Start to Write

Indonesia Menuju Kebangkrutan, Siaga satu

Posted in Islam, Politics by eecho on December 23, 2008

Judul diatas terkesan hiperbola, apakah hiperbola? Menurut saya tidak, tetapi mungkin banyak orang yang merasa tidak terima dengan pernyataan tersebut. Setelah krisis ekonomi 1997 pemerintah dianggap(red: menganggap dirinya sendiri) berhasil meningkatkan perekonomian negara, dimana persentase pertumbuhan ekonomi secara ‘non real’ yang selalu dikedepankan, bahkan sering dimunculkan informasi2 itu disalah satu iklan sebuah partai…”pertumbuhan ekonomi sebesar 6%, paling tinggi yang pernah ada”….padahal jika dilihat secara fundamental, tanda-tanda Indonesia menuju kebangkrutan sangat terlihat dengan jelas.

Salah satu indikasinya adalah percepatan banyaknya UU yang bersifat kapitalisme, yang terakhir adalah UU BHP (Badan Hukum Pendidikan), yang membatasi tanggung jawab pemerintah dalam mendanai Sekolah dan Universitas. Sebelumnya banyak UU yang bersifat kapitalistik seperti UU migas, UU SDA, dan UU Minerba, yang semuanya bermuara pada penggadaian sumber daya-sumber daya dalam negeri untuk dikelola asing. Selain itu, pada tahun 2009 direncanakan penjualan BHMN-BHMN strategis yang berada dalam kondisi sehat dengan dalih ‘mengoptimalkan’ kinerja BHMN2 tersebut. Mengapa ini indikasi menuju kebangkrutan? Karena ibarat seseorang yang sedang ‘defisit’ maka dia mengencangkan ikat pinggangnya (red: pengeluaran), akan menjual apapun untuk dapat melanjutkan hidupnya kedepan, tetapi sayangnya kebijakan ‘penggadaian’ aset-aset ini justru akan menggiring kita kepada kehancuran, semua rakyat Indonesia.

Karena kebijakan penggadaian tersebut, kekuatan ekonomi Indonesia akan makin lemah, sehingga pemerintah lebih memfokuskan pendapatan-pendapatannya dari sektor pajak yang kini menjadi sektor pendapatan terbesar pemerintah, sekitar 70% dari seluruh pendapatan Indonesia. Ironis, ketika rakyat membutuhkan ‘bantuan’ untuk meningkatkan kemampuan ekonominya justru pemerintah membebaninya dengan pajak-pajak yang dapat kita temui dari hulu sampai hilir rantai produksi. Hal ini dikarenakan pemerintah kini ‘lebih besar pasak dari pada tiang’, dengan devisa negara yang semakin menurun (sekarang sekitar Rp. 342 Triliun) jauh dibawah jumlah total hutang yang sekitar Rp 1.300 Triliun, dimana untuk cicilan hutang dan bunganya pertahunnya pemerintah butuh mengeluarkan dana sekitar Rp. 80 Triliun. Dalam keadaan ‘terjepit’ tersebut pemerintah terpaksa berhutang kembali, yang dimana jumlah pinjaman tersebut tidak dapat memenuhi kewajibannya pada tahun yang sama (pemerintah akan menambah hutang sebesar Rp 20 Triliun).

Oleh karena itu, dalam keadaan yang ‘sekarat’ secara ekonomi tersebut, pemerintah berusaha dengan keras untuk mengurangi tanggung jawabnya terhadap rakyat, baik dengan komersialisasi pendidikan, komersialisasi kesehatan, penggadaian SDA, bahkan penggadaian integritas bangsa (kasus Indosat). Bukankah ini jelas bahwa kita sedang menggali kuburan sendiri? Kalau pernyataan itu cukup kasar, mungkin lebih tepat kalau kita sedang bersiap-siap menjadikan diri kita sebagai budak asing, karena tidak lagi memiliki kekuatan finansial dan juga politik. Para pemimpin tidak ‘berkutik’ lagi ketika menghadapi permintaan-permintaan negara pendonor, karena tidak memiliki bargaining position, karena hutang-hutang telah mengikat mereka. Akibatnya kapitalisasi UU bermunculan disetiap aspek kehidupan negeri ini….menyedihkan. DPR tidak lagi layak disebut sebagai wakil rakyat, karena kebijakan2nya hanyalah permintaan orang-orang yang punya duit, sedangkan buruh, rakyat miskin, dan rakyat kecil tidak dianggap lagi sebagai rakyat. Apa yang salah dari negara ini?

Indonesia yang kaya raya baik SDA dan juga SDM, sungguh ironis jika tidak dapat menghidupi rakyatnya sendiri sehingga muncul kasus busung lapar dan kematian karenanya. Para pakar pemerintahan dan politik kita berpikir dengan keras mengenai permasalahan yang terjadi, kebanyakan dari mereka memuarakan permasalahannya pada permasalahan korupsi. Kemudian dikatakanlah korupsi adalah sebagai sebuah budaya, personal hazard, tanpa pernah sedikitpun menyentuh…pertanyaan “apakah mungkin sistem yang diterapkan yang salah?”, ketika sebuah pembalap gagal dalam sebuah balapan, setidaknya ada dua kemungkinan, apakah pembalapnya ataukah mobilnya yang salah? Apakah kita sudah terlalu dibutakan oleh doktrin-doktrin yang ada, sehingga tidak pernah menanyakan apakah demokrasi ini memang sebuah solusi atau masalah?

Dengan kepayahan-kepayahan negeri ini yang semakin akut, banyak rakyat merasa memiliki harapan ketika event lima tahunan datang. Event pemilu dianggap sebagai satu-satunya solusi untuk bisa mengangkat Indonesia dari keterpurukannya. Mungkin orang banyak menganggapnya seperti itu, tetapi bagi saya itu adalah sebuah harapan semu, karena pemilu tidak memberi solusi fundamental dari permasalahan yang ada, tidak mencabut akar dari semua penyakit yang ada, tidak mengobati penyakit utama. Pemilu hanya mengganti orang-orangnya tetapi tidak mengganti ‘paradigma dasar’ dari aturan-aturan yang ada saat ini.

Keberadaan pemilu tidak mengubah aturan-aturan ekonomi ribawi, ekonomi spekulatif non real. Pemilu tidak mengubah kapitalisasi SDM dan SDA, tidak mengubah komersialisasi pendidikan dan kesehatan. Pemilu tidak mengubah sistem sosial dimana terjadi ‘westernisasi’ dimana-mana, drugs, free sex, pornografi, dan pornoaksi. Pemilu tidak akan memberikan kesadaran bagi rakyat mengenai kondisi real bangsa ini. Pemilu tidak akan membuat Indonesia terlepas dari penjajahan neoimprealisme barat. Bagi saya pemilu hanya sebuah pembodohan, hanya slogan-slogan tak bermakna dan foto-foto orang yang tak dikenal yang dipublikasikan lewat media cetak, maupun televisi. Hanya mengganti orang tanpa mengubah aturan dasar dari sistem demokrasi saat ini tidak akan menyelesaikan permasalahan yang ada, layaknya sebuah perahu yang bocor dan akan tenggelam, para awak hanya sibuk mengeluarkan air tapi tidak pernah menambal kebocoran tersebut.

Demokrasi tidak dapat membuktikan dirinya dapat mengeluarkan kita dari persoalan multidimensi, kapitalisme telah menunjukkan kebobrokannya. Tetapi kenapa kita masih ‘istiqamah’ dengan sistem ini, padahal Allah telah menurunkan aturan yang sempurna dalam islam. Tataran ekonomi, politik, sosial, semuanya diatur dalam islam baik skala individu, masyarakat maupun negara (daulah khilafah). Sebelum masa kehancuran datang dikarenakan sistem kapitalis ini, saatnya semua orang berpikir kembali mengenai dirinya, masyarakat, negara, aturan-aturan yang ada, apakah bisa sistem demokrasi kapitalistik ini mengeluarkan kita semua dari permasalahan yang ada? Di dunia dan di akhirat?

I’ts time to us to wake up!!! Buka mata, buka pikiran!!! Sudah saatnya rakyat disadarkan dari semua pembodohan-pembodohan yang ada!!! Sudah saatnya para ulama mengingatkan seluruh bangsa akan urgensitas penerapan syariat islam secara kaffah!!! Bukan saatnya para muslim masih takut menyuarakan islam di tengah-tengah masyarakat!!! Karena jika bukan saat ini, niscaya kita akan tenggelam bersama dengan aturan-aturan kapitalisme saat ini.

“Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai. ” (7:179)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: