sebagai user.

Pertama saya merasa itu hal yang wajar, karena memang asal muasal teknologi itu dari negara-negara berkembang. Wajar kan toh fasilitas edukasi kita masih kalah dibanding mereka. Tetapi setelah berdiskusi dengan teman yang sedang belajar di sono no, ada aspek pendidikan kita yang tidak efisien, dan membuat pemahaman akan keilmuan kita menjadi ‘setengah-setengah’.  Klo kt temen saya itu disana belajarnya tuh “praxis oriented”, yang dalam bahasa lainnya mungkin bisa disederhanakan dengan “knowing, doing, and being context” (ngutip judul buku). Maksudnya?

Jadi sistem pembelajaran di negara maju kasus temen saya di jerman (untuk tingkat universitas), ternyata kontak dengan industrinya itu cukup kuat. Artinya setiap hal yang dipelajari dapat di’test’ langsung di dunia nyata yaitu dunia bisnis(industri). Saya jadi inget ada universitas di berlin (lupa) dalam sebuah tayangan televisi, jadi di univ itu ada ‘perusahaan’ dalam kampus, mahasiswa-mahasiswa disitu banyak yang magang disitu dan infrastruktur kampus pun seperti ‘menyatu’ dengan infrastruktur perusahaan walaupun pengelolaan detailnya saya gak tau gimana, jadi universitasnya dah High Tech (BJ Habibie bilang). Dengan begitu mahasiswa-mahasiswa dapat mengetahui gambaran dimana ilmunya akan diimplementasikan. Ato seperti MIT, Carnegie yang banyak melakukan penemuan untuk dimanfaatkan di dunia industri (dunia real) dan saling timbal balik (industri membiayai risetnya). Berbeda dengan di Indonesia yang ikatan universitas ama industri nya gak ‘deket-deket’ amat, sehingga banyak kasus yang bidang kerjanya tidak sejalan dengan jurusan yang dia ikuti waktu di Universitas.

Bagi orang yang diberi kesempatan untuk S2/S3 mungkin merasakan hal yang berbeda, dia dapat menspesialisasikan ilmunya, tetapi sekali lagi tanpa ada proses sinergi dengan dunia industri, anak S2 pun mungkin saja masih wandering ketika dia harus memilih pekerjaan mana yang seharusnya dia pilih. Apalagi bagi anak S1, yang pengetahuannya masih umum, kalau ngutip dosen saya bilang “Anak S1 itu adalah orang yang siap belajar”, jadi belum siap pakai karena harus diberi waktu untuk belajar terlebih dahulu. Saya sih setuju2 aja dengan kata2 siap belajar….tapi kok baru S1 ya baru siap belajar, kenapa gak dari dulu-dulu…padahal orang-orang diujung dunia sana sudah siap pakai dan siap berkompetisi walau dengan kapasitas keilmuan S1.

Jika secara potensi saya tidak meragukan orang-orang Indonesia, tetapi tanpa proses sinergi dengan industri, potensi-potensi itu tidak secara maksimal dapat dikembangkan. Orang-orang yang berprestasi lebih senang pergi keluar negeri karena disana mereka memiliki fasilitas untuk mengaplikasikan keilmuannya. Alternatif lain dimana seseorang menciptakan lapangan industri dengan berentrepreneur untuk di Indonesia kadang tidak terlalu didukung, tidak ada policy tuk ‘membantu’ entrepreneur yang baru terjun dengan dukungan dana dan keilmuan dari pemerintah (ato saya gak tau?). Padahal untuk proses alih teknologi dari negara maju harus ada instrumen industri yang dapat mengaplikasikan teknologi tersebut. Klo gini caranya Indonesia bakal jadi user terus.

Dengan adanya internet sebenarnya bisa sih indonesia cukup mengangkat dirinya dan mempercepat proses alih teknologi dari negara-negara maju….Otodidak! Sebenarnya definisi otodidak ini harus diperjelaskembali. Kadang orang membatasi diri dengan proses belajar hanya bisa sempurna dilakukan melalui lembaga pendidikan (D1, D2, … S1, S2, S3), dan menganggap proses otodidak hanya menghasilkan pemahaman yang tidak sistematis, serabutan, tidak metodologis, dll. Atau klo bahasa IF tuh, anak S1 tingkatannya dah analis bukan programmer lagi, klo belajar programming secara otodidak sampai kapanpun akan tetap jadi programmer….apa betul?

Ada deskripsi yang dapat menjelaskan otodidak dengan lebih baik:
Informal learning is by definition unsystemized and depends upon learner’s self motivation to direct their own learning. Sometimes referred to as autodidactism, informal learning is the most common type of learning, in fact it is so common that many participants do not even recognize that they are learning when they investigate or research a topic of interest. In a self-reported survey of 1562 adults in 1998, Livingstone (1999) found that Canadians were averaging about 15 hours a week in informal learning activities. Self-directed learning is however rarely credential zed or recognized by accrediting bodies, professions or employers. The recent and continuing availability of learning and information resources on the Net has created opportunities for very significant improvements in the capacity to engage in informal learning (Candy, 2004). Proponents of Self-directed learning often hold antagonistic attitudes towards formal education systems which they see as monopolistic, coercive and inefficient. This sense was captured by Albert Einstein’s famous quote that “The only thing that interferes with my learning is my education.”

Jadi sebenarnya yang membedakan otodidak atau tidak adalah tuntutannya, klo otodidak tuntutannya sepenuhnya dari diri sendiri, arahan, metode, cara semua ditentukan oleh diri sendiri, sedangkan akademis tuntutannya dari universitas/lembaga pendidikan. Menurut saya baik otodidak maupun tidak semuanya sama-sama dapat menghantarkan pada tingkat keilmuan yang sama. Tetapi karena arahan, metode otodidak ditentukan oleh diri sendiri, setiap otodidakers (istilah sendiri ini mah) harus benar-benar mengetahui metodologi yang baik dalam berotodidak.

Mengapa harus otodidak? Ya bener kata einstein “satu hal yang menghalangi proses belajar saya adalah pendidikan (akademis)”. Justru dengan otodidak kita dapat mengembangkan seluas-luasnya dan sedalam-dalamnya objek yang ingin dipahami tanpa terikat dengan batasan-batasan tingkat akademis (S1, S2, S3), yang penting adanya akses informasi/pengetahuan untuk mendalami ilmu-ilmu itu. Apalagi bagi orang-orang yang tidak memiliki akses pendidikan(akademik), otodidak mau tidak mau menjadi satu-satunya solusi untuk dia bisa tetap ‘stay tune’ dengan dunia.

Dari pengalaman saya, kadang (sebagian besar) saya justru banyak belajar mengenai bagaimana mengimplementasikan pengetahuan yang saya miliki  bukan dari bangku kuliah, tetapi dari dunia nyata atau informasi di Internet. Internet sebenarnya telah memberikan akses kepada paper2, buku2, bahkan profesor2 yang bisa kita tanya selama kita punya akses internet. Tetapi karena pokok2 pembahasan itu kadang tidak terkait secara langsung, memfilter, mengkategorikan dan memverifikasi informasi yang didapat menjadi hal yang sangat penting. Sehingga kita tetap dapat fokus terhadap subjek yang sebenarnya ingin kita pelajari.

Kemudian ada hal yang penting juga, sebagai otodidakers sangat disarankan memiliki komunitas untuk saling sharing, koreksi atas ilmu-ilmu yang dimilikinya. Tentunya kualitas komunitas akan berpengaruh terhadap knowledge yang akan didapat. Pada akhirnya knowledge gap dengan negara-negara maju dapat benar-benar diminimalisir ketika kita dapat dengan aktif terlibat, berkontribusi dalam komunitas pengetahuan yang melibatkan kontributor-kontributor di seluruh dunia yang memahami teknologi dengan secara mendalam. Kemudian kita dapat menularkannya (mentranslasikannya) kepada komunitas-komunitas lokal untuk bisa meningkatkan tingkat kompetensi dalam negeri.

Untuk benar-benar menghilangkan knowledge gap memang tak bisa secara individu, membutuhkan tangan yang lebih besar….pemerintah!!! IPTN bisa membuat N250 karena dukungan finansial dari negara (Pak Habibie sendiri tidak akan mungkin mampu), tidak mungkin seorang individu dapat mengalahkan sebuah negara.

You can’t do it by yourself, no matter how smart you are. Markets move too quickly, technologies grow too complex, and too many smart people are investing too much time and money in innovation. And, by the way, lots of those smart people are working in teams, trying to beat you out. (Steve Jobs)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: